
Bingung membedakan gejala flu, COVID, dan alergi pada anak? Kenali perbedaannya, kapan perlu tes, dan tanda bahaya yang perlu diperhatikan Mommies.
Hidung mulai meler, tenggorokan terasa gak nyaman, lalu anak bersin-bersin. Atau tiba-tiba badan terasa pegal, batuk muncul, dan suhu tubuh mulai naik.
Sebagai orang tua, situasi seperti ini mungkin sudah cukup sering terjadi. Masalahnya, gejala flu, COVID-19, dan alergi bisa terlihat mirip, terutama di awal, sehingga gak selalu mudah mengetahui penyebabnya hanya dari apa yang kita lihat.
Apalagi kalau yang sakit anak. Baru bersin beberapa kali saja, pikiran Mommies mungkin sudah ke mana-mana.
“Ini cuma alergi, ya?”
“Jangan-jangan flu?”
“Atau COVID?”
Sebenarnya, ada beberapa pola gejala yang bisa membantu Mommies mendapatkan gambaran awal. Namun, penting diingat bahwa gejala saja gak selalu cukup untuk memastikan seseorang terkena flu atau COVID-19. WHO juga menjelaskan bahwa keduanya memiliki banyak gejala yang sama sehingga pemeriksaan dapat diperlukan untuk membedakannya.
Lantas, bagaimana cara mengenali gejala flu, COVID, dan alergi?
BACA JUGA: 10 Obat Radang Tenggorokan dan Flu yang Bisa Dibeli di Apotek, Harga Mulai dari Rp3.000

Secara sederhana, flu dan COVID-19 sama-sama merupakan infeksi saluran pernapasan, tetapi disebabkan oleh virus yang berbeda. Sementara itu, alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap zat tertentu yang dianggap sebagai ancaman, misalnya serbuk sari, debu, tungau, atau alergen lainnya.
Karena penyebabnya berbeda, gejalanya pun bisa memiliki pola yang berbeda. Namun, ada cukup banyak gejala yang tumpang tindih sehingga Mommies memang gak selalu bisa langsung membedakannya.
Salah satu petunjuk yang bisa diperhatikan adalah demam dan rasa pegal. Keduanya lebih sering muncul pada infeksi seperti flu atau COVID dibandingkan alergi. Sebaliknya, bersin berulang yang disertai hidung atau mata terasa gatal dan berair lebih khas pada alergi. Data CDC terbaru juga menunjukkan bahwa seasonal allergy menjadi kondisi alergi yang paling umum didiagnosis pada anak usia 0–17 tahun dalam data tahun 2024.
Tapi tetap ingat, Mommies: ini hanya petunjuk, bukan cara untuk mendiagnosis sendiri.
Flu atau influenza merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza.
Salah satu ciri yang cukup khas adalah gejalanya dapat muncul secara tiba-tiba. Seseorang yang sebelumnya masih beraktivitas normal bisa mendadak merasa sangat lelah, demam atau meriang, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan pegal-pegal. WHO juga menyebut flu umumnya ditandai dengan onset yang mendadak, demam, batuk, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, serta rasa tidak enak badan.
Hidung tersumbat atau berair juga bisa muncul. Pada anak, gejala flu dapat disertai keluhan saluran pencernaan seperti muntah atau diare.
Jadi, kalau anak tiba-tiba bilang badannya sakit semua, terlihat sangat lemas, lalu disusul demam dan batuk, flu bisa menjadi salah satu kemungkinan.
Tapi jangan langsung menyimpulkan flu hanya dari gejala tersebut, ya, Mommies. COVID-19 juga dapat menyebabkan demam, batuk, sakit tenggorokan, kelelahan, sakit kepala, nyeri tubuh, dan hidung berair atau tersumbat.
COVID-19 juga dapat menimbulkan gejala yang sangat mirip dengan flu.
Menurut WHO, gejala yang paling umum pada varian SARS-CoV-2 yang saat ini beredar adalah demam, menggigil, dan sakit tenggorokan. Gejala lain yang dapat muncul antara lain kelelahan, nyeri otot, hidung tersumbat atau berair, bersin, sakit kepala, batuk, sesak napas, serta mual, muntah, atau diare.
Salah satu gejala yang cukup dikenal sejak awal pandemi adalah hilangnya atau berubahnya kemampuan mencium dan mengecap. Namun, jangan menjadikan gejala ini sebagai satu-satunya patokan karena gak semua orang dengan COVID-19 mengalaminya.
Begitu juga dengan demam. Tidak mengalami demam bukan berarti seseorang pasti bukan COVID-19. Gejalanya dapat berbeda-beda pada setiap orang.
Itulah kenapa ketika seseorang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan, Mommies gak bisa memastikan “ini flu” atau “ini COVID” hanya dari gejala. WHO menegaskan bahwa kedua penyakit tersebut memang sulit dibedakan berdasarkan gejala saja dan pemeriksaan dapat digunakan untuk mengetahui virus penyebabnya.
Nah, ini yang sering bikin bingung.
Anak bersin berkali-kali, hidungnya meler, lalu Mommies berpikir, “Wah, kayaknya flu.”
Padahal, bisa saja yang terjadi adalah alergi.
Pada rinitis alergi, gejala yang umum antara lain bersin, hidung berair atau tersumbat, serta rasa gatal pada hidung. Mata juga dapat menjadi merah, berair, atau terasa gatal. CDC juga mencatat bahwa seasonal allergy pada anak dapat ditandai dengan bersin, batuk, hidung berair, dan mata gatal.
Rasa gatal ini bisa menjadi salah satu petunjuk yang cukup membantu.
Kalau anak terus bersin, hidung berair, matanya gatal dan berair, tetapi tidak disertai demam atau badan terasa sangat pegal, alergi bisa lebih mungkin dibandingkan infeksi seperti flu.
Alergi juga biasanya berkaitan dengan paparan pemicu tertentu. Misalnya, gejala muncul setelah anak berada di ruangan berdebu, berada di dekat hewan tertentu, atau terpapar alergen yang memang menjadi pemicunya.
Selain itu alergi sering terjadi di waktu tertentu, terutama malam (nokturnal) dan dini hari.
Namun, jangan menjadikan satu gejala sebagai “tes alergi” sendiri. Kalau keluhannya sering berulang atau sampai mengganggu aktivitas dan tidur anak, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.
Jawabannya: gak selalu.
Flu dan COVID-19 sama-sama dapat menyebabkan demam, batuk, sakit tenggorokan, hidung berair atau tersumbat, sakit kepala, kelelahan, serta nyeri tubuh. WHO secara khusus menjelaskan bahwa kedua penyakit ini memiliki banyak gejala yang sama sehingga sulit dibedakan hanya berdasarkan gejala.
Memang ada pola yang bisa memberikan petunjuk. Flu, misalnya, cenderung memiliki onset yang lebih mendadak, sedangkan COVID-19 memiliki variasi gejala yang cukup luas.
Namun, pola tersebut bukan diagnosis.
Jadi, daripada sibuk menebak dari satu gejala, lebih baik Mommies melihat kondisi anak secara keseluruhan. Jika memang ada alasan untuk mencurigai COVID-19, pemeriksaan dapat membantu memastikan penyebabnya. WHO juga menyebut bahwa testing merupakan cara untuk membedakan influenza dan COVID-19 ketika gejalanya serupa.

Untuk flu dan alergi, perbedaannya terkadang lebih mudah terlihat, terutama ketika gejala alergi yang khas muncul.
Anak dengan alergi lebih mungkin mengalami bersin berulang, hidung berair, serta mata dan hidung yang terasa gatal. Sementara itu, flu lebih sering disertai rasa sakit pada tubuh, kelelahan, sakit tenggorokan, batuk, dan demam atau meriang.
Mommies juga bisa memperhatikan pola munculnya gejala.
Kalau setiap kali anak berada di tempat tertentu atau terkena pemicu tertentu keluhannya kembali muncul, kemungkinan alergi bisa lebih besar. Sebaliknya, kalau gejalanya muncul mendadak dan disertai demam serta badan terasa sakit, infeksi seperti flu lebih mungkin menjadi penyebab.
Tapi lagi-lagi, gak semua orang mengalami pola yang sama.
Alergi juga bisa membuat anak merasa lelah karena gejalanya mengganggu tidur. Jadi, rasa lelah saja bukan berarti otomatis menunjukkan adanya infeksi.
Kalau gejalanya ringan, Mommies mungkin bisa memantau kondisi anak terlebih dahulu sambil memastikan ia cukup minum dan mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
Namun, bila ada kemungkinan COVID-19 dan hasil pemeriksaan akan memengaruhi langkah perawatan atau pencegahan penularan, tes COVID-19 dapat membantu memberikan kepastian. WHO juga menyarankan pemeriksaan karena gejala COVID-19 dan flu sulit dibedakan hanya dari keluhan yang dirasakan.
Untuk flu, pemeriksaan juga dapat dipertimbangkan dalam kondisi tertentu, terutama ketika hasilnya akan membantu dokter menentukan penanganan.
Mommies juga gak perlu menunggu kondisi menjadi sangat parah untuk berkonsultasi, terutama jika anak masih sangat kecil atau memiliki kondisi kesehatan tertentu yang membuatnya lebih berisiko mengalami komplikasi.
Sebagian besar infeksi saluran pernapasan dapat membaik dengan perawatan yang tepat. Namun, ada beberapa tanda yang sebaiknya gak dianggap sebagai “cuma flu”.
Segera cari pertolongan medis jika anak mengalami kesulitan bernapas, napas terasa sangat berat, nyeri atau tekanan di dada, kebingungan, sangat mengantuk atau sulit dibangunkan, atau menunjukkan perubahan warna kulit menjadi pucat atau kebiruan. WHO mencantumkan tanda-tanda tersebut sebagai gejala berat yang membutuhkan pertolongan medis segera.
Mommies juga perlu memperhatikan kondisi anak secara keseluruhan. Kalau anak terlihat semakin lemas, sulit minum, atau kondisinya memburuk setelah sempat membaik, jangan ragu untuk menghubungi dokter.
Untuk reaksi alergi, pembengkakan pada bibir, lidah, wajah, atau tenggorokan, terutama jika disertai kesulitan bernapas, adalah kondisi yang perlu segera diatasi di rumah sakit.
BACA JUGA: Cara Membersihkan Rumah Setelah Isolasi Mandiri Covid-19
Mommies mungkin gak akan selalu bisa langsung tahu apakah anak sedang mengalami flu, COVID, atau alergi hanya dengan melihat satu atau dua gejala.
Hidung meler bisa muncul pada ketiganya. Batuk juga bisa. Begitu pula rasa lelah dan sakit tenggorokan.
Yang bisa dilakukan adalah memperhatikan pola gejala, kapan keluhan mulai muncul, apakah ada demam, apakah mata atau hidung terasa gatal, apakah ada paparan terhadap pemicu alergi, serta bagaimana kondisi anak secara keseluruhan.
Dan kalau masih ragu, gak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter. Untuk flu dan COVID-19, pemeriksaan memang bisa diperlukan karena gejalanya sangat mirip dan keduanya bahkan bisa terjadi bersamaan.
Karena sebagai orang tua, kita memang sering ingin punya jawaban secepat mungkin ketika anak sakit. Tapi untuk beberapa kondisi, jawaban yang paling aman bukan selalu hasil dari menebak gejala sendiri.
Kadang, yang paling penting justru tahu kapan cukup memantau di rumah dan kapan waktunya meminta bantuan tenaga medis.
Artikel direview oleh: dr. Desiana Dharmayani Sp. A dari Primaya Evasari Hospital.
Cover: Magnific