Sorry, we couldn't find any article matching ''

Jennie’s Law Disahkan di Irlandia, Ini yang Perlu Mommies Ajarkan ke Anak soal Red Flag dalam Pacaran
Jennie’s Law di Irlandia jadi pengingat pentingnya edukasi anak soal red flag dalam pacaran dan tanda hubungan yang gak sehat.
Kalau anak Mommies sudah mulai memasuki usia remaja, mungkin ada satu fase yang perlahan ikut datang: mulai tertarik dengan seseorang, punya gebetan, atau bahkan mulai pacaran.
Sebagai orang tua, rasanya campur aduk. Mau melarang, takut anak malah sembunyi-sembunyi. Tapi kalau dibiarkan begitu saja, Mommies juga tentu ingin memastikan anak tahu bagaimana hubungan yang sehat dan seperti apa perilaku yang seharusnya menjadi tanda bahaya.
Pembahasan soal ini kembali mendapat perhatian setelah Jennie’s Law resmi disahkan di Irlandia pada Juli 2026. Aturan tersebut lahir dari perjuangan keluarga Jennifer “Jennie” Poole, perempuan yang dibunuh mantan pasangannya pada April 2021 setelah sebelumnya mengalami kekerasan domestik.
Lalu, apa sebenarnya Jennie’s Law dan kenapa isu ini juga penting diketahui Mommies yang punya anak remaja?
Apa Itu Jennie’s Law?

Foto: Magnific
Jennie’s Law merupakan sebutan untuk legislasi di Irlandia yang memungkinkan adanya mekanisme untuk mengakses informasi mengenai riwayat putusan atau pelanggaran serius terkait kekerasan domestik dari seseorang.
Tujuannya bukan untuk membuat orang tua atau pasangan melakukan “background check” sembarangan terhadap setiap orang. Lebih jauh, aturan ini berangkat dari kebutuhan memberikan informasi yang dapat membantu seseorang mengenali potensi risiko kekerasan dalam hubungan dan membuat keputusan yang lebih aman. Dalam pembahasan di parlemen Irlandia, aturan tersebut disebut dirancang untuk menyediakan informasi dari sumber resmi mengenai riwayat pelanggaran serius yang dapat mengindikasikan meningkatnya risiko kekerasan domestik, seksual, atau berbasis gender.
Nama Jennie sendiri berasal dari Jennifer Poole, yang keluarganya kemudian melakukan kampanye selama bertahun-tahun agar pengalaman yang dialaminya tidak berhenti sebagai sebuah tragedi, tetapi menjadi dorongan untuk memberikan perlindungan lebih baik kepada orang lain.
Kenapa Isu Ini Relevan untuk Anak Remaja?
Mommies mungkin berpikir, “Anak saya masih SMA, memang sudah perlu diajari soal hubungan yang gak sehat?”
Justru menurut saya, edukasi soal hubungan sehat sebaiknya diberikan sebelum anak menghadapi situasi yang sulit, bukan setelah terjadi sesuatu. Remaja perlu tahu bahwa pacaran bukan hanya soal punya seseorang untuk diajak chat setiap malam atau mengunggah foto bersama, tetapi juga tentang rasa aman, menghargai batasan, kepercayaan, dan kemampuan mengatakan tidak.
Anak juga perlu memahami bahwa perilaku yang terlihat romantis di awal belum tentu selalu sehat. Rasa cemburu berlebihan, meminta akses penuh ke ponsel, menentukan dengan siapa anak boleh berteman, terus-menerus meminta lokasi, mengancam ketika keinginannya gak dituruti, atau membuat pasangan merasa bersalah karena ingin punya ruang sendiri bukanlah bentuk kasih sayang yang harus diterima begitu saja.
Ajarkan Anak Membedakan Cemburu dan Kontrol
Salah satu hal yang mungkin sulit dipahami remaja adalah perbedaan antara perhatian dan kontrol.
Misalnya, “Kabarin kalau sudah sampai, ya,” bisa menjadi bentuk perhatian. Tapi kalau berubah menjadi “Kamu harus kasih lokasi setiap saat dan aku berhak tahu kamu sama siapa,” situasinya sudah berbeda.
Mommies gak harus langsung mengatakan, “Pacar kamu toxic!” ketika mendengar cerita anak. Justru coba ajak anak berpikir, “Kamu merasa nyaman gak ketika dia melakukan itu?” atau “Kalau temanmu mengalami hal yang sama, menurut kamu itu wajar gak?”
Pertanyaan seperti ini membantu anak belajar menilai perilaku sendiri, bukan sekadar menghafalkan daftar red flag dari orang tua.
Anak Juga Perlu Tahu bahwa Kekerasan Gak Selalu Berupa Fisik
Ketika mendengar kata kekerasan dalam hubungan, mungkin yang langsung terbayang adalah tindakan fisik.
Padahal, perilaku yang merendahkan, mengintimidasi, mengisolasi seseorang dari teman dan keluarga, mengontrol aktivitas, atau menggunakan ancaman juga perlu dikenali sebagai tanda hubungan yang gak sehat.
Ini penting karena remaja bisa saja menganggap perilaku tersebut sebagai bentuk “sayang banget” atau “dia cemburu karena peduli”. Padahal, hubungan yang sehat seharusnya gak membuat seseorang merasa takut, tertekan, atau kehilangan kendali atas kehidupannya sendiri.
BACA JUGA: 15 Green Flag yang Wajib Dicari di Calon Pasangan, No.14 Penting!
Jangan Cuma Ajarkan Anak Mengenali Red Flag

Foto: Magnific
Ada satu hal yang menurutku gak kalah penting: jangan sampai edukasi ini hanya mengajarkan anak untuk mencari kesalahan orang lain.
Mommies juga perlu mengajarkan green flag dalam hubungan.
Misalnya, pasangan yang menghargai batasan, mau mendengarkan, gak memaksa ketika ditolak, menghormati pertemanan dan keluarga, bisa menyelesaikan konflik tanpa mengancam, serta gak menggunakan rasa bersalah untuk mendapatkan sesuatu.
Dengan begitu, anak gak hanya berpikir, “Pacarku gak boleh melakukan ini,” tetapi juga memahami, “Hubungan yang sehat seharusnya membuat aku merasa aman dan dihargai.”
Kalau Anak Sudah Punya Pacar, Haruskah Mommies Langsung Khawatir?
Belum tentu.
Memiliki ketertarikan atau hubungan romantis merupakan bagian yang bisa muncul dalam perkembangan remaja. Yang lebih penting adalah memastikan anak memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menjaga dirinya ketika berada dalam sebuah hubungan.
Daripada menjadikan pacaran sebagai topik yang selalu berujung pada ceramah, Mommies bisa memanfaatkan momen sehari-hari. Misalnya ketika menonton film bersama, membahas hubungan karakter dalam drama, atau ketika anak bercerita tentang hubungan temannya.
Tanyakan saja, “Menurut kamu, yang dilakukan karakter itu termasuk perhatian atau mengontrol?”
Percakapan kecil seperti ini bisa menjadi latihan bagi anak untuk mengenali perilaku sehat maupun tidak sehat dalam hubungan.
Jennie’s Law Bisa Jadi Pengingat untuk Mommies
Perjuangan keluarga Jennie Poole pada akhirnya menghasilkan perubahan hukum yang ditujukan untuk membantu melindungi orang lain. Keluarganya mengatakan mereka tidak bisa mendapatkan Jennie kembali, tetapi berharap hukum tersebut dapat membantu mencegah orang lain mengalami tragedi serupa.
Bagi Mommies di Indonesia, tentu konteks hukumnya berbeda. Jennie’s Law merupakan hukum Irlandia dan bukan aturan yang berlaku di Indonesia.
Namun, pesan yang bisa diambil jauh lebih universal: anak perlu dibekali kemampuan untuk mengenali hubungan yang aman, memahami batasan tubuh dan privasinya, serta tahu kepada siapa harus meminta bantuan ketika merasa gak nyaman atau terancam.
Karena pada akhirnya, Mommies gak mungkin selalu berada di samping anak ketika ia mulai punya hubungan sendiri.
Yang bisa kita lakukan adalah membekali mereka dengan satu hal yang akan ikut tumbuh bersama mereka: kemampuan mengenali apakah seseorang memperlakukannya dengan baik atau justru membuatnya kehilangan rasa aman.
Dan mungkin, edukasi seperti ini memang gak perlu dimulai dengan kalimat, “Nanti kalau kamu pacaran…”
Bisa dimulai sekarang, lewat obrolan sederhana.
“Menurut kamu, pasangan yang baik itu seperti apa?”
Dari jawaban anak, mungkin Mommies justru bisa tahu banyak hal tentang bagaimana ia melihat sebuah hubungan.
BACA JUGA: Kalau Anak Mulai Pacaran, 7 Tanda Kekerasan dalam Pacaran Ini Wajib Diperhatikan Orang Tua
Cover: Magnific
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS