Sorry, we couldn't find any article matching ''

Kalau Anak Mulai Pacaran, 7 Tanda Kekerasan dalam Pacaran Ini Wajib Diperhatikan Orang Tua
Kekerasan dalam pacaran tidak selalu dimulai dengan bentakan atau pukulan. Kenali 7 tanda kekerasan dalam pacaran pada remaja yang sering tidak disadari orang tua
Banyak orang tua merasa lega ketika anak mulai pacaran dengan seseorang yang terlihat baik, sopan, dan rajin menghubungi. Namun, kekerasan dalam pacaran tidak selalu dimulai dengan bentakan atau pukulan. Sering kali, tanda-tandanya muncul secara halus dan bahkan dianggap sebagai bentuk perhatian atau cinta.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk tetap peka terhadap perubahan perilaku anak saat sedang menjalin hubungan. Bukan untuk ikut campur berlebihan, tetapi agar anak memahami seperti apa hubungan yang sehat dan yang perlu diwaspadai.

Foto: Andre Hunter on Unsplash
Berikut beberapa tanda yang perlu diperhatikan:
1. Anak Jadi Sulit Lepas dari Ponselnya

Foto: Sixteen Miles Out on Unsplash
Wajar jika orang yang sedang jatuh cinta sering bertukar pesan. Namun, hati-hati jika anak terlihat cemas setiap kali terlambat membalas chat, atau merasa harus selalu memberikan kabar setiap saat.
Kalimat seperti, “Lagi di mana?”, “Sama siapa?”, atau “Kok nggak balas?” yang muncul terus-menerus bisa menjadi tanda pasangan mulai terlalu mengontrol.
Hubungan yang sehat tetap memberikan ruang pribadi bagi masing-masing pihak.
2. Mulai Menjauh dari Teman dan Keluarga
Perhatikan jika anak yang biasanya dekat dengan keluarga atau aktif bersama teman tiba-tiba lebih sering menghilang atau menolak ajakan berkumpul.
Kadang pasangan yang posesif secara perlahan membuat anak merasa harus memilih antara hubungan asmara atau lingkungan terdekatnya.
Padahal, hubungan yang sehat justru mendukung seseorang tetap memiliki kehidupan sosial yang seimbang.
BACA JUGA: 15 Pesan Ayah untuk Anak Perempuan Mereka Sebelum Berpacaran
3. Sering Minta Izin untuk Hal-Hal Kecil
Apakah anak mulai merasa harus meminta persetujuan pasangan untuk memilih baju, ikut kegiatan sekolah, bertemu teman, atau bahkan menentukan hobi? Jika iya, bisa jadi ada pola kontrol yang mulai terbentuk.
Pasangan boleh memberi masukan, tetapi tidak seharusnya mengambil alih keputusan pribadi seseorang.
4. Anak Terlihat Lebih Sering Cemas atau Takut
Salah satu tanda yang sering luput adalah perubahan emosi. Misalnya, anak menjadi lebih mudah gelisah, takut membuat kesalahan, atau khawatir jika pasangan marah.
Ketika hubungan membuat seseorang merasa tidak nyaman, tidak bebas menjadi dirinya sendiri, atau terus berjalan di atas “kulit telur”, itu bukan pertanda hubungan yang sehat.
BACA JUGA: Bekali Anak Remaja Agar Dapat Saling Menghargai Saat Pacaran
5. Pasangan Terlalu Cemburu dan Menganggapnya Bukti Cinta
Banyak remaja menganggap rasa cemburu sebagai tanda sayang. Padahal, cemburu berlebihan bisa berkembang menjadi perilaku yang tidak sehat.
Misalnya:
- Melarang berteman dengan lawan jenis.
- Meminta akses media sosial.
- Menuntut mengetahui lokasi setiap saat.
- Marah saat anak menghabiskan waktu dengan orang lain.
Perilaku posesif dan kontrol berlebihan merupakan salah satu bentuk kekerasan emosional dalam pacaran yang perlu diwaspadai sejak dini.
6. Anak Mulai Menyalahkan Diri Sendiri Terus-Menerus
Ketika terjadi konflik, apakah anak selalu berkata:
“Ini salah aku.”
“Aku yang bikin dia marah.”
“Kalau aku nurut, dia nggak akan kesal.”
Pola pikir seperti ini perlu diwaspadai.
Dalam hubungan yang sehat, kedua pihak bertanggung jawab atas perilaku masing-masing. Tidak ada satu orang yang terus-menerus diposisikan sebagai penyebab semua masalah.
7. Harga Diri Anak Terlihat Menurun
Perhatikan jika anak yang sebelumnya percaya diri mulai sering meragukan dirinya sendiri. Misalnya:
Merasa tidak cukup cantik atau tampan.
Merasa tidak cukup pintar.
Takut ditinggalkan.
Sering membandingkan diri dengan orang lain karena komentar pasangan.
Pasangan yang sehat membantu seseorang bertumbuh dan merasa dihargai, bukan membuatnya kehilangan kepercayaan diri.
Yang Bisa Dilakukan Orang Tua
Ketika melihat tanda-tanda di atas, hindari langsung menghakimi atau melarang anak berpacaran. Reaksi yang terlalu keras justru bisa membuat anak semakin tertutup.
Sebaliknya:
- Bangun komunikasi yang terbuka.
- Dengarkan tanpa menghakimi.
- Ajak anak berdiskusi tentang batasan yang sehat dalam hubungan.
- Beri contoh seperti apa hubungan yang saling menghormati.
- Yakinkan anak bahwa ia selalu bisa bercerita kepada orang tua kapan pun merasa tidak nyaman.
- Yang paling penting, ajarkan bahwa cinta tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kebebasan, rasa aman, atau harga dirinya. Hubungan yang sehat membuat kedua pihak merasa dihargai, didukung, dan tetap bisa menjadi diri sendiri.
Sumber dari IG @duniapercil
Cover: Photo by Afif Ramdhasuma on Unsplash
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS