Sorry, we couldn't find any article matching ''

10 Cara Mengajarkan Literasi Keuangan kepada Anak Remaja Menurut Ahli, Bijak Mengelola Uang
Ingin anak remaja bijak mengelola uang dan terhindar dari utang maupun pinjol? Ini 10 cara mengajarkan literasi keuangan kepada anak remaja menurut ahli, mulai dari mengelola uang saku hingga menyusun anggaran bulanan.
Di era digital saat ini, dompet digital dan belanja online membuat anak remaja kian mudah bertransaksi. Sayangnya, banyak remaja belum dibekali keterampilan mengelola uang dengan bijak. Di sinilah pentingnya peran Mommies dan Daddies dalam memberikan edukasi keuangan. Mulai dari mengelola uang saku harian hingga menyusun anggaran bulanan, yuk, simak panduan dan cara mengajarkan literasi keuangan remaja menurut ahli agar mereka tumbuh mandiri dan bijak secara finansial.
Apa Itu Literasi Keuangan?
“Literasi keuangan itu simpelnya: seberapa paham seseorang soal uang. Bukan cuma tahu produknya apa, tetapi juga mengerti cara kerja, risiko, dan cara menggunakannya dengan bijak,” jelas Nadia Isnuari Harsya, CFP®, Independent Financial Consultant.
Bagi anak remaja, literasi keuangan mencakup pemahaman mendalam tentang konsep uang, kemampuan mengelola pendapatan, kebiasaan menabung serta berinvestasi, hingga penggunaan fasilitas kredit secara bijaksana. Memberikan pendidikan finansial kepada remaja sejak dini terbukti membantu anak menghindari berbagai kesalahan finansial, menekan potensi tumpukan utang di masa depan, sekaligus membangun fondasi kemandirian finansial jangka panjang.
Data terbaru dari OJK (SNLIK 2025) menunjukkan masih terdapat kesenjangan yang cukup lebar antara masyarakat yang menggunakan produk keuangan dan mereka yang benar-benar memahaminya. Tingkat literasi keuangan nasional naik dari 65,43 persen pada 2024 menjadi 66,46 persen pada 2025, sementara indeks inklusi keuangan meningkat dari 75,02 persen menjadi 80,51 persen. Artinya, lebih dari 80 persen masyarakat Indonesia telah menggunakan produk keuangan, seperti rekening bank, e-wallet, kartu kredit, hingga pinjaman online. Namun, hanya sekitar 66 persen yang benar-benar memahami cara kerja serta risikonya.
BACA JUGA: Prioritas Finansial untuk Orang Tua Baru, Apa yang Harus Didahulukan?
Bahkan, kesenjangan antara literasi dan inklusi keuangan semakin melebar, dari 9,59 persen menjadi 14,05 persen. Artinya, semakin banyak masyarakat menggunakan produk keuangan tanpa pemahaman yang memadai. (Kompas.id)
Analoginya, bayangkan kita diberi kunci mobil dan diminta mengemudi di jalan tol, tetapi belum pernah belajar cara mengerem dengan benar atau membaca rambu-rambu. Kita bisa mengendarai mobilnya (inklusi), tetapi belum tentu memahami cara mengendalikan risikonya (literasi). Inilah yang terjadi pada kondisi keuangan masyarakat saat ini. Banyak orang sudah menggunakan pinjaman online, kartu kredit, maupun investasi, tetapi belum memahami aturan mainnya, sehingga kasus pinjol ilegal maupun investasi bodong masih terus bermunculan.
Anak Bisa Dilatih Literasi Keuangan Sejak Dini
“Literasi keuangan sebenarnya bukan hanya soal angka dan hitung-hitungan, tetapi juga kemampuan menunda kesenangan (delayed gratification). Kemampuan ini bahkan bisa mulai dikenalkan sejak balita, jauh sebelum anak mengenal uang,” terang Nadia.
Setelah anak mulai memahami numerasi—umumnya pada usia 5–7 tahun—serta mampu berhitung dan membandingkan jumlah, orang tua dapat mulai memperkenalkan konsep uang secara konkret. Misalnya, memberikan uang Rp10.000 lalu mengajak anak berbelanja ke minimarket. Dari situ, anak belajar bagaimana uang tersebut cukup untuk membeli sesuatu, menyisihkan sebagian ke celengan, atau memilih antara jajan sekarang dan menabung demi membeli barang yang lebih besar.
Urutannya dilakukan secara bertahap, dimulai dengan melatih kesabaran dan kontrol diri sejak balita, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan konsep uang ketika anak sudah memahami numerasi.

Foto: kaboompics.com/Pexels
Prinsip Utama Literasi Keuangan untuk Remaja
Sebagaimana dipaparkan dalam panduan finansial di IN Education Online, terdapat lima pilar utama yang membentuk fondasi literasi keuangan remaja.
Pendapatan
Memahami dari mana uang berasal, termasuk usaha yang diperlukan untuk mendapatkannya, pajak pendapatan, dan potongan gaji.
Pengeluaran
Belajar menyusun anggaran bulanan pribadi, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memahami dampak inflasi terhadap daya beli.
Tabungan
Membiasakan menyisihkan dana untuk tujuan jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk membangun dana darurat.
Pinjaman
Memahami cara kerja utang, suku bunga, jangka waktu pembayaran, serta risiko pinjaman yang tidak terukur.
Perlindungan
Memahami pentingnya perlindungan finansial, seperti asuransi, kewaspadaan terhadap pencurian identitas, serta perencanaan keuangan masa depan.
BACA JUGA: Jenis Investasi yang Cocok untuk Pasangan Baru Menikah, Ini Tipsnya dari Pakar Finansial
Alasan di Balik Pentingnya Remaja Paham Literasi Keuangan
“Literasi keuangan penting banget dan semakin ke sini semakin urgent. Remaja sekarang berbeda jauh dari generasi sebelumnya. Mereka sudah memiliki akses langsung ke berbagai produk keuangan sejak dini, mulai dari marketplace, dompet digital, paylater, hingga pinjaman online. Semuanya hanya membutuhkan KTP dan nomor HP. Jika akses semudah itu tidak dibarengi pemahaman yang baik, remaja menjadi sangat rentan mengambil keputusan finansial yang keliru, bahkan sebelum memiliki penghasilan sendiri,” terang Nadia.
Mengutip panduan finansial di IN Education Online, pendidikan finansial remaja memberikan banyak manfaat.
- Mendorong tanggung jawab.
- Mencegah kesalahan finansial.
- Membangun kebiasaan menabung dan berinvestasi.
- Memupuk kemandirian finansial.

Foto: Ahsanjaya/Pexels
Risiko Jika Remaja Tidak Dibekali Literasi Keuangan
Nadia memberikan ilustrasi mengenai seorang remaja yang terbiasa melihat barang menarik di media sosial, mudah tergoda melakukan checkout impulsif, belum memiliki kebiasaan menabung, dan belum memahami konsep bunga maupun risiko utang.
Ketika muncul tawaran pinjol yang prosesnya hanya lima menit, mereka bisa tergoda untuk meminjam uang untuk membeli barang yang sebenarnya tidak mendesak. Padahal, di balik kemudahan tersebut terdapat konsekuensi berupa bunga pinjaman yang dapat menjadi beban berkepanjangan.
Masalahnya, semua ini bisa terjadi sebelum mereka memiliki penghasilan sendiri. Ketika tagihan datang, mereka tidak memiliki sumber dana untuk membayar, sehingga muncul lingkaran utang: meminjam lagi untuk menutup pinjaman sebelumnya. Padahal, secara hukum banyak dari mereka bahkan belum cukup umur untuk terikat kontrak pinjaman.
10 Cara Mengajarkan Literasi Keuangan kepada Anak Remaja
Berdasarkan saran para ahli yang dipublikasikan di Beyond Intelligence serta panduan praktis dari Mind.Family, berikut 10 cara mengajarkan literasi keuangan kepada anak remaja yang dapat diterapkan di rumah.
1. Mengajarkan Cara Mendapatkan Uang
Mommies dan Daddies dapat mendorong anak remaja mengeksplorasi pekerjaan paruh waktu sederhana atau kegiatan produktif sejak dini seperti menjadi tutor, babysitter, atau wirausaha kecil. Pengalaman ini mengajarkan mereka menghargai nilai kerja keras di balik uang yang diperoleh.
2. Membuka Rekening Bank Sendiri
Membantu remaja membuat rekening tabungan pertama merupakan langkah konkret mengenal sistem perbankan. Ajarkan cara memanfaatkan aplikasi mobile banking, memantau catatan transaksi, serta memahami biaya administrasi dan suku bunga.
3. Menanamkan Kebiasaan Berbagi
Anjurkan anak untuk menyisihkan sebagian uang saku untuk kegiatan amal atau aksi sosial di lingkungan sekitar. Langkah ini melatih empati sekaligus menanamkan pemahaman bahwa uang juga berfungsi untuk menciptakan dampak positif sosial.
4. Menyeimbangkan Menabung dan Berbelanja
Bimbing remaja untuk menetapkan skala prioritas tabungan, baik untuk keinginan jangka pendek maupun impian jangka panjang. Gunakan aplikasi anggaran agar mereka terbiasa memantau arus kas pribadi.
5. Memberikan Uang Saku Berbasis Tanggung Jawab
Berikan uang saku secara berkala yang dibarengi dengan aturan dan kesepakatan yang jelas. Kombinasikan uang saku dasar dengan insentif pencapaian tugas tertentu agar anak belajar disiplin mengelola alokasi dana.
BACA JUGA: 15 Ide Hustle untuk Remaja, Belajar Mandiri dan Mengatur Keuangan Sejak Dini
6. Melibatkan Anak dalam Menyusun Anggaran Bulanan
Libatkan remaja saat merencanakan anggaran bulanan keluarga. Pengalaman praktis ini membuka wawasan anak mengenai pengeluaran riil rumah tangga dan melatih kontrol diri dalam membatasi pengeluaran untuk hiburan.
7. Melatih Kemampuan Menunda Kesenangan
Ketika remaja menginginkan barang non-esensial, ajak mereka menunggu satu minggu hingga satu bulan sebelum membeli. Jika masih menginginkannya, dorong anak untuk ikut membiayai sebagian dari uang tabungannya.
8. Membangun Kebiasaan Finansial Sehat dan Menjadi Teladan
Jadilah role model yang baik dalam mengelola keuangan sehari-hari. Tunjukkan cara membayar tagihan tepat waktu dan hindari kebiasaan konsumtif tanpa membandingkan pencapaian finansial anak dengan orang lain.
9. Membiasakan Berbelanja Cerdas
Latih remaja untuk selalu melakukan riset dan membandingkan harga serta kualitas barang sebelum bertransaksi. Kebiasaan ini membentuk pola pikir konsumen yang kritis, cermat, dan tidak gampang tergiur oleh diskon semu.
10. Menyiapkan Dana Darurat Sejak Dini
Edukasi remaja tentang pentingnya simpanan dana darurat untuk situasi tak terduga. Bimbing mereka untuk menyisihkan persentase konsisten dari uang saku sebagai fondasi rasa aman finansial.
Cover: Ahsanjaya/Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS