Punya Anak Remaja Ternyata Lebih Menguras Mental Ibu Bekerja, Ini 3 Alasannya

#MommiesWorkingIt

Mommies Daily・in 4 hours

detail-thumb

Banyak yang mengira punya anak remaja lebih mudah. Nyatanya, fase ini justru paling menguras mental ibu bekerja. Simak tantangan, penjelasan pakar, dan cara mendampingi remaja tanpa kehilangan kewarasan diri.

Punya anak remaja ternyata menghadirkan tantangan baru bagi ibu bekerja. Simak alasan, pendapat pakar, dan cara menghadapi fase ini dengan lebih tenang.

Dulu, saat anak masih balita, rasanya tidak sabar menunggu mereka tumbuh besar. Tidak lagi harus begadang menyusui, mengejar anak lari ke sana-kemari, menggendong ke mana-mana, atau membawa tas bayi yang isinya sangat banyak.

Lalu mereka bertumbuh. Mandi sendiri, berangkat sekolah sendiri, bahkan lebih sering pergi bersama teman daripada bersama orang tua.

Namun, justru di fase inilah, sebagai ibu, saya menyadari satu hal: ternyata memiliki anak remaja tidak membuat beban pikiran berkurang. Yang berubah hanyalah bentuknya.

Kalau dulu lelahnya terasa di badan, sekarang lelahnya terasa di kepala.

Punya Anak Remaja Ternyata Lebih Menguras Mental Ibu Bekerja, Ini Alasannya

Foto: Mommies Daily

Di sela rapat kantor, tiba-tiba ingat si Kakak belum membalas chat sejak siang. Lagi pusing memikirkan deadline pekerjaan, tahu-tahu teringat semalam si adik yang minta waktu sendiri di kamar dan tidak mau diganggu karena sedang bad mood.

Fase remaja adalah masa ketika saya paling sering merasa bimbang. Ingin memberikan kepercayaan, tetapi juga takut terlambat menyadari bahwa anak sedang menghadapi masalah. Dan dilema itu datang hampir setiap hari.

Jika dulu anak membutuhkan kehadiran fisik, kini mereka membutuhkan kehadiran emosional. Sayangnya, justru itulah yang kadang sulit diberikan setelah seharian menghadapi pekerjaan.

Baca juga: Kalau Anak Remaja Makin Menutup Diri, Coba Ucapkan 10 Kalimat Ini

Tantangan Ibu Bekerja saat Memiliki Anak Remaja

Berikut beberapa tantangan yang paling sering dirasakan ibu bekerja saat memiliki anak remaja.

1. Anak Tidak Lagi Banyak Bercerita

Salah satu perubahan terbesar adalah komunikasi. Remaja mulai lebih mandiri, lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman, dan tidak selalu ingin berbagi cerita kepada orang tua.

2. Kekhawatiran Tidak Pernah Benar-Benar Hilang

Saat balita, ibu khawatir anaknya jatuh. Saat remaja, kekhawatiran itu bergeser menjadi:

  • pergaulan;
  • kesehatan mental;
  • tekanan akademik;
  • media sosial;
  • vape;
  • rokok;
  • alkohol;
  • penyalahgunaan zat;
  • hubungan pertemanan; dan
  • pacaran.

3. Harus Selalu Siap Secara Emosional

Remaja tidak selalu membutuhkan solusi. Mereka lebih membutuhkan orang tua yang mampu mendengarkan tanpa langsung menghakimi.

Masalahnya, setelah menjalani rapat, target pekerjaan, perjalanan pulang yang macet, dan berbagai tekanan kantor, tidak semua ibu memiliki energi emosional yang cukup ketika anak tiba-tiba berkata, “Ma, aku mau cerita….”

Baca juga: 3 Kesalahan Orang Tua saat Hadapi Anak Praremaja, Hindari 3 Hal Ini!

Foto: Mommies Daily

Apa Kata Pakar?

Psikolog perkembangan Laurence Steinberg, PhD, dalam bukunya Age of Opportunity: Lessons From the New Science of Adolescence, menjelaskan bahwa masa remaja merupakan periode ketika otak mengalami perkembangan besar, terutama pada area yang berkaitan dengan pengambilan keputusan, kontrol emosi, dan kemampuan mengendalikan impuls.

Karena itu, kehadiran orang tua tetap sangat dibutuhkan, meski bentuknya berubah. Remaja mungkin tampak tidak membutuhkan orang tua, tetapi mereka tetap memerlukan dukungan emosional, batasan yang konsisten, dan hubungan yang hangat.

Banyak Mommies merasa harus selalu hadir setiap saat. Padahal, yang paling dibutuhkan remaja bukanlah kita yang selalu hadir selama 24 jam. Yang dibutuhkan adalah Mommies yang benar-benar hadir, meski hanya 20–30 menit setiap hari.

Misalnya dengan:

  • mendengarkan tanpa memainkan ponsel;
  • mengobrol tanpa menginterogasi;
  • makan malam bersama; atau
  • mengantar les sambil berbincang.

Hubungan yang hangat dibangun dari momen-momen kecil yang dilakukan secara konsisten.

Baca juga: 5 Alasan Kecanduan Media Sosial Membuat Anak Remaja Tidak Bahagia

Ibu Juga Berhak Meminta Dukungan

Foto: Jametlene Reskp/Unsplash

Sering kali perhatian hanya tertuju pada anak. Padahal, ibu bekerja juga membutuhkan support system. Tidak ada salahnya meminta pasangan berbagi peran, melibatkan anak dalam pekerjaan rumah sesuai usianya, atau mengatakan “tidak” pada hal-hal yang memang tidak harus dikerjakan sendiri.

Merawat diri bukan berarti egois. Justru ketika ibu memiliki kondisi mental yang lebih sehat, ia akan lebih mampu mendampingi anak remajanya.

Pada Akhirnya…

Memiliki anak remaja bukan berarti tugas orang tua menjadi lebih ringan. Tugasnya hanya berubah:

  • Dari menggendong menjadi mendengarkan.
  • Dari menyuapi menjadi memberi kepercayaan.
  • Dari selalu memegang tangan anak menjadi tetap ada ketika mereka ingin kembali menggenggam tangan kita.

Baca juga: 8 Rekomendasi Buku Remaja, Seru dan Menarik untuk Dibaca

Cover: Mommies Daily