
Vaksin HPV anak laki-laki juga penting untuk mencegah infeksi HPV, kutil kelamin, dan kanker terkait HPV. Ketahui manfaat dan usia vaksinnya.
Selama ini, kalau mendengar vaksin HPV, yang langsung terlintas mungkin adalah kanker serviks. Wajar, Mommies. Edukasi soal vaksin HPV memang sejak dulu lebih sering dikaitkan dengan pencegahan kanker serviks pada perempuan.
Tapi ternyata, HPV bukan hanya urusan perempuan.
Anak laki-laki juga bisa terinfeksi HPV dan mengalami penyakit yang berkaitan dengan virus ini di kemudian hari. Bahkan, beberapa jenis kanker yang berkaitan dengan HPV juga dapat menyerang laki-laki, termasuk kanker penis, anus, serta orofaring atau bagian belakang tenggorokan.
Itulah kenapa vaksin HPV untuk anak laki-laki juga penting. Vaksin ini bukan hanya bertujuan mencegah penularan HPV kepada orang lain, tetapi juga memberikan perlindungan langsung terhadap penyakit yang berkaitan dengan HPV pada laki-laki.
Jadi, kalau Mommies punya anak laki-laki dan selama ini berpikir, “Memangnya anak cowok perlu vaksin HPV?”, jawabannya: iya, vaksin HPV juga memberikan manfaat langsung untuk mereka.
BACA JUGA: Deteksi Dini Kanker Serviks, Ini Bedanya Tes Iva, Pap Smear dan HPV DNA
HPV atau human papillomavirus adalah kelompok virus yang sangat umum. Ada banyak jenis HPV, dan sebagian di antaranya dapat menyebabkan kutil kelamin, sementara tipe tertentu dapat menyebabkan kanker.
Yang sering terlupakan, HPV tidak hanya berkaitan dengan kanker serviks. Menurut CDC, infeksi HPV dapat menyebabkan kanker penis pada laki-laki, kanker anus pada laki-laki maupun perempuan, serta kanker orofaring yang menyerang bagian belakang tenggorokan, termasuk pangkal lidah dan amandel.
HPV dapat menular melalui kontak kulit dengan kulit di area genital. Karena seseorang dapat terpapar HPV setelah mulai aktif secara seksual, vaksinasi dianjurkan diberikan sejak usia yang lebih muda, sebelum kemungkinan terpapar virus.
Karena itu, vaksin HPV merupakan vaksin pencegahan, bukan pengobatan untuk infeksi HPV yang sudah ada.
Pertanyaan ini cukup wajar muncul karena selama bertahun-tahun HPV lebih sering dibicarakan dalam konteks kanker serviks.
Padahal, laki-laki juga dapat terinfeksi HPV dan mengalami penyakit akibat virus tersebut. Vaksin HPV dapat membantu mencegah infeksi dari tipe HPV yang menjadi target vaksin sebelum seseorang terpapar virus.
CDC merekomendasikan vaksin HPV untuk semua anak dan remaja, bukan hanya anak perempuan. Vaksinasi rutin direkomendasikan pada usia 11–12 tahun dan dapat dimulai sejak usia 9 tahun.
Sementara itu, di Indonesia, Kementerian Kesehatan memasukkan anak laki-laki usia 11 tahun sebagai salah satu sasaran imunisasi HPV dalam program pemerintah.
Jadi, alasan anak laki-laki mendapatkan vaksin HPV bukan semata-mata untuk melindungi orang lain. Ada manfaat kesehatan yang langsung berkaitan dengan dirinya sendiri.

Ini salah satu alasan penting mengapa anak laki-laki juga membutuhkan vaksin HPV.
HPV dapat menyebabkan kanker penis pada laki-laki. Virus yang sama juga dapat berperan dalam kanker anus dan kanker orofaring.
CDC memperkirakan vaksinasi HPV dapat mencegah sekitar 90 persen kanker yang disebabkan oleh HPV, karena vaksin mencegah infeksi HPV yang dapat berkembang menjadi kanker.
Namun, Mommies juga perlu tahu bahwa kanker membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berkembang. Karena itu, penelitian mengenai dampak langsung vaksinasi terhadap angka kanker pada laki-laki masih terus dilakukan.
Jadi, vaksin HPV bukan berarti memberikan jaminan seseorang pasti terbebas dari kanker. Vaksin membantu mencegah infeksi HPV yang dapat menjadi salah satu penyebab kanker tersebut.
Dengan kata lain, vaksin HPV untuk anak laki-laki memberikan perlindungan kesehatan yang juga langsung berkaitan dengan dirinya sendiri, bukan hanya untuk mencegah penularan kepada perempuan.
Selain kanker, beberapa tipe HPV dapat menyebabkan kutil kelamin atau genital warts.
Penelitian pada laki-laki juga menunjukkan manfaat vaksinasi terhadap penyakit genital. Sebuah systematic review yang diterbitkan pada 2025 dan menganalisis empat uji klinis dengan lebih dari 7.000 peserta laki-laki menemukan bukti bahwa vaksin HPV efektif mencegah kutil kelamin dan infeksi HPV persisten pada laki-laki yang sebelumnya belum terinfeksi.
Dalam penelitian tersebut, tindak lanjut hingga 10 tahun menunjukkan efektivitas 91,8 persen terhadap lesi genital eksternal yang berkaitan dengan HPV tipe 6, 11, 16, dan 18.
Perlu dicatat, penelitian tersebut dilakukan pada laki-laki, bukan khusus anak laki-laki. Namun, hasilnya memberikan bukti klinis mengenai manfaat vaksin HPV terhadap penyakit terkait HPV pada laki-laki.
Mungkin ada Mommies yang berpikir, “Anak saya masih kecil, kenapa sudah harus divaksin untuk virus yang berhubungan dengan aktivitas seksual?”
Justru karena masih kecil, vaksin HPV dapat diberikan sebelum anak terpapar virus.
Vaksin bekerja paling baik sebagai pencegahan sebelum seseorang terinfeksi HPV. Vaksin juga tidak digunakan untuk mengobati infeksi HPV yang sudah ada.
Jadi, pemberian vaksin HPV kepada anak bukan berarti orang tua menganggap anak akan melakukan hubungan seksual dalam waktu dekat.
Sama seperti vaksin lainnya, prinsipnya adalah mencegah penyakit sebelum terjadi.
Ada alasan lain yang juga penting. Ketika seseorang terlindungi dari tipe HPV yang menjadi target vaksin, risiko mengalami infeksi akibat tipe tersebut juga dapat berkurang.
Semakin banyak orang yang terlindungi, sirkulasi virus di masyarakat juga dapat berkurang. Perlindungan tidak langsung seperti ini dikenal sebagai herd immunity atau kekebalan kelompok.
WHO memang menetapkan anak perempuan sebagai target utama vaksinasi HPV untuk mempercepat pencegahan kanker serviks. Namun, WHO juga menyebut vaksinasi pada kelompok sekunder seperti anak laki-laki dapat dilakukan jika memungkinkan dan terjangkau.
Di Indonesia, anak laki-laki juga telah masuk dalam sasaran program imunisasi HPV Kementerian Kesehatan.
Artinya, pencegahan HPV tidak lagi hanya dipandang sebagai isu kesehatan perempuan, tetapi juga menjadi bagian dari perlindungan kesehatan laki-laki.
Yang juga perlu dipahami Mommies, vaksin HPV merupakan vaksin pencegahan. Artinya, vaksin diberikan untuk membantu mencegah infeksi baru, bukan mengobati infeksi HPV yang sudah terjadi.
Karena itu, pemberian vaksin sebelum seseorang terpapar HPV menjadi penting.
Data penelitian terbaru juga semakin memperkuat manfaat vaksinasi pada laki-laki. Dalam systematic review yang diterbitkan pada 2026 menemukan bukti manfaat vaksinasi HPV pada laki-laki yang meskipun masih terbatas, menunjukkan pola yang konsisten, terutama terhadap penyakit seperti kutil anogenital dan infeksi HPV. Peneliti juga menekankan perlunya pemantauan jangka panjang karena program vaksinasi laki-laki relatif lebih baru dan beberapa jenis kanker membutuhkan waktu lama untuk berkembang.
Jadi, manfaat vaksin HPV bukan hanya sesuatu yang bisa dilihat beberapa hari setelah suntikan. Perlindungannya justru ditujukan untuk kesehatan anak dalam jangka panjang.
Untuk pertanyaan usia vaksin HPV anak laki-laki, jawabannya dapat berbeda tergantung rekomendasi dan program imunisasi di masing-masing negara.
Secara umum, CDC merekomendasikan vaksin HPV secara rutin pada usia 11–12 tahun dan vaksinasi dapat dimulai sejak usia 9 tahun. Jika seri vaksin dimulai sebelum usia 15 tahun, CDC merekomendasikan dua dosis dengan jarak 6–12 bulan. Anak yang baru mulai vaksinasi pada usia 15 tahun atau lebih umumnya membutuhkan tiga dosis.
Namun, Mommies perlu membedakan rekomendasi tersebut dengan program imunisasi HPV di Indonesia.
Kementerian Kesehatan memasukkan anak laki-laki usia 11 tahun sebagai salah satu sasaran imunisasi HPV dalam program pemerintah. Pelaksanaan dan jadwalnya dapat mengikuti kebijakan program imunisasi nasional yang berlaku.
Karena jadwal dan ketersediaan program dapat diperbarui, Mommies sebaiknya mengecek informasi terbaru melalui sekolah, Puskesmas, atau Dinas Kesehatan setempat.
Kalau anak Mommies belum mendapatkan vaksin HPV atau sudah melewati usia sasaran program sekolah, dokter anak juga dapat membantu menentukan jadwal vaksinasi yang sesuai dengan usia dan kondisi anak.
BACA JUGA: Jangan Termakan Mitos, Ini 10 Fakta tentang Vaksin HPV
Kekhawatiran soal keamanan vaksin tentu wajar, apalagi ketika vaksin diberikan kepada anak.
CDC menyebut vaksin HPV memiliki catatan keamanan yang kuat setelah lebih dari 15 tahun pemantauan dan penelitian. Efek samping yang paling umum biasanya ringan, seperti nyeri atau kemerahan di lokasi suntikan, demam ringan, atau sakit kepala.
Vaksin HPV juga tidak mengandung virus HPV hidup sehingga tidak dapat menyebabkan seseorang terkena infeksi HPV dari vaksinnya. Seperti vaksin lainnya, reaksi alergi berat dapat terjadi, tetapi tergolong jarang.
Ada juga kekhawatiran dari sebagian orang tua bahwa vaksin HPV dapat membuat anak menjadi lebih cepat melakukan aktivitas seksual. Namun, CDC menyebut tidak ada bukti bahwa vaksinasi HPV mendorong anak atau remaja untuk melakukan aktivitas seksual.
Jadi, pemberian vaksin HPV sebaiknya dilihat sebagai langkah pencegahan penyakit, bukan berkaitan dengan keputusan anak untuk melakukan aktivitas seksual.

Ya. Vaksin HPV juga direkomendasikan untuk anak laki-laki karena HPV dapat menyebabkan penyakit pada laki-laki, termasuk kutil kelamin serta beberapa jenis kanker yang berkaitan dengan HPV.
CDC merekomendasikan vaksin HPV rutin pada usia 11–12 tahun dan dapat dimulai sejak usia 9 tahun. Di Indonesia, anak laki-laki usia 11 tahun termasuk salah satu sasaran program imunisasi HPV pemerintah.
Secara umum, vaksin HPV memiliki catatan keamanan yang baik. Efek samping yang paling sering dilaporkan biasanya ringan, seperti nyeri di area suntikan, demam ringan, atau sakit kepala.
Tidak. Justru vaksin HPV diberikan sebelum seseorang berisiko terpapar HPV agar perlindungan sudah terbentuk terlebih dahulu. Vaksin ini merupakan vaksin pencegahan dan tidak mengobati infeksi HPV yang sudah ada.
Tidak ada bukti bahwa vaksin HPV menyebabkan kemandulan. CDC menyatakan tidak menemukan bukti bahwa vaksin HPV menyebabkan masalah kesuburan.
Kalau selama ini Mommies menganggap vaksin HPV hanya penting untuk anak perempuan, mungkin sudah waktunya mengubah cara pandang tersebut.
Anak laki-laki juga bisa mendapatkan manfaat langsung dari vaksin HPV, mulai dari membantu mencegah kutil kelamin hingga membantu mencegah infeksi HPV yang dapat berkaitan dengan kanker penis, anus, dan orofaring.
Dan karena vaksin bekerja sebagai pencegahan sebelum seseorang terpapar HPV, masa kanak-kanak dan praremaja justru menjadi waktu yang penting untuk membicarakan vaksinasi ini dengan dokter.
Bukan karena kita ingin buru-buru membicarakan hal-hal yang belum waktunya dengan anak.
Sebaliknya, justru karena sebagai orang tua kita ingin melakukan apa yang bisa dilakukan hari ini untuk melindungi kesehatan mereka di masa depan.
Kadang, bentuk sayang yang paling terasa bukan sesuatu yang langsung terlihat hasilnya. Bisa jadi hanya satu suntikan, satu kunjungan ke fasilitas kesehatan, lalu selesai.
Tapi perlindungannya bisa dibawa anak jauh lebih lama.
BACA JUGA: Mengenal Vaksin HPV: Manfaat, Dosis, dan Siapa Saja yang Membutuhkannya
Cover: Magnific