Viral Nakes di Threads Jadi Sorotan, Ini 7 Cara Menumbuhkan Empati pada Anak Sejak Dini

Parenting & Kids

Dhevita Wulandari・in 7 hours

detail-thumb

Viralnya perdebatan soal nakes di Threads menjadi pengingat penting bagi orang tua. Simak cara menumbuhkan empati pada anak sejak dini agar tumbuh peduli dan menghargai orang lain.

Belakangan ini, media sosial kembali diramaikan dengan perdebatan yang membuat banyak orang mengernyit. Kali ini datang dari Threads, ketika sejumlah unggahan yang diduga dibuat oleh tenaga kesehatan (nakes) viral karena dinilai menunjukkan sikap yang kurang berempati terhadap pasien maupun keluarga pasien.

Reaksi publik pun beragam. Ada yang merasa unggahan tersebut tidak pantas karena profesi tenaga kesehatan identik dengan kepedulian dan rasa kemanusiaan. Di sisi lain, tidak sedikit pula yang mencoba melihat dari sudut pandang nakes yang sehari-hari bekerja di bawah tekanan tinggi, kelelahan, hingga mengalami burnout.

Apa pun perspektifnya, diskusi ini akhirnya melebar ke satu hal yang sangat penting: empati.

Sebenarnya, empati bukan hanya soal bagaimana kita bersikap saat bekerja. Empati adalah keterampilan hidup yang dibentuk sejak kecil, bahkan jauh sebelum seseorang memilih profesinya. Itulah mengapa momen viral ini bisa menjadi pengingat bagi kita sebagai orang tua untuk kembali melihat bagaimana cara membesarkan anak agar tumbuh menjadi pribadi yang penuh empati.

Momen ini sekaligus mengingatkan bahwa cara menumbuhkan empati pada anak sejak dini merupakan bekal penting agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang mampu memahami dan menghargai orang lain.

BACA JUGA: Anak Sering Bilang “Terserah”? Ini 7 Penyebab Anak Sulit Mengambil Keputusan

Fenomena Nakes di Threads yang Menjadi Sorotan

Fenomena ini bermula ketika sebuah akun Threads mengunggah cerita tentang seorang laki-laki yang telah delapan jam mencari IGD, tetapi belum juga mendapatkan penanganan. Unggahan tersebut kemudian ramai dan dipenuhi komentar negatif.

Setelah ditelusuri oleh warganet, sebagian besar komentar bernada negatif tersebut diduga berasal dari tenaga kesehatan. Beberapa unggahan menggunakan nada bercanda, sarkastik, bahkan dianggap merendahkan kondisi pasien. Potongan unggahan itu kemudian menyebar ke berbagai platform media sosial dan memancing kritik luas.

Foto: Threads/yurizaltrich

Isu ini semakin ramai ketika akun lain mengunggah informasi bahwa pengirim atau penulis awal utas tersebut, Yurizal, meninggal dunia beberapa hari setelah menulis unggahannya.

Banyak warganet menilai isi komentar tersebut menunjukkan kurangnya empati terhadap seseorang yang sedang berada dalam kondisi rentan. Namun, muncul pula diskusi yang mengingatkan bahwa tenaga kesehatan juga manusia yang bisa mengalami kelelahan fisik maupun emosional akibat tekanan pekerjaan yang tinggi.

Meski demikian, sebagian besar masyarakat sepakat bahwa empati tetap menjadi nilai penting dalam profesi apa pun, terutama profesi yang berkaitan langsung dengan keselamatan dan kesehatan manusia.

Di balik perdebatan tersebut, ada pelajaran yang jauh lebih dekat dengan kehidupan keluarga: bagaimana agar anak-anak kita kelak tumbuh menjadi orang dewasa yang mampu memahami perasaan orang lain, apa pun profesinya nanti.

BACA JUGA: 8 Tanda Kecemasan pada Anak SD yang Perlu Diketahui Orang Tua

Empati Bukan Bakat, tetapi Kemampuan yang Dipelajari

Banyak orang mengira anak yang penyayang memang terlahir demikian. Faktanya, empati berkembang melalui pengalaman, hubungan yang hangat dengan orang tua, dan contoh yang mereka lihat setiap hari.

Sejak usia dini, anak belajar memahami emosi dari cara orang dewasa merespons mereka. Ketika anak sedih lalu dipeluk, kecewa lalu didengarkan, atau marah lalu dibantu mengenali emosinya, mereka sedang belajar bahwa setiap perasaan itu valid. Dari situlah kemampuan memahami perasaan orang lain mulai terbentuk.

Sebaliknya, bila anak sering diabaikan, dipermalukan, atau diajarkan untuk mengabaikan emosi orang lain, kemampuan berempati bisa berkembang lebih lambat.

7 Cara Menumbuhkan Empati pada Anak Sejak Dini

1. Jadilah Contoh yang Paling Nyata

Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar.

Kalau Mommies dan Daddies ingin anak menghargai orang lain, tunjukkan lewat tindakan sederhana. Misalnya, mengucapkan terima kasih kepada petugas kebersihan, bersikap sopan kepada kasir, atau menunjukkan kepedulian kepada anggota keluarga yang sedang sakit.

Anak akan merekam semua itu sebagai sesuatu yang wajar dilakukan.

2. Jangan Buru-buru Menghakimi Perasaan Anak

Kalimat seperti, “Ah, cuma begitu saja kok nangis,” mungkin terdengar sepele. Padahal, respons seperti ini membuat anak belajar bahwa emosi tidak perlu dipahami.

Sebaliknya, cobalah mengatakan, “Mama tahu kamu sedih karena mainanmu rusak.”

Saat anak merasa dimengerti, ia akan lebih mudah belajar memahami perasaan orang lain.

3. Biasakan Anak Melihat dari Sudut Pandang Orang Lain

Saat membaca buku cerita atau menonton film bersama, sesekali ajak anak berdiskusi.

  • “Menurut kamu, kenapa tokohnya sedih?”
  • “Kalau kamu jadi dia, apa yang kamu rasakan?”
  • “Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan supaya dia merasa lebih baik?”

Obrolan sederhana seperti ini ternyata sangat membantu melatih perspective taking, yaitu kemampuan melihat situasi dari sudut pandang orang lain.

Foto: Monstera Production/Pexels

4. Ajarkan Bahwa Semua Orang Punya Cerita

Sering kali kita mudah menghakimi hanya dari apa yang terlihat.

Ketika ada seseorang yang terlihat marah atau bersikap kurang menyenangkan, ajak anak berpikir bahwa mungkin orang tersebut sedang mengalami hari yang berat.

Bukan berarti membenarkan perilaku buruk, tetapi membantu anak memahami bahwa setiap orang membawa perjuangannya masing-masing.

5. Kurangi Kebiasaan Mengejek atau Mempermalukan Orang Lain

Kadang, candaan yang terdengar lucu di rumah justru mengajarkan anak bahwa menertawakan orang lain adalah hal yang biasa.

Mulailah dari lingkungan keluarga. Hindari mengomentari fisik, pekerjaan, kondisi ekonomi, atau kesalahan orang lain dengan nada merendahkan karena anak akan menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang normal.

6. Libatkan Anak dalam Aktivitas Berbagi

Empati berkembang saat anak mengalami langsung bagaimana rasanya membantu orang lain.

Tidak harus selalu berupa donasi besar. Mengantar makanan kepada tetangga yang sakit, menyumbangkan mainan yang masih layak pakai, atau membantu teman yang kesulitan di sekolah juga menjadi pengalaman berharga.

Yang terpenting bukan besar atau kecilnya bantuan, melainkan kebiasaan peduli yang terus dilatih.

7. Ajarkan Meminta Maaf dan Memperbaiki Kesalahan

Anak perlu tahu bahwa melakukan kesalahan adalah hal yang manusiawi. Namun, mereka juga perlu belajar bertanggung jawab atas dampak dari perbuatannya.

Ketika anak menyakiti perasaan orang lain, jangan hanya memintanya mengucapkan maaf. Bantu ia memahami mengapa temannya sedih dan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan.

Dengan begitu, meminta maaf bukan sekadar formalitas, melainkan lahir dari pemahaman terhadap perasaan orang lain.

BACA JUGA: Kenapa Anak Remaja Jadi Pendiam? Psikolog Jelaskan Penyebab dan Cara Menghadapinya

Empati adalah Bekal Hidup, Bukan Sekadar Soft Skill

Fenomena yang ramai di Threads mengingatkan kita bahwa kecerdasan, prestasi, bahkan profesionalisme saja belum tentu cukup jika tidak diiringi kemampuan memahami manusia lain.

Empati bukan berarti selalu setuju dengan orang lain atau harus mengorbankan diri sendiri. Empati adalah kemampuan untuk menyadari bahwa setiap orang memiliki pengalaman, rasa sakit, dan perjuangan yang mungkin tidak kita lihat.

Mommies dan Daddies mungkin tidak bisa mengontrol profesi apa yang akan dipilih anak di masa depan. Namun, kita bisa membantu mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang mampu memperlakukan orang lain dengan hormat, penuh rasa peduli, dan penuh rasa kemanusiaan.

Dan mungkin, itulah salah satu warisan terbaik yang bisa kita berikan.

Cover: Artem Podrez/Pexels