banner-detik
PARENTING & KIDS

Kenapa Anak Remaja Jadi Pendiam? Psikolog Jelaskan Penyebab dan Cara Menghadapinya

Kenapa Anak Remaja Jadi Pendiam? Psikolog Jelaskan Penyebab dan Cara Menghadapinya

Kenapa anak remaja jadi pendiam? Pahami penyebabnya, perubahan perilaku remaja, kesalahan orang tua, hingga tanda gangguan kesehatan mental menurut psikolog.

Apakah anak remaja Mommies yang tadinya ceria, periang, dan suka bercerita tentang segala hal mendadak berubah jadi sosok yang pendiam, tertutup, dan enggan diajak mengobrol?

Dalam banyak kasus, kondisi ini merupakan bagian normal dari perkembangan remaja. Namun, pada sebagian anak, perubahan tersebut juga bisa dipicu oleh tekanan emosional, masalah di sekolah, konflik pertemanan, hingga gangguan kesehatan mental. Karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami perbedaannya.

Sebelum overthinking, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa memiliki privasi merupakan bagian yang sangat normal dari perkembangan usia remaja.

Attachment yang terbangun dengan orang tua sejak masa kanak-kanak akan diekspresikan secara berbeda saat anak memasuki usia remaja. Hal ini bukan berarti rasa sayang anak kepada orang tua berkurang. Adanya pengaruh kuat dari perubahan struktur otak, awal masa pubertas, tuntutan atau ekspektasi orang tua, hingga pengaruh teman sebaya mendorong remaja secara alami untuk menemukan identitas diri mereka sebagai individu yang mandiri.

BACA JUGA: 7 Cara Menjadi Safe Place untuk Anak Remaja agar Mau Terbuka pada Orang Tua

Normalkah Jika Anak Remaja Menjadi Lebih Pendiam?

Nadya Pramesrani, M.Psi., Psikolog, menjelaskan,

“Dilihat dari kacamata perkembangan remaja, remaja yang lebih banyak bercerita ke teman dan lebih sedikit ke orang tua (sehingga dilihat sebagai anak lebih pendiam) adalah hal yang wajar. Sering kali di periode remaja ini, teman dan orang tua punya perannya masing-masing. Teman berfungsi sebagai sumber informasi untuk gaya hidup, seperti gaya berpakaian dan leisure activity, sedangkan orang tua berfungsi sebagai sumber informasi terkait kehidupan akademis anak.”

6 Penyebab Anak Remaja Berubah Jadi Lebih Pendiam

Foto: Merve Şahin/Pexels

Meskipun sikap diam anak sering kali membuat orang tua merasa cemas atau sedih, hal tersebut tidak selalu menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang salah. Mengacu pada artikel dari What Parents Ask dan Counselling Directory UK, sikap tertutup ini merupakan bagian dari proses perkembangan di masa remaja.

Beberapa penyebab remaja menjadi pendiam antara lain:

1. Pencarian jati diri sejak usia praremaja

Proses pencarian jati diri dimulai sejak usia 9 hingga 12 tahun. Di fase ini, anak mulai menarik diri dan membutuhkan ruang pribadi yang lebih besar, sebuah perubahan perilaku remaja yang terasa sangat drastis dibandingkan saat mereka masih duduk di bangku sekolah dasar.

2. Perkembangan otak (prefrontal cortex)

Otak remaja sedang mengalami perubahan besar, terutama pada bagian prefrontal cortex yang mengatur pengambilan keputusan, perencanaan, dan pemikiran rasional. Akibatnya, emosi sering kali memegang kendali utama.

3. Kewalahan secara emosional

Karena perkembangan otaknya masih berlangsung, remaja rentan mengalami beban emosional berlebih (emotional overwhelm) dan belum memiliki kosakata yang cukup untuk mengekspresikan perasaan kompleks tersebut.

4. Membentuk otonomi diri

Masa remaja ditandai dengan pencarian identitas versus kebingungan peran. Sikap diam menjadi salah satu cara mereka memproses dunia di sekitarnya.

5. Mencari solusi sendiri dan tidak ingin membebani orang tua

Sering kali saat remaja tiba-tiba pendiam, mereka sedang berusaha memahami apa yang terjadi pada diri mereka sendiri. Selain itu, anak bisa merasakan kekhawatiran orang tua dan memilih diam agar tidak menambah beban pikiran Mommies dan Daddies.

6. Kurang percaya diri dalam berkomunikasi

Anak remaja sering kali kekurangan kosakata yang tepat untuk menjelaskan perubahan emosi atau suasana hatinya yang berubah-ubah. Ketika bingung cara mengungkapkannya, mereka memilih untuk tidak mengatakan apa pun.

Selain faktor perkembangan internal, Parenteen Kenya menyebutkan beberapa pemicu yang membuat komunikasi dengan anak remaja terputus.

  • Merasa dihakimi atau tidak dipahami oleh orang tua.
  • Konflik emosional yang berulang dan tingginya tensi di rumah.
  • Tekanan dari orang tua untuk bersikap terbuka sebelum mereka siap.
  • Stres akademis atau ujian sekolah yang menumpuk.
  • Drama pertemanan atau konflik sosial dengan teman sebaya.
  • Perubahan besar dalam hidup, seperti pindah rumah atau perceraian orang tua.
  • Emosi yang intens, tetapi belum bisa diungkapkan dengan kata-kata.

BACA JUGA: Kalau Anak Remaja Makin Menutup Diri, Coba Ucapkan 10 Kalimat Ini

Reaksi Orang Tua yang Justru Bisa Memperlebar Jarak

Hal apa saja yang sebaiknya tidak dilakukan orang tua ketika anak remaja menjadi lebih pendiam?

“Memaksa mereka untuk bercerita dan berbicara dengan guilt tripping melalui komentar seperti, ‘Kamu dulu nggak gini, lho,’ atau ‘Kamu dulu selalu cerita banyak ke Ayah atau Ibu.’ Ayah/Ibu sudah nggak asyik lagi, ya, buat kamu?’ Pada masa remaja, tugas perkembangan mereka adalah menciptakan identitas diri dan kemandirian yang terpisah dari sosok orang tua. Sikap pendiam sering kali merupakan usaha mereka untuk memahami dunia dan menyelesaikan masalah dengan kemampuannya sendiri. Meski demikian, anak tetap membutuhkan bimbingan atau mentorship dari orang tua.”

Bagaimana cara memberikan arahan kepada anak remaja?

“Pahami bahwa dinamika hubungannya mengalami perubahan. Hubungan anak-orang tua yang tadinya vertikal, di mana orang tua dianggap sebagai sosok yang punya pengetahuan dan social power atas anak mereka, berubah menjadi hubungan remaja-orang tua yang lebih horizontal, yang diwarnai dengan bentuk relasi kesetaraan dan interaksi mutual. Oleh karena itu, langkah pertama yang orang tua perlu lakukan adalah menghargai pilihan anak ketika mereka memilih tidak mau atau belum mau bercerita,” saran Psikolog Nadya.

Kalimat seperti,

“Ibu lihat kamu sepertinya sedang kepikiran sesuatu. Apakah ada yang ingin kamu ceritakan? Mungkin Ibu bisa bantu.”

memberikan sense of control kepada anak bahwa keputusan untuk bercerita tetap berada di tangan mereka.

Membuka diri dan memiliki inisiatif untuk bercerita biasanya dimulai ketika remaja merasa diterima, nyaman, dan melihat orang tua sebagai reliable source of information.

anak remaja jadi pendiam

Foto: kaboompics.com/Pexels

Tanda Anak Remaja Mengalami Masalah Psikologis

Meskipun sikap pendiam bisa menjadi bagian alami dari masa pubertas dan perubahan emosi, orang tua tetap harus peka terhadap kesehatan mental remaja. Jangan sampai sikap diam tersebut merupakan sinyal terselubung dari depresi atau kecemasan pada remaja.

Psikolog Nadya mengingatkan agar orang tua segera mencari bantuan profesional apabila menemukan perubahan perilaku berikut.

  • Penurunan nilai akademis.
  • Mengunci diri atau menarik diri dari lingkungan.
  • Barang-barang hilang atau munculnya luka yang tidak dapat dijelaskan (risiko bullying).
  • Murung berkepanjangan.
  • Low energy sepanjang hari meskipun tidur malam cukup (8–10 jam).
  • Kehilangan nafsu makan atau tidak merasakan lapar.
  • Tidak lagi menikmati aktivitas yang sebelumnya disukai.

BACA JUGA: WhatsApp Khusus Anak dengan Kontrol Orang Tua, Ini Cara Membuat Akun dan Fiturnya

Panduan Membangun Kembali Komunikasi dengan Anak Remaja

Merujuk pada ulasan dari Ascend Healthcare dan situs pengasuhan Parenteen Kenya, merekatkan kembali ikatan dengan anak remaja membutuhkan kesabaran dan penyesuaian pendekatan:

  1. Hadir tanpa menuntut: beri tahu anak bahwa kita selalu ada untuk mereka tanpa memaksanya untuk langsung bicara.
  2. Ciptakan momen santai: buat kesempatan mengobrol tanpa tekanan lewat aktivitas bersama, seperti memasak, jalan santai, atau berkendara.
  3. Lebih banyak mendengar: tahan diri untuk langsung memberi nasihat atau solusi agar anak memiliki ruang untuk berekspresi.
  4. Gunakan pertanyaan terbuka: gunakan kalimat seperti “Ibu/Ayah lihat kamu tenang banget hari ini, ada yang mau diceritakan?” daripada pertanyaan tertutup yang menghakimi seperti “Kenapa sih kamu cemberut terus?”.
  5. Validasi perasaan anak: hargai dan akui emosi yang mereka rasakan tanpa meremehkannya.
  6. Bagikan pengalaman pribadi: ceritakan pengalaman atau kesalahan kecil yang pernah kita alami dulu agar anak merasa tidak sendirian.
  7. Hargai waktu mereka: jika anak belum siap, jangan dipaksa. Cukup katakan bahwa kita ada kapan pun mereka butuh.
  8. Lembutkan nada bicara: ubah tuntutan menjadi undangan. Ganti kalimat “Kamu harus cerita sekarang!” menjadi “Ibu/Ayah di sini ya kalau kamu udah siap cerita.”
  9. Turunkan ‘suhu’ emosional: gunakan nada suara yang lebih pelan dan ekspresi wajah yang tenang untuk menciptakan rasa aman.
  10. Apresiasi kejujuran: saat anak mau terbuka sedikit saja, sambut dengan rasa terima kasih, bukan dengan interogasi. Berikan apresiasi seperti “Terima kasih ya sudah mau percaya dan cerita sama Ibu/Ayah.”
Cover: Vika Glitter/Pexels

Share Article

author

Fannya Gita Alamanda

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan