Sorry, we couldn't find any article matching ''

Merekam Orang di Tempat Umum Tanpa Izin, Boleh atau Tidak? Ini Hukum dan Etikanya di Indonesia
Apakah merekam orang di tempat umum tanpa izin boleh dilakukan? Ketahui aturan hukum di Indonesia, hak privasi, etika merekam orang lain, hingga risiko mengunggahnya ke media sosial.
Siapa yang akhir-akhir ini jadi lebih waspada saat melihat orang memakai kacamata hitam di tempat umum?
Kalau dulu kita mungkin hanya khawatir difoto diam-diam, kini ada smart glasses yang memungkinkan seseorang merekam video tanpa mengangkat ponsel. Orang yang direkam pun bisa jadi sama sekali tidak sadar bahwa wajahnya, suaranya, bahkan percakapannya sedang direkam.
Belakangan, isu ini ramai setelah muncul konten seorang kreator laki-laki yang mendekati perempuan di ruang publik untuk konten cara berkenalan. Meski dikemas sebagai konten self-confidence, banyak yang mempertanyakan proses pembuatannya karena para perempuan tersebut direkam menggunakan kacamata pintar tanpa persetujuan. Bahkan, ramai dibicarakan di Threads bahwa mereka diminta membayar jika ingin videonya diturunkan.
Kasus ini memunculkan pertanyaan besar: apakah merekam orang di tempat umum tanpa izin memang diperbolehkan?
BACA JUGA: Pause Before Post, Hindari Drama dan Penyesalan Online di Media Sosial
Ruang Publik Bukan Berarti Hak Privasi Hilang
Mommies mungkin pernah tanpa sengaja muncul sebagai latar belakang video orang lain di kafe, mal, taman, atau playground. Selama hanya sekilas, kebanyakan orang mungkin tidak mempermasalahkannya.
Masalahnya berbeda ketika seseorang justru menjadi subjek utama konten: wajahnya direkam dengan jelas, percakapannya terdengar, bahkan identitasnya dapat dikenali.
Di sinilah batas antara “konten” dan “privasi” mulai kabur. Berada di ruang publik bukan berarti seseorang kehilangan hak untuk merasa aman dan nyaman.

Foto: Bethany Ferr/Pexels
Apakah Merekam Orang di Tempat Umum Tanpa Izin Memang Boleh?
Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.
Di banyak negara, merekam suasana di ruang publik memang diperbolehkan. Karena itu, vlog perjalanan atau dokumentasi acara yang menampilkan orang berlalu-lalang bukanlah sesuatu yang otomatis melanggar aturan.
Namun, berbeda jika seseorang sengaja dijadikan fokus utama video, direkam dari dekat, lalu videonya diunggah ke media sosial untuk mendapatkan perhatian atau keuntungan.
Persoalannya bukan lagi sekadar aktivitas merekam, melainkan bagaimana rekaman tersebut digunakan, apakah orang yang direkam mengetahui dan menyetujuinya, serta apakah konten tersebut berpotensi merugikan atau mempermalukan orang lain.
Bagaimana Aturan Merekam Orang Tanpa Izin di Negara Lain?
Perdebatan soal privasi di ruang publik bukan hanya terjadi di Indonesia.
Salah satu negara yang paling ketat adalah Korea Selatan, yang sejak lama menghadapi masalah molka, yaitu perekaman diam-diam menggunakan kamera tersembunyi. Karena banyaknya kasus yang menimpa perempuan, pemerintah memperketat aturan terkait perekaman tanpa izin dan penyebaran gambar seseorang tanpa persetujuan. Dalam situasi tertentu, pelakunya dapat diproses secara hukum.
BACA JUGA: 7 Negara yang Melarang Media Sosial untuk Anak-Anak, Ada Malaysia hingga Australia
Hukum Merekam Orang Tanpa Izin di Indonesia
Di Indonesia, belum ada aturan yang secara khusus melarang setiap orang merekam di ruang publik. Namun, ketika rekaman menampilkan seseorang secara jelas, disebarluaskan tanpa persetujuan, dan menimbulkan kerugian, ada aturan hukum yang dapat berlaku.
Dalam video yang diunggah Instagram @kemkomdigi, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menegaskan bahwa merekam orang lain tanpa izin selain melanggar UU PDP (Perlindungan Data Pribadi), juga melanggar etika. Ia juga mengatakan bukan hanya perempuan, tapi dikhususkan perempuan dan anak-anak.
“Tidak boleh ada orang yang merekam tanpa izin, meskipun di ranah publik.” – Meutya Hafid

Foto: Instagram/kemkomdigi
Persetujuan Tetap Penting Meski Berada di Ruang Publik
Seseorang mungkin bersedia diajak berbincang selama beberapa menit. Namun, itu bukan berarti ia otomatis setuju direkam dan videonya diunggah ke Instagram atau TikTok.
Persetujuan juga tidak bisa dianggap ada hanya karena seseorang tidak menolak saat itu juga. Bisa saja ia baru menyadari dirinya direkam setelah videonya beredar.
Di era media sosial, konsep informed consent, atau persetujuan yang diberikan setelah seseorang memahami apa yang akan dilakukan terhadap dirinya, menjadi semakin penting, terutama ketika konten dibuat untuk kepentingan personal branding atau monetisasi.
Sikap Platform Media Sosial terhadap Konten Tanpa Persetujuan
Isu ini juga menjadi perhatian perusahaan teknologi. Penggunaan Ray-Ban Meta Smart Glasses memicu kekhawatiran baru karena memungkinkan seseorang merekam tanpa terlihat mencolok. Meta sendiri menegaskan bahwa penggunaan perangkat tersebut tetap harus menghormati privasi orang lain dan mengikuti aturan platform.
CEO Instagram, Adam Mosseri, juga menyatakan bahwa jika seseorang menjadi subjek utama video tanpa persetujuan dan kontennya melanggar privasi, pengguna dapat melaporkannya. Dalam kondisi tertentu, Instagram dapat menghapus video tersebut apabila dinilai melanggar kebijakan platform.

Foto: Eyüpcan Timur/Pexels
5 Etika Merekam Orang di Tempat Umum
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan membuat vlog, mendokumentasikan liburan, atau merekam suasana kota. Namun, ada beberapa etika sederhana yang perlu diingat.
- Bedakan latar belakang dan subjek utama. Semakin jelas seseorang menjadi fokus video, semakin besar tanggung jawab kita terhadap privasinya.
- Minta izin. Kalimat sederhana seperti, “Boleh ya percakapan kita direkam?” dapat membuat semua pihak merasa lebih nyaman.
- Jangan menganggap diam berarti setuju. Tidak semua orang berani menolak saat itu juga.
- Pikirkan dampaknya setelah video diunggah. Konten bisa viral dalam hitungan jam, tetapi rasa tidak nyaman orang yang direkam bisa bertahan lama.
- Hormati permintaan untuk menghapus video. Engagement tidak sebanding dengan hak seseorang untuk merasa aman.
BACA JUGA: Pembatasan Media Sosial Anak: TikTok Nonaktifkan 1,7 Juta Akun, Apa Artinya untuk Mommies?
Mengapa Empati Tetap Lebih Penting daripada Konten Viral
Teknologi membuat siapa saja bisa menjadi content creator. Namun, semakin mudah merekam orang lain, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk menghormati privasi mereka.
Mommies, Daddies, mungkin kita tidak bisa menghentikan orang merekam di ruang publik. Namun, kita bisa memilih menjadi pengguna media sosial yang lebih bertanggung jawab.
Karena membuat konten bukan hanya soal apa yang bisa dilakukan, melainkan juga apa yang sebaiknya dilakukan.
Dan, bentuk rasa hormat paling sederhana adalah bertanya satu kalimat: “Boleh saya merekam?”
Cover: Bethany Ferr/Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS