Mau Anak Lebih Siap Kuliah dan Kerja? Ajarkan Cara Membuat LinkedIn Sejak Remaja

Education

dewdew・in 5 hours

detail-thumb

Yang penting pastikan kalau anak remaja sudah berusia minimal 16 tahun. Jika sudah, dampingi saat membuat akun Linkedin untuk si remaja.

Ngomongin media sosial anak remaja, kita pasti langsung kepikiran Instagram, Tiktok, atau X. Iya, mungkin sehari-hari mereka lebih banyak menghabiskan waktu di platform-platform tersebut, di luar chat room pastinya. Namun, ada satu platform yang sering terlewat, tapi justru bisa jadi bekal besar buat masa depan anak, yaitu LinkedIn.

Saya sendiri baru sadar betapa pentingnya ini ketika profil anak saya sendiri tahu-tahu muncul di linimasa Linkedin saya. Ternyata, LinkedIn bukan cuma buat orang yang udah kerja atau lulus kuliah, lho. Faktanya, LinkedIn sendiri sudah mengizinkan siapa pun yang berusia minimal 16 tahun untuk membuat akun. Artinya, anak-anak kita yang (rata-rata) sudah duduk di kelas 11 dan 12 SMA, sebenarnya sudah bisa mulai membangun personal branding profesional mereka dari sekarang.

Kenapa remaja SMA perlu punya LinkedIn?

1. Melatih anak “menceritakan dirinya sendiri” secara profesional.

Tentunya berbeda dengan Instagram yang isinya lebih personal dan santai, LinkedIn melatih anak untuk merangkum siapa dirinya, apa yang sudah ia lakukan selama ini, dan apa yang ingin dicapai dalam bahasa yang lebih terstruktur. Ini skill yang nantinya pasti terbapakai banget saat anak menulis essay beasiswa atau CV kerja.

2. Portofolio jadi lebih “hidup” dan mudah diakses

Kegiatan volunteer, prestasi lomba, sertifikat kursus, sampai proyek pribadi anak bisa didokumentasikan di satu tempat yang rapi. Kalau ada panitia beasiswa, recruiter magang, atau bahkan kenalan baru yang penasaran sama rekam jejak anak, mereka tinggal cek profil LinkedIn-nya.

3. Anak jadi lebih familiar dengan dunia profesional sejak dini

Dengan follow perusahaan, tokoh inspiratif, atau komunitas sesuai minatnya, anak jadi terbiasa melihat bagaimana dunia kerja dan industri bergerak, termasuk istilah-istilah dan etika komunikasi profesional yang mungkin belum diajarkan di sekolah.

4. Membuka peluang koneksi dan kesempatan lebih awal

Tak jarang, program magang, volunteer, atau beasiswa untuk pelajar SMA justru diinfokan pertama kali lewat LinkedIn oleh organisasi atau alumni. Anak yang aktif di sana punya kesempatan lebih besar buat “mencium” info-info seperti ini lebih dulu.

Baca juga: Instagram Map: Fitur Baru yang Perlu Diwaspadai, Terutama oleh Remaja

Cara Mulai Mengajarkan Anak Membuat LinkedIn

1. Dampingi saat membuat akun

Karena LinkedIn punya batas usia minimal 16 tahun, pastikan Mommies mendampingi anak saat pertama kali membuat akun (jangan kayak saya). Ini sekaligus jadi momen untuk mengobrol soal etika dan keamanan di dunia digital profesional.

2. Mulai dari foto profil dan headline yang sederhana

Nggak perlu ribet. Foto yang jelas dan sopan, ditambah headline singkat seperti “Siswa dari SMA [isinama sekolah]. Boleh juga menyampaikan peminatan yang ia miliki. Keduanya sudah cukup jadi langkah awal yang baik.

3. Isi bagian “About” dengan cerita singkat tentang diri anak

Ajak anak menulis 2-3 kalimat tentang siapa dirinya, apa yang dia sukai, dan apa yang sedang dia kejar, entah itu minat di bidang sains, seni, atau kepemimpinan. Ini juga latihan reflektif yang bagus untuk anak.

4. Masukkan kegiatan yang sudah pernah diikuti

Kegiatan volunteer, ekstrakurikuler, kepanitiaan, sampai kursus online yang pernah diambil, semua bisa dimasukkan. Ini juga jadi kesempatan bagus untuk anak melihat kembali apa saja yang sudah dia capai, yang kadang kala mereka sendiri lupa!

5. Ajarkan cara follow dan berinteraksi dengan sopan

Ajak anak follow akun-akun yang relevan dengan minatnya, seperti universitas incaran, organisasi volunteer, atau tokoh yang menginspirasi. Ajarkan juga etika berkomentar dan mengirim pesan yang profesional. Ini penting banget karena beda jauh dari gaya komunikasi di media sosial lain.

6. Ingatkan soal privasi dan keamanan data

Sama seperti platform lain, ingatkan anak untuk tidak membagikan informasi sensitif seperti alamat rumah atau nomor telepon pribadi secara terbuka di profil.

Baca juga: 6 Fitur Linkedin Yang Bisa Dimanfaatkan Ibu Bekerja

LinkedIn anak remaja nggak perlu terlihat “sempurna” seperti profil profesional yang sudah kerja bertahun-tahun. Yang penting adalah jujur dan konsisten. Profil Linkedin anak seharusnya menunjukkan proses dan minat anak yang sesungguhnya, bukan sekadar tampil bagus di permukaan.

Semoga membantu, ya, Mommies! Kalau ada yang sudah coba ajak anaknya bikin LinkedIn dari SMA, boleh banget share pengalamannya di kolom komentar.

Cover photo by Magnific