Sorry, we couldn't find any article matching ''

Mikaela Mischa Laetitia Evers: Lewat Menari, Aku Terus Tertantang dan Termovitasi untuk Menjadi Lebih Baik dan Terus Belajar Hal Baru
Awalnya seru-seruan, sekarang menari jadi bagian dari hidup. Simak perjalanan Mischa dan pengalaman berharga yang ia dapatkan lewat menari.
Semua berawal dari kegiatan yang anak sukai. Namun, hal ini tidak akan terjadi tanpa dukungan penuh dari orang tua. Tidak heran, sekarang ini makin banyak tempat yang menawarkan kegiatan yang bisa anak lakukan untuk mendukung minat dan bakat anak, bahkan sejak dini. Dengan harapan, kegiatan ini dapat menjadi jembatan menuju cita-cita mereka di kemudian hari. Inilah yang terjadi pada Mikaela Mischa (16). Dari awalnya masuk ke dunia tari hanya buat seru-seruan saja, kini ia sudah berhasil membawa segudang prestasi dan pengalaman yang membuatnya semakin cinta dengan dunia tari.
Cintanya pada dunia tari membuat Mischa menikmati setiap tantangannya

Foto: Dokumentasi Pribadi Mikaela Mischa
Masa kecil Mischa, sebagai anak pertama, tentu diwarnai dengan berbagai kegiatan yang tujuan awalnya memang untuk coba-coba. Sambil melihat-lihat, mana yang kira-kira sesuai dengan minatnya ke depan. Mischa pun menyadari bahwa saat kecil, dia memang sudah aktif dan punya banyak hobi, namun di usia 12 tahun, Mischa mulai fokus di dunia tari. “Menari itu menurut aku seru banget, I love how dance challenges me and motivates me to be better and learn new things,” ucapnya dengan semangat.
Dapat beasiswa karena menang lomba hasil usaha sendiri

Foto: Dokumentasi Pribadi Mikaela Mischa
“Dua tahun lalu, tepatnya, ketika aku mengikuti kompetisi menari di BIDC Bandung International Dance Competition, aku tampil membawakan gerakan yang aku ciptakan sendiri. Aku menang sebagai First place Solo Contemporary Teen Category & First Place Contemporary Group, serta terpilih sebagai Chosen Performer by The Judge untuk tampil di Gala Night pada saat itu. Dan dari situ aku mendapatkan beasiswa untuk berkompetisi lagi di Bali TWBT (The World Ballet Trial) dan Thai Dance Organization. Ketika aku lanjut berkompetisi di Bali, aku kembali mendapatkan beasiswa ke Jepang, Brazil dan Italy. Rasanya, pengalaman di tahun itu adalah salah satu pengalaman terbaikku,“ cerita Mischa, yang sejak usia 11 tahun belajar sebagai murid di GIGI Art of Dance.
Baca juga: Gigi Art of Dance, Rumah Seni yang Dukung Kreativitas Anak hingga Ibu
Dari usia muda, sudah harus menentukan pilihan dan prioritas
“Sejak pandemi dan kebetulan momen aku lulus primary, setelah ngobrol panjang dengan Mommy dan Daddy, aku memutuskan untuk homeschooling, agar waktu belajarku bisa lebih fleksibel dan aku jadi punya banyak waktu untuk menari. Tapi tentu saja, tantangan tetap ada, aku harus tetap memegang disiplin untuk tidak malas saat harus belajar sendiri dari rumah,” cerita Mischa soal menentukan pilihan dan prioritas, tanpa meninggalkan dunia akademis.
Tantangan di dunia tari itu nyata!
Mischa mengaku bahwa salah satu tantangan terbesar yang ia hadapi saat ini adalah untuk tidak membandingkan dirinya dengan penari lain, baik dari segi kemampuan menari maupun penampilan. Dalam dunia tari, ada tekanan yang terus dihadapi, salah satunya untuk bisa memenuhi standar tertentu dalam hal penampilan, termasuk ketika tinggi dan berat badan menjadi salah satu syarat penilaian. Mischa juga mengakui bahwa dengan adanya media sosial, jadi lebih mudah buat membandingkan dirinya dengan orang lain. “Aku harus sering-sering ingetin diri sendiri, nggak apa-apa kalau ikutin waktuku sendiri dalam menjalani ini, yang penting aku terus berusaha buat mengembangkan diri secara step by step,” ucapnya.
Sadar bahwa nggak semua orang bisa mendapatkan support untuk bisa menekuni dunia tari

Foto: Dokumentasi Pribadi Mikaela Mischa
“Mommy, Daddy adalah support system terbaikku, aku bersyukur banget orang tua aku sangat mendukung aku untuk nari setiap hari dan memilih dunia tari ini sebagai hal serius yang aku jalani, karena aku tahu, nggak semua orang bisa mendapatkan support seperti yang aku dapatkan ini,” aku Mischa. Selain keluarga, buat Mischa dukungan juga datang dari dance family-nya. Dari menari, ia mendapatkan kesempatan untuk mencoba berbagai hal dan bertemu dengan begitu banyak teman yang luar biasa dan juga orang-orang yang sangat ia kagumi.
Terus menari dan terus memegang mimpinya di masa depan
“Aku bakalan terus melanjutkan journey aku di nari, bahkan maunya sampai aku tua,” ucap Mischa ketika ditanya soal masa depannya dalam menari. Ia punya mimpi untuk bertemu banyak orang dari berbagai belahan bumi lewat menari. Ia juga ingin terus bisa tampil di panggung internasional dan bisa terus mengajar. Sekarang ini, Mischa juga sudah memulai “karir” di dunia tari sebagai asisten guru tari, pernah juga menjadi dance floor choreographer, dan juga pernah mengajar tari untuk acara pertunjukkan sekolah. “Aku ingin terus berkembang dan belajar, baik sebagai penari, maupun sebagai pribadi,” harap Mischa.
Baca juga: Arundaya Elzidane Adiasputro: Menang Kalah Belakangan. Yang Penting Prosesnya.
Buat Mischa, “Learning is privilege”
Maka ketika dimintai tips yang bisa dilakukan anak-anak yang ingin serius di dunia tari seperti dirinya, Mischa menjawab dengan pasti, “Jangan pernah berhenti belajar”. Mischa sadar betul bahwa bisa belajar menari seperti sekarang ini merupakan sebuah privilege. Mischa juga cerita bahwa hal yang terus menjadikannya semangat maju adalah dengan tidak takut belajar hal baru dan keluar dari zona nyaman. “Karena buat aku, justru ketika aku ada di ruangan bersama orang-orang yang jauh lebih hebat dari aku, aku merasa tertantang dan di situlah momen yang bikin aku ngerasa semangat dan yakin bahwa aku bisa lebih baik lagi.”
Foto: Dokumentasi Pribadi
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS