Sorry, we couldn't find any article matching ''

Anak Sering Bilang "Terserah"? Ini 7 Penyebab Anak Sulit Mengambil Keputusan
Anak sering bilang “terserah” dan sulit mengambil keputusan? Kenali 7 penyebab menurut psikolog serta cara membantu anak agar lebih percaya diri memilih.
Mommies dan Daddies mungkin pernah mengalami situasi seperti ini. Saat ditanya ingin makan apa, memakai baju warna apa, atau memilih kegiatan saat akhir pekan, jawaban si Kecil hampir selalu sama, “Terserah…”
Tidak berhenti sampai di situ, terkadang situasinya justru berubah menjadi drama kecil. Anak terlihat bingung, lalu berkata, “Aku nggak tahu, aku nggak bisa milih.” Beberapa detik kemudian ia berubah pikiran lagi. “Merah aja deh… eh biru… nggak jadi, merah.” Rasa bingung saat harus menentukan pilihan bahkan bisa membuat anak menangis karena merasa kewalahan.
Banyak orang tua menganggap kebiasaan anak mengatakan “terserah” hanyalah fase biasa. Padahal, jika terjadi terus-menerus, kondisi ini bisa menjadi tanda bahwa anak sedang kesulitan mengambil keputusan, merasa takut salah, atau belum percaya diri terhadap pilihannya sendiri. Karena itu, penting bagi orang tua memahami penyebabnya sebelum terburu-buru mengambil keputusan untuk anak.
Sebagai orang tua, memang ada godaan untuk langsung mengambil alih keputusan demi mengakhiri drama tersebut. Padahal, kemampuan mengambil keputusan merupakan salah satu life skill yang akan terus dibutuhkan anak hingga dewasa nanti.
Melansir dari Psychology Today, psikolog anak sekaligus penulis Eileen Kennedy-Moore, Ph.D., menjelaskan bahwa setiap keputusan yang dibuat anak membantu mereka membangun identitas dirinya. Anak belajar memahami apa yang mereka sukai, apa yang penting bagi mereka, dan bagaimana mereka ingin menjadi diri sendiri. Itulah sebabnya, orang tua sebaiknya tidak selalu mengambil keputusan atas nama anak.
BACA JUGA:
Tahapan Kemampuan Anak dalam Mengambil Keputusan Sesuai Usia
Sebelum memahami penyebab anak sulit memilih, Mommies dan Daddies juga perlu mengetahui bahwa kemampuan mengambil keputusan berkembang seiring bertambahnya usia.
Mengutip panduan dari JetLearn, berikut perkembangan kemampuan anak dalam membuat keputusan.
Usia 5–7 tahun
Anak mulai mampu membuat pilihan sederhana di antara dua opsi yang diberikan orang tua.
Usia 8–12 tahun
Anak mulai bisa mengambil keputusan yang lebih kompleks, meski masih membutuhkan arahan dan diskusi bersama orang tua.
Usia 13 tahun ke atas
Remaja umumnya sudah mampu membuat keputusan secara lebih mandiri dengan pengawasan yang semakin minimal.
Perlu diingat, setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Jadi, bila kemampuan mengambil keputusan anak belum sepenuhnya sesuai usianya, bukan berarti ada yang salah. Orang tua tetap bisa melatih keterampilan ini secara bertahap melalui kesempatan-kesempatan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
BACA JUGA: 10 Ekstrakurikuler untuk Anak SD yang Pemalu, Bantu Lebih Percaya Diri
7 Penyebab Mengapa Anak Sulit Mengambil Keputusan
Lantas, mengapa anak sulit mengambil keputusan hingga tidak mau memilih dan lebih suka mengandalkan kata “terserah”? Mengutip analisis psikologi dari JetLearn dan Child Mind Institute, berikut tujuh penyebab utamanya.
1. Takut Salah
Anak sering merasa cemas berlebihan akan konsekuensi negatif dari pilihannya. Rasa takut ini bisa membuat mereka membeku dan memilih tidak membuat keputusan sama sekali.
Kenapa ini terjadi?
Sebagian anak terbiasa berpikir bahwa setiap keputusan harus benar. Akibatnya, mereka takut dikritik atau dimarahi jika pilihannya ternyata kurang tepat.
2. Takut Mengecewakan Orang Lain
Anak-anak sangat peka terhadap ekspektasi orang tua maupun teman sebaya. Kekhawatiran bahwa pilihannya tidak sesuai harapan orang-orang di sekitarnya bisa membuat mereka memilih untuk tidak memilih sama sekali.
3. Perfeksionisme dan Standar Terlalu Tinggi
Anak dengan kecenderungan perfeksionis merasa harus selalu membuat pilihan yang “sempurna”. Akibatnya, mereka menghabiskan waktu terlalu lama hanya untuk memilih hal-hal sederhana, seperti menentukan buku bacaan atau permainan.
4. Punya Kecenderungan Cemas dan Overthinking
Anak yang memiliki kecenderungan cemas biasanya memikirkan berbagai kemungkinan buruk dari setiap pilihan secara berlebihan. Mereka terus mempertimbangkan berbagai skenario hingga akhirnya terjebak dalam overthinking.
BACA JUGA: Overthinking di Kalangan Remaja Meningkat, Ini 9 Penyebab dan Cara Menghadapinya
5. Pengalaman Buruk di Masa Lalu
Jika sebelumnya anak pernah dikritik, dimarahi, atau dihukum karena sebuah keputusan yang dibuatnya, pengalaman tersebut dapat membuatnya lebih berhati-hati dan ragu mengambil keputusan berikutnya.
Mereka memilih mengatakan “terserah” karena takut mengulang pengalaman yang sama.
6. Fungsi Eksekutif Otak Belum Berkembang Sempurna
Fungsi eksekutif adalah kemampuan otak untuk merencanakan, mempertimbangkan pilihan, mengatur emosi, dan memecahkan masalah.
Karena kemampuan ini masih berkembang selama masa kanak-kanak hingga remaja, wajar jika sebagian anak membutuhkan waktu lebih lama untuk mengambil keputusan dibanding orang dewasa.
7. Terlalu Banyak Pilihan
Memberikan terlalu banyak pilihan justru bisa membuat anak kewalahan.
Fenomena ini dikenal sebagai choice overload, yaitu kondisi ketika banyaknya pilihan membuat seseorang justru kesulitan menentukan keputusan.
Alih-alih memilih, anak akhirnya menjawab, “Terserah…” atau meminta orang tua yang memutuskan.
Insight untuk orang tua: Memberikan dua atau tiga pilihan biasanya jauh lebih efektif dibanding menawarkan terlalu banyak opsi sekaligus.
Cara Membantu Anak Belajar Mengambil Keputusan
Membantu anak agar berani memilih adalah proses yang membutuhkan waktu. Kuncinya bukan memaksa anak cepat mengambil keputusan, melainkan memberi kesempatan untuk berlatih sedikit demi sedikit. Berikut langkah-langkah yang direkomendasikan para ahli.
1. Mulai Sejak Dini dengan Dua Opsi Sederhana
Dalam artikel di Child Mind Institute, Grace Berman, LCSW, pekerja sosial klinis anak, menyarankan orang tua memulai dari pilihan-pilihan sederhana.
“Mulailah mengajari anak membuat keputusan dengan memberikan dua pilihan yang sama-sama bisa disetujui orang tua. Misalnya, biarkan mereka memilih memakai sepatu merah atau biru, atau memilih dua menu makanan.”
Ini bukan berarti anak bebas menentukan semua aturan. Tetap berikan batasan yang jelas, tetapi biarkan mereka memiliki ruang untuk memilih di dalam batas tersebut.
Misalnya, anak boleh memilih buah untuk camilan, tetapi tidak memilih makan permen sepanjang hari. Seiring bertambahnya usia, orang tua juga bisa mulai mengalihkan tanggung jawab kecil kepada anak agar mereka semakin percaya diri mengambil keputusan.
2. Berikan Contoh Proses Berpikir Saat Mengambil Keputusan
Ajak anak berdiskusi secara terbuka ketika menghadapi pilihan yang berkaitan dengan dirinya. Misalnya, memilih menghadiri pesta ulang tahun teman atau mengikuti kegiatan keluarga.
Dr. Rachel Busman, PsyD, psikolog klinis anak, menjelaskan bahwa proses ini sangat berharga, dikutip dari Child Mind Institute.
“Orang tua sedang memodelkan keterampilan pemecahan masalah. Ini juga mengirimkan pesan bahwa pikiran dan opini anak itu penting.”
Saat berdiskusi, bantu anak dengan pertanyaan reflektif seperti:
- Keputusan apa yang perlu kamu ambil?
- Pilihan apa saja yang kamu punya?
- Apa kelebihan dan kekurangan masing-masing pilihan?
- Apa dampaknya bagi dirimu dan orang lain?
- Menurutmu, pilihan mana yang paling sesuai?
- Kalau hasilnya tidak sesuai harapan, apa rencana cadanganmu?
Dengan begitu, anak belajar bahwa mengambil keputusan adalah proses berpikir, bukan sekadar memilih secara asal.
3. Berikan Dukungan Secara Bertahap
Jika si Kecil tampak panik saat memilih baju atau menu makan setiap pagi, jangan langsung mengambil alih keputusannya.
Berikan dua pilihan, beri waktu untuk berpikir, lalu apresiasi ketika ia berhasil menentukan pilihan sendiri.
Anak juga perlu tahu bahwa tidak semua keputusan bersifat besar atau menentukan hidup. Memilih bekal sekolah atau warna kaus hari ini bukanlah keputusan yang harus dipikirkan terlalu lama.
4. Validasi Emosi Anak
Saat anak kecewa karena hasil pilihannya tidak sesuai harapan, jangan buru-buru mengecilkan perasaannya.
Kalimat seperti, “Ah, gitu aja kok sedih,” justru membuat anak merasa emosinya tidak dianggap.
Sebaliknya, tunjukkan empati.
“Mama tahu kamu kecewa. Memang rasanya tidak enak kalau hasil pilihan kita tidak sesuai harapan.”
Melansir Flora and Associates, validasi emosi membantu anak merasa dipahami sehingga lebih mudah bangkit dan belajar dari pengalaman tersebut.
5. Tunjukkan Kepercayaan dan Biarkan Anak Memilih
Langkah terakhir sekaligus yang paling penting adalah memberikan kepercayaan kepada anak.
Menurut Eileen Kennedy-Moore, Ph.D., ketika orang tua percaya pada kemampuan anak mengambil keputusan, mereka sebenarnya sedang membangun ketangguhan (resilience).
Anak akan belajar bahwa keputusan yang kurang tepat bukanlah akhir dari segalanya. Mereka masih bisa memperbaiki keadaan melalui pilihan berikutnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Dr. Rachel Busman.
“Jika kita memberi mereka kesempatan-kesempatan kecil untuk membuat keputusan sendiri hari ini, mereka akan tahu apa yang harus dilakukan saat menghadapi pilihan-pilihan yang jauh lebih besar di masa depan.”
BACA JUGA: 13 Kebiasaan Orang Tua yang Bisa Membuat Anak Tidak Percaya Diri
Pada akhirnya, kemampuan mengambil keputusan bukanlah bakat bawaan, melainkan keterampilan hidup yang terus berkembang melalui latihan. Jadi, saat anak kembali menjawab “terserah”, mungkin yang mereka butuhkan bukan orang tua yang langsung mengambil keputusan, melainkan pendamping yang sabar membantu mereka belajar memilih. Dengan latihan yang konsisten dan dukungan yang tepat, rasa percaya diri anak akan tumbuh sedikit demi sedikit hingga mereka berani menentukan pilihannya sendiri.
Cover: Magnific
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS