
Hubungan dengan mertua tetap bisa harmonis tanpa harus selalu mengalah. Ini 7 cara menetapkan batasan dengan sopan agar hubungan keluarga tetap baik.
Pernah mengiyakan permintaan mertua padahal sebenarnya keberatan? Tidak sedikit menantu yang akhirnya berkata “iya” meski sebenarnya ingin menolak. Mulai dari urusan mengasuh anak, jadwal liburan keluarga, sampai keputusan rumah tangga, banyak menantu memilih diam demi menjaga perasaan. Namun, jika dibiarkan terus-menerus, kebiasaan ini justru bisa menumpuk menjadi stres dan memicu konflik dengan pasangan.
Tidak semua orang mudah berkata “tidak” kepada mertua. Padahal, menetapkan batasan yang sehat dengan mertua bukan berarti memutus hubungan, melainkan menjaga agar semua pihak tetap merasa dihargai.
Menurut psikolog keluarga yang dikutip Psychology Today, batasan yang sehat dalam keluarga besar justru dapat memperkuat pernikahan. Kuncinya adalah menyampaikan kebutuhan dengan tenang, tanpa marah, dan tetap menjaga hubungan yang hangat.
BACA JUGA: 16 Tanda Toxic Family yang Sering Tidak Disadari dan Dampaknya pada Anak
Ada banyak alasan mengapa menantu merasa tidak enak menolak permintaan mertua, di antaranya:
Kabar baiknya, kemampuan menetapkan batasan dengan mertua bisa dipelajari. Dengan komunikasi yang tepat, Mommies tetap bisa menjaga hubungan baik dengan mertua tanpa mengorbankan kebutuhan keluarga sendiri.

Sebelum berbicara dengan mertua, pastikan Mommies dan pasangan sudah berada di pihak yang sama. Tentukan bersama hal-hal apa yang masih bisa ditoleransi dan mana yang tidak. Ketika pasangan kompak, komunikasi dengan mertua pun akan terasa lebih mudah.
Jika ada sesuatu yang mengganggu, sampaikan sejak awal dengan nada yang tenang. Misalnya, “Ma, terima kasih sudah membantu mengurus anak-anak. Tapi untuk urusan jam tidur, kami ingin tetap mengikuti aturan yang sudah kami buat di rumah.”
Dengan begitu, mertua tidak akan merasa diserang atau disalahkan.
Hindari penjelasan yang terlalu panjang atau meminta maaf berlebihan. Coba gunakan kalimat seperti:
Batasan yang sehat dimulai dari komunikasi yang jelas dan konsisten. Semakin jelas pesan yang disampaikan, semakin kecil risiko terjadi salah paham.
Saat sudah menikah dan memiliki anak, prioritas utama tentu adalah keluarga inti. Bukan berarti hubungan dengan mertua menjadi tidak penting, tetapi kebutuhan rumah tangga sendiri tetap harus didahulukan.

Untuk topik yang cukup sensitif—misalnya pola asuh anak, keuangan, atau frekuensi kunjungan—sering kali akan lebih efektif jika pasangan yang menyampaikan langsung kepada orang tuanya. Cara ini dapat mengurangi risiko kesalahpahaman dan membuat pesan lebih mudah diterima.
Banyak orang menganggap menetapkan batasan sebagai bentuk penolakan atau ketidakhormatan. Padahal, batasan justru membantu hubungan keluarga berjalan lebih sehat. Batasan bukan dibuat untuk mengendalikan orang lain, melainkan untuk melindungi kesejahteraan diri sendiri dan hubungan dalam keluarga.
Menghormati orang tua tidak berarti harus selalu mengiyakan semua permintaan mereka.
Mertua mungkin membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri, terutama jika sebelumnya mereka terbiasa terlibat dalam banyak keputusan keluarga. Tetaplah menunjukkan rasa hormat dan apresiasi atas perhatian mereka. Ungkapkan rasa terima kasih atas bantuan atau dukungan yang diberikan.
BACA JUGA: Bisa Ganggu Keharmonisan! Ini 13 Ciri Mertua Tidak Menghargai Menantu dan Tips Menghadapinya
Belajar berkata “tidak” kepada mertua memang tidak selalu mudah. Namun, ketika disampaikan dengan hormat dan penuh empati, batasan yang sehat dengan mertua justru membantu hubungan menjadi lebih baik. Mertua tetap merasa dihargai, pasangan merasa didukung, dan keluarga kecil Mommies pun bisa menjalani keseharian dengan lebih nyaman.