Inspiring Mom: Lanny, Ibu di Balik 2 Putri yang Diterima di ITB dan NUS

MD Powerful People

dewdew・in 5 hours

detail-thumb

Terlihat wow saat anak diterima di ITB dan NUS. Tapi jangan dikira tidak ada drama. Penuh perjuangan juga dan air mata yang tak selalu kelihatan dari luar.

Setiap kali orang mendengar bahwa kedua anaknya diterima di ITB dan NUS lewat jalur beasiswa penuh, reaksi pertama biasanya adalah, “Yah, terang aja anaknya pada pinter-pinter gitu. Privilegenya juga banyak. Pasti gampanglah.” Eits, tunggu dulu. Coba cek dulu obrolan kami dengan Meilanny Syurfie, yang akrab dipanggil Lanny, istri dari Tjendry Herianto, seorang karyawan korporat, sekaligus ibu dari dua orang putri. “Semua pasti punya dramanya sendiri,” tegas Lanny yang punya cerita banyak di balik layar. Cerita yang jauh lebih manusiawi, penuh perjuangan, kompromi, dan air mata yang nggak selalu kelihatan dari luar. Relate banget, kok, sama kita-kita ini.

Putri sulungnya, Olga Alexia Herianto, saat ini kuliah di prodi Teknik Industri, ITB dengan beasiswa penuh sejak semester 3 hingga selesai. Adiknya, Hana Kaylene Herianto, baru saja lulus SMA dan saat ini memulai langkahnya di jurusan Electrical Engineering di National University of Singapore lewat ASEAN Scholarship. Dua pencapaian besar, yang menurut Lanny sendiri, semua itu bukan soal privilege, melainkan buah dari perjuangan. Sekali lagi, bukan perjuangan yang mudah.

Boleh cerita sedikit soal keseharian kamu gimana? Ngapain aja, sih?

Sebenarnya nggak jauh berbeda, kok, sama ibu-ibu lain, terutama ibu-ibu yang juga seorang karyawan. Berjibaku dengan waktu, menyiapkan segala sesuatu untuk keluarga, mengantarkan kedua anak saya ke sekolah, sekaligus menjalankan kewajiban sebagai seorang karyawan korporat.

Namun ketika setiap pagi kami menempuh perjalanan sekitar satu jam dari rumah ke sekolah—lokasi rumah kebetulan di pinggiran Jakarta—dilanjutkan dengan saya menuju ke kantor setelahnya, saya berusaha untuk membangun kedekatan dengan anak-anak. Ngobrol dari hal-hal yang esensial, bahkan obrolan random, menurut saya penting dilakukan. 

Karena saat ini si Kakak kuliah di ITB Bandung, sebisa mungkin kami berbagi waktu. Mengunjungi dia di Bandung secara rutin, tak lupa juga mendampingi putri bungsu kami yang aktif berkegiatan dan mengikuti lomba-lomba non-akademik ketika di SMA. Itulah keseharian yang saya dan suami lakukan. Capek memang, tapi nggak apa-apa. Dengan segala keterbatasan waktu tersebut, kami terus mengupayakan kualitas bonding yang kuat.

Banyak orang melihat dua anak yang masuk ITB dan NUS langsung berasumsi anaknya jenius dari lahir dan punya banyak privilege. Apa yang sebenarnya nggak kelihatan dari luar selama proses itu?

itb nus

Sebenarnya perjuangan mereka, sama seperti yang lainnya, tidak mudah. Buat saya, mereka tidak punya privilege, semua itu buah dari perjuangan, perjuangan si anak dan perjuangan orang tua.

Saya juga memberi contoh ke mereka, bagaimana perjuangan yang saya jalani dalam hidup. Sejak kecil, kalau lagi jalan-jalan, ada dua hal yang wajib dikunjungi, yakni menyempatkan diri mengunjungi gereja setempat, walau hanya berdoa di Gua Maria, serta mengajak mereka mengunjungi universitas di kota atau negara setempat, untuk membuka wawasan, menginspirasi agar mereka giat belajar dan mempunyai tujuan.

Satu-dua tahun pertama di SMA, tuh, menurut saya sangat krusial. Portfolio tidak bisa dibangun dalam sekejap, perlu komitmen, disiplin, serta kerja keras. Itu yang selalu saya tekankan ke mereka. Jadi, one step at a time, pada saat liburan kenaikan kelas, terutama di kala mereka mulai gabut, saya meminta mereka untuk melakukan satu hal positif untuk mulai membangun portfolio, misalnya dengan membuat CV, LinkedIn, essay. 

Menjelang kenaikan kelas 12, mulai persiapan SAT, IELTS, CSCA. Semua pembekalan tersebut mereka pelajari sendiri dari website, tanpa bimbingan. Selain itu, saya juga terus mendorong mereka banyak beraktivitas di sekolah, mencari pengembangan diri yang positif, jadi tidak hanya belajar yang giat.

Sementara itu di satu sisi, saya memangkas keinginan pribadi untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Kami menanamkan nilai bahwa pendidikan adalah investasi yang utama. Dari POV saya dan suami, tidak ada warisan harta, melainkan memfasilitasi dan memperjuangkan pendidikan yang terbaik, memberikan kesempatan mencoba berbagai hal non-akademik, dan dari pengalaman hidup juga tentunya. Berhubung saya suka travelling, jadi saya selalu mengajak mereka apabila ada rejeki dan kesempatan, selain untuk bonding, juga untuk menambah wawasan.

Sebagai ibu pekerja, saya harus mengatur waktu dengan baik, yakni lebih selektif, mengurangi kegiatan yang tidak perlu di luar, sehingga lebih bisa mendampingi dan selalu ada di momen khusus untuk anak-anak, terutama ketika mereka sedang membutuhkan. Saya selalu berusaha memberi semangat apabila mereka sedang down. Saya berusaha menjadi support system yang baik dengan mendukung mereka aktif berorganisasi, mengembangkan potensi diri, serta berusaha menjadi pendengar yang baik, meski terkadang, ada juga momen-momen kepala saya sendiri lagi semrawut.

Kami juga bukan tipe orangtua yang memberikan hadiah untuk kenaikan kelas maupun untuk prestasi yang mereka capai, tapi setiap pencapaian, baik besar maupun kecil, dirayakan dengan makan bersama di luar.

Dari semua tahapan mendampingi anak, dari SD sampai persiapan masuk universitas, momen mana yang paling menguras energi, baik fisik maupun emosional?

Tentu saja saat mereka mengikuti seleksi masuk universitas. Olga dengan ITBnya, dan Hana dengan NUSnya. Prosesnya panjang dan tidak selalu mulus-mulus saja. Benar-benar yang paling menguras fisik dan mental (plus air mata) tentunya. Banyak yang menyangka ketika mereka lahir dengan kapasitas otak yang mumpuni, seolah semuanya datang begitu mudah. Padahal, di balik pencapaian itu, ada drama, air mata, dan perjuangan yang sama nyatanya seperti anak-anak lain, kok.

Sebagai seorang ibu, saya berusaha menjadi ibu yang update akademik, secara proaktif mencari informasi dari berbagai sumber, memantau peluang, maupun syarat beasiswa yang tersedia, sehingga dapat saling berbagi informasi ke anak. Percayalah, kita, tuh,  tidak bisa menyerahkan semuanya ke mereka, karena bagaimana pun anak juga memiliki keterbatasan waktu dan pengalaman. Sementara ayahnya lebih berperan sebagai mentor, membantu apabila mereka kesulitan dalam mata pelajaran tertentu, sampai berlatih untuk simulasi wawancara beasiswa.

Saya mengkomunikasikan ke anak-anak sejak awal apabila kami hanya bisa membiayai kuliah di PTN, karena ayahnya sudah memasuki usia pensiun, dengan penekanan bahwa kuliah di luar negeri dengan jalur beasiswa memberikan kebanggaan tersendiri, karena ini adalah bukti nyata dari prestasi akademik maupun non-akademik, daya juang, kerja keras, dan kemandirian yang telah dibangun selama sekolah. Kami juga tidak membekali dengan bimbel sejak kecil, karena ingin melatih kemandirian, mempunyai daya juang, serta agar mereka bisa eksplorasi kemampuan mereka sendiri.

Baca juga: Arundaya Elzidane Adiasputro: Menang Kalah Belakangan. Yang Penting Prosesnya.

Apa yang dilakukan yang membuat kamu bangga sebagai seorang Ibu dan melihat anak-anak bisa sampai di titik ini?

Kebanggaan terbesar saya adalah dapat menularkan semangat pantang menyerah kepada anak-anak.

Olga di ITB, Hana di NUS, dua anak dengan karakter yang pasti berbeda. Apa perbedaan terbesar di antara keduanya yang justru mengajarkan sesuatu sebagai seorang ibu?

Yang sering saya syukuri, dua anak saya itu adalah anak-anak yang punya semangat dan komitmen yang cukup tinggi untuk sampai di titik saat ini, titik yang membahagiakan diri saya. Juga titik yang mengingatkan saya untuk selalu bersyukur kepada Tuhan dan terus mengupayakan yang terbaik untuk mereka, termasuk agar mereka terus dapat saling mendukung satu sama lain.

Tiap anak, walaupun dilahirkan oleh ibu yang sama, dididik dengan cara yang sama, tapi mereka akan berkembang dengan kepribadian dan potensi yang beda-beda. Kedua anak saya punya karakter yang agak kontras. Yang sulung di ITB, lebih introvert, sedangkan yang bungsu senang ngobrol. Kala kami sekeluarga berkumpul, kita harus bisa membawa suasana dengan baik, supaya semua orang bisa menyuarakan pendapatnya.

Intinya, semua anak unik, punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan kita tidak boleh membanding-bandingkan. Jika si sulung lebih berhasil di satu hal, si bungsu juga harus ikut mensyukuri, demikian juga sebaliknya, karena kita adalah satu keluarga.

Banyak ibu di luar sana yang sedang berjuang mendampingi anak dan penuh tekanan. Apa satu hal yang benar-benar ingin kamu sampaikan kepada mereka?

Sebagai seorang ibu yang juga bekerja kantoran, saya ingin kasih pesan juga ke sesama ibu pekerja. Kita mungkin tidak selalu punya banyak waktu luang atau tenaga, tapi hal ini bukanlah penghalang. Dengan cinta yang tulus, tekad yang kuat, dan doa yang tidak pernah putus, yakinlah kita bisa menyalakan cahaya masa depan bagi anak-anak kita.

Kehidupan anak kita masih panjang. Apa yang mereka perjuangkan sekarang akan menjadi bekal mereka di masa mendatang. Jadi, jangan mudah menyerah untuk menggapai cita-cita dan mimpi. Perjuangan mungkin terasa berat, tapi hasilnya akan dinikmati sepanjang hayat.

Baca juga: Dewi Yulianti, Single Mom Nggak Harus Kuat Terus

Boleh tahu, nggak, kira-kira, apa yang ingin disampaikan ke anak-anak nanti, saat usia mereka sudah 30 tahun?

Ketika nanti usia mereka sudah 30 tahunan dan masing-masing sudah punya keluarga, saya berharap bisa dengan mantap mengatakan kepada mereka: Mami bahagia kalian sudah ada di titik ini sekarang. Tetaplah teguh dengan jalan hidup yang sudah diambil, teruslah berproses.

Setiap kesalahan dan pencapaian adalah bagian dari perjalanan hidup. Pasti selalu ada yang kurang, yang tidak sesuai harapan. Mari diperbaiki yang kurang itu tanpa harus menyesali pilihan yang sudah diambil. Terus melangkah dengan penuh keyakinan dan kebaikan. Mami selalu mendoakan yang terbaik untuk setiap langkahmu, dari dulu, sekarang, hingga nanti.