banner-detik
EDUCATION

Arundaya Elzidane Adiasputro: Menang Kalah Belakangan. Yang Penting Prosesnya.

author

dewdewin 5 hours

Arundaya Elzidane Adiasputro: Menang Kalah Belakangan. Yang Penting Prosesnya.

“Tidak ada ilmu yang sia-sia. Apa pun yang dipelajari saat persiapan lomba pasti akan berguna banget buat masa depan,” tegas Arundaya Elzidane Adiasputro

Masyarakat awam (bisa jadi termasuk saya) punya semacam bayangan baku soal sosok “anak berprestasi”. Biasanya, nih, anak-anak yang langganan juara kompetisi, punya gelar lulusan terbaik, secara ciri-ciri bisa dilihat sebagai anak yang  serius, jadwalnya padat dari subuh sampai malam, dan sepertinya nggak punya waktu buat hal-hal “nggak penting” kayak main game atau nonton YouTube. Bayangan itu langsung runtuh begitu saya ngobrol dengan Arundaya Elzidane Adiasputro, lulusan siswa SMP Labschool Cirendeu yang lahir di Jakarta, 2 April 2011. Anak yang akrab disapa El ini ternyata jauh dari stereotipe ‘anak berprestasi’ itu tadi. Justru karena itu, ceritanya jadi terasa lebih jujur, dan menurut saya, layak buat dibagikan ke sesama orang tua yang sering deg-degan mikirin masa depan anak.

Awalnya tak tertarik ikut kompetisi

Hal pertama yang bikin saya kaget waktu nanya soal awal mula keikutsertaannya di lomba,, dia jujur banget bilang awalnya nggak tertarik. “Awalnya saya tidak begitu tertarik mengikuti lomba-lomba karena saya merasa sudah cukup sibuk dengan urusan OSIS MPK dan juga akademik di sekolah,” cerita El. Sungguh ini, tuh, relate banget sama anak-anak kita yang sering “menolak” tawaran ikut kegiatan karena sudah merasa cukup penuh.

Tapi ada satu hal yang ternyata jadi pintu masuknya, yaitu Bahasa Inggris. “Saya memang lebih suka pelajaran Bahasa Inggris, jadi saya kurang minat kalau lombanya itu bukan yang Bahasa Inggris,” akunya. Begitu ada tawaran ikut World Scholar’s Cup (WSC), El pun langsung tertarik. Menurutnya, ini kesempatan bagus buat nambah pengalaman dan portofolio, padahal sebelumnya dia memang jarang ikut lomba.

Dan ternyata, keputusan coba-coba ini berbuah manis. Di WSC Jakarta Regional Round 2025, dia pulang dengan Trophy Team Writing, Silver Medal Team Debate, Gold Medal Debate, dan Silver Medal Collaborative Writing. Tak berhenti di situ, El lanjut ke WSC Bangkok Global Round 2026, dan membawa pulang lagi Silver Medal Team Debate, Silver Medal Team Scholar’s Bowl, Gold Medal Debate, dan Silver Medal Collaborative Writing. Saya yang dengar aja ikut bangga, bagaimana orang tuanya, ya? Beyond proud, I guess.

Menurutnya, ia anak SMP biasa-biasa aja

Saya sengaja nanya soal keseharian dia di luar lomba, soalnya saya pribadi penasaran, anak yang segudang prestasinya ini ngapain aja sih kalau enggak lagi latihan debat?

“Di luar sekolah dan latihan, keseharian saya itu biasa aja, sama seperti siswa lain Insya Allah,” jawabnya, sambil ketawa kecil. Hobinya? Editing video. “Saya suka banget sama proses ngedit di rumah, dan selalu puas saat lihat hasil videonya udah jadi,” ungkapnya. Selingannya, ya standar anak SMP, seperti nonton film, entah di bioskop atau rebahan di rumah.

Sebagai orang yang sering nulis soal parenting, saya jadi mikir mungkin ini salah satu hal yang sering kita lupa sebagai orang tua. Anak yang berprestasi nggak harus kehilangan waktu buat jadi “anak biasa”. Justru dari ruang buat hobi dan hal-hal santai itulah, mereka bisa tetap punya energi buat hal-hal yang lebih serius.

Menang itu nggak mudah, ada harga yang harus dibayar

arundaya elzidane adiasputro

Waktu nanya momen paling berkesan, jawabannya langsung mengarah ke WSC Jakarta Regional. “Saya nggak nyangka tim saya bisa dapat trofi untuk Collaborative Writing. Begitu diumumkan kalau seluruh tim Labschool lolos ke Global Round di Bangkok, rasanya senang banget dan sangat bersyukur, Alhamdulillah,” kenangnya, masih dengan nada antusias.

Tapi semua itu enggak datang gratis. “Proses latihan menuju hari-H itu yang menurut saya paling menantang. Kita harus latihan debat sangat serius selama berbulan-bulan dengan berbagai coach, dan proses menahan capek selama latihan itu demi bisa mendapatkan hasil yang bagus,” jelasnya.

“Kalau gagal, pasti ada rasa sedih, tapi saya enggak mau larut lama-lama sampai berhenti berjuang. Bagi saya, hidup itu penuh trial and error. Gagal itu hal yang pasti akan terjadi, selama kita mau coba terus dan nggak menyerah, Insya Allah nanti ada jalan untuk menang,” ujarnya, dengan nada yang jauh dari sok bijak, tapi tetap mengena.

Baca juga:  Jesslyn Anastasia Tambunan: Mengubah Hobi Menjadi Prestasi dengan Suara Emasnya

Bagi waktu yang ternyata nggak seribet itu

Ketika ditanya soal pembagian waktu, jawaban El ternyata tak seribet itu. Kuncinya konsisten sama agenda. Jujur pas mendengar hal itu, saya membatin, anak umur segini udah punya panduan agenda yang dia bikin sendiri, keren, sih. “Biasanya saya bikin jadwal mingguan. Tiap akhir minggu, saya lihat dulu agenda minggu depan, misalnya hari apa ada rapat OSIS atau latihan lomba. Kalau ternyata kepadatannya bikin kecapekan, latihannya bisa diundur,” paparnya.

Selayaknya anak remaja pada umumnya, ada support system yang memang selalu mengiringi El. Iya, betul. Orang tuanya. “Saya biasanya ngobrol dengan orang tua dan minta saran dari mereka. Yang paling penting, di antara semua kesibukan itu, saya tetap berusaha jaga me time supaya enggak merasa stres atau terbebani.”

Pas lagi jenuh, solusinya juga simpel, balik lagi ke hobi. “Nonton film, ngedit video, atau nonton YouTube. Itu sangat efektif buat naikin mood saya,” katanya. Plus, quality time sama keluarga dan teman-teman seperjuangan di WSC juga jadi pelepas penat andalan. “Pas lagi bosan atau tegang waktu latihan, kita biasanya main game bareng, pernah juga main Roblox, biar nggak stres.”

Ternyata anak yang berprestasi sekali pun, butuh ruang buat main Roblox sama temannya. Sesederhana itu.

Menang kalah itu belakangan, yang penting prosesnya

Saya tanya, apa pesan El buat teman-teman seusianya yang masih ragu mau ikut kompetisi serupa. Jawabannya simpel, tapi rasanya layak banget dicatat di buku catatan parenting kita semua. “Tips dari saya, jangan ragu buat coba dulu aja. Jangan takut kalah, karena enggak ada ilmu yang sia-sia. Apa pun yang kita pelajari saat persiapan lomba pasti akan berguna banget buat masa depan,” tegasnya.

Soal rencana ke depan, dia juga enggak neko-neko. “Saya ingin terus bisa berprestasi, biar bisa membanggakan kedua orang tua saya, membanggakan diri sendiri, dan mengumpulkan banyak pengalaman serta prestasi yang berharga. Menang atau kalah itu belakangan, yang penting ilmu yang saya dapat pasti akan selalu bermanfaat untuk masa depan,” ujarnya, sederhana tapi dalam.

Punya orang tua yang nggak selalu nuntut “Harus Nomor Satu”

Hal terakhir yang saya tanyakan, sebagai sesama orang tua, ya, soal peran ayah dan ibunya, Adi Septyo Noegroho dan Imameta Kusmudiastri. “Alhamdulillah, papa dan mama selalu bilang mereka sangat bangga sama saya. Apalagi kemarin saat kelulusan, Alhamdulillah saya mendapat predikat lulusan terbaik di angkatan. Mereka selalu support dan mendoakan saya tanpa henti. Apa pun itu, baik lomba, organisasi, maupun ujian sekolah,” tuturnya.

Tapi yang paling saya catat baik-baik (dan mungkin perlu kita catat juga sebagai orang tua) pesan orang tuanya bukan soal “harus menang terus”. “Pesan dari orang tua saya, saya diminta untuk terus belajar dan menjaga semangat ini sampai jenjang pendidikan selanjutnya. Tapi mereka juga berpesan jangan terlalu ambisius sampai stres harus selalu nomor satu. Jadi saya harus tetap me time, tapi tetap berusaha meraih prestasi dan terus belajar,” tutupnya.

Baca juga: Inspiring Single Mom: Rikha Rosalina. Awalnya Hancur, Endingnya Berdiri Tegak

Sering kali terlalu fokus ke hasil, apakah itu medali, ranking, atau sertifikat (yah meski ketika pendaftaran ke sekolah lanjutan itu semua diminta, sih), sampai mungkin saja terlupa bahwa anak-anak yang akhirnya “berhasil” itu justru sering dibesarkan dengan ruang buat gagal, ruang buat main, dan orang tua yang nggak menuntut nomor satu setiap saat. El bukan cerita tentang anak ajaib yang lahir langsung jago debat. Dia cerita tentang anak yang dikasih kesempatan buat coba, dikasih ruang buat capek, dan dikasih izin buat tetap jadi anak SMP biasa di sela-sela semua prestasinya itu.

Share Article

author

dewdew

Mother of Two. Blogger. Make-Up Lover. Skin Care Amateur. Beginner Baker. Entrepreneur Wannabe. And Everything in Between. www.therusamsis.wordpress.com

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan