
Sering bilang “nanti ya” pada anak? Kebiasaan ini ternyata bisa membuat anak merasa diabaikan dan memengaruhi perkembangan emosionalnya. Simak penjelasannya.
Pernah nggak, Mommies atau Daddies lagi sibuk membalas chat kantor, memasak, atau menyelesaikan pekerjaan rumah, lalu si kecil datang sambil berkata, “Ma, lihat gambar aku!” atau “Ayah, main bentar yuk.”
Respons yang keluar hampir otomatis adalah, “Nanti ya.”
Tanpa disadari, kebiasaan sering mengatakan “nanti ya” pada anak bisa membuat mereka merasa diabaikan, terutama jika tidak diikuti dengan perhatian yang dijanjikan.
Kalimat ini memang terdengar sederhana. Bahkan, rasanya wajar karena orang tua memang nggak mungkin selalu bisa langsung memenuhi setiap ajakan atau permintaan anak. Masalahnya, ketika kebiasaan bilang “nanti ya” pada anak dilakukan terlalu sering tanpa ada tindak lanjut, anak bisa menangkap pesan yang berbeda. Bukan sekadar “Mama lagi sibuk”, tetapi justru “Aku nggak penting.”
Kalimat yang tampaknya sepele ini ternyata bisa memengaruhi kebutuhan emosional anak jika terus berulang dalam keseharian.
BACA JUGA: 10 Hak Anak yang Sering Diabaikan Orang Tua, Nomor 7 Masih Sering Terjadi
Bagi orang dewasa, kata “nanti” berarti menunda beberapa menit atau beberapa jam. Namun, bagi anak, terutama balita hingga usia sekolah awal, konsep waktu belum berkembang sempurna.
Yang mereka pahami hanyalah bahwa saat mereka membutuhkan perhatian, respons yang diterima adalah penolakan sementara yang sering kali tidak pernah benar-benar diwujudkan.
Akibatnya, anak bisa mulai berpikir bahwa cerita, pertanyaan, atau perasaannya bukan sesuatu yang penting untuk didengar.
Berbagai penelitian tentang perkembangan anak menunjukkan bahwa respons orang tua yang konsisten dan penuh perhatian membantu membangun rasa aman (secure attachment). Sebaliknya, ketika kebutuhan emosional anak terlalu sering tertunda tanpa kejelasan, mereka dapat mengalami rasa kecewa, bingung, bahkan merasa tidak dianggap.

Sesekali mengatakan “nanti ya” tentu bukan masalah. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kalimat ini menjadi kebiasaan setiap hari.
Berikut beberapa dampak mengabaikan anak yang dapat muncul jika kebiasaan mengatakan “nanti ya” terjadi terus-menerus:
Banyak orang tua mengira anak hanya membutuhkan makanan, pakaian, dan pendidikan. Padahal, perhatian penuh selama beberapa menit pun merupakan bagian penting dari kebutuhan emosional mereka.
Tenang, Mommies dan Daddies. Artikel ini bukan berarti orang tua harus langsung menghentikan semua pekerjaan setiap kali anak memanggil.
Yang dibutuhkan anak sebenarnya bukan respons yang instan, melainkan respons yang jelas dan dapat dipercaya.
Daripada hanya berkata, “Nanti ya,” coba beri waktu yang lebih spesifik.
Misalnya:
“Mama lagi kirim satu email dulu. Setelah selesai, lima menit lagi kita lihat gambar kamu, ya.”
Yang tak kalah penting, benar-benar tepati janji tersebut.
Cara sederhana ini membuat anak belajar menunggu sekaligus merasa bahwa dirinya tetap menjadi prioritas.

Salah satu bentuk komunikasi orang tua dan anak yang sehat adalah memberikan perhatian penuh meski hanya sebentar.
Saat anak berbicara, hentikan aktivitas selama beberapa detik, lakukan kontak mata, lalu beri respons seperti:
Respons seperti ini membantu anak merasa divalidasi. Mereka tahu bahwa orang tuanya mendengar, bukan sekadar mengabaikan.
Dalam jangka panjang, komunikasi kecil seperti ini menjadi fondasi hubungan yang hangat di dalam keluarga.
BACA JUGA: Anak Mulai Menjauh dari Orang Tua? Ini 7 Penyebab yang Sering Tidak Disadari
Di sisi lain, penting juga untuk mengingat bahwa menjadi orang tua bukan berarti harus selalu tersedia setiap detik.
Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ada rasa lelah, bahkan ada hari-hari ketika energi benar-benar habis.
Kalau sesekali mengucapkan “nanti ya”, itu sangat manusiawi.
Yang perlu dihindari adalah ketika kalimat tersebut menjadi kebiasaan tanpa tindak lanjut. Inilah salah satu kesalahan komunikasi orang tua yang sering terjadi tanpa disadari.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka hanya membutuhkan orang tua yang hadir, menepati janji, dan membuat mereka merasa didengar.
Jadi, mulai hari ini, coba perhatikan lagi seberapa sering kita mengucapkan “nanti ya”. Bisa jadi, yang sebenarnya dibutuhkan anak bukan waktu berjam-jam, melainkan lima menit perhatian penuh yang membuat mereka merasa dicintai dan dihargai.