Sorry, we couldn't find any article matching ''

Anak Mulai Menjauh dari Orang Tua? Ini 7 Penyebab yang Sering Tidak Disadari
Anak mulai menjauh dari orang tua? Kenali 7 penyebab yang sering tidak disadari serta cara membangun kembali hubungan yang hangat dengan anak.
Dulu, setiap pulang sekolah anak langsung bercerita panjang lebar. Mulai dari teman yang usil, guru yang lucu, sampai bekal makan siang yang habis ditukar.
Namun belakangan, Mommies mungkin mulai merasa ada jarak yang pelan-pelan muncul.
Saat ditanya bagaimana harinya di sekolah, jawabannya hanya singkat, “Nggak ada.”
Ketika diajak mengobrol, anak lebih memilih bermain gadget, memakai headset, atau masuk ke kamar.
Sebagai orang tua, wajar kalau Mommies mulai bertanya-tanya, “Kenapa anak menjauh dari orang tua? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?”
Tenang, Mommies. Hubungan yang mulai renggang biasanya tidak terjadi dalam semalam. Ada banyak penyebab anak menjauh dari orang tua yang sering kali muncul tanpa disadari, baik karena proses tumbuh kembang mereka maupun pola komunikasi yang perlahan berubah di rumah.
Menurut Harvard Center on the Developing Child, hubungan yang responsif antara orang tua dan anak membantu membangun fondasi perkembangan otak, kesehatan mental, serta kemampuan anak mengelola emosi. Hubungan yang hangat sejak dini juga membuat anak merasa lebih aman untuk terbuka kepada orang tuanya.
Kabar baiknya, hubungan yang mulai merenggang bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Langkah pertama adalah memahami apa yang sebenarnya membuat anak mulai menjaga jarak.
7 Penyebab Anak Mulai Menjauh dari Orang Tua

Foto: Pexels
Setiap anak tentu memiliki karakter yang berbeda. Namun, beberapa penyebab berikut menjadi alasan yang paling sering membuat hubungan orang tua dan anak perlahan terasa tidak sedekat dulu.
1. Anak Sedang Memasuki Masa Pubertas
Salah satu penyebab paling umum adalah perubahan yang terjadi saat anak memasuki masa pubertas.
Di fase ini, anak mulai mencari jati diri, belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri, dan membutuhkan ruang pribadi yang lebih besar dibandingkan saat masih kecil.
Karena itu, jangan langsung menganggap anak tidak sayang lagi hanya karena ia lebih sering menghabiskan waktu di kamar atau memilih berkumpul dengan teman-temannya.
Banyak Mommies yang mengira anak berubah menjadi cuek. Padahal, sering kali mereka hanya sedang belajar mengenal dirinya sendiri.
Dikutip dari HealthyChildren.org, masa pubertas bukan hanya ditandai oleh perubahan fisik, tetapi juga perkembangan otak yang membuat remaja mulai membentuk identitas diri, lebih mengutamakan hubungan dengan teman sebaya, dan belajar mengambil keputusan secara mandiri. Karena itu, perubahan sikap anak pada masa ini merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang.
2. Anak Takut Dihakimi Setiap Kali Bercerita
Coba ingat kembali, bagaimana respons Mommies saat anak bercerita melakukan kesalahan?
Apakah Mommies lebih sering mendengarkan sampai selesai, atau tanpa sadar langsung memberi nasihat?
Misalnya saat anak berkata, “Tadi aku dimarahi guru.”
Lalu spontan kita menjawab, “Makanya jangan bandel.”
Padahal, bisa jadi saat itu anak belum membutuhkan solusi. Ia hanya ingin didengarkan.
Tanpa disadari, respons yang terlalu cepat mengoreksi bisa membuat anak merasa tidak aman untuk terbuka.
Lama-kelamaan, mereka memilih menyimpan cerita sendiri karena khawatir akan dimarahi, disalahkan, atau dianggap berlebihan.
Padahal, yang sering dibutuhkan anak bukan jawaban instan, melainkan orang tua yang mau mendengarkan sampai selesai.
Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa interaksi serve and return, yaitu ketika orang tua benar-benar mendengarkan dan merespons anak dengan penuh perhatian, membantu membangun hubungan yang aman sekaligus memperkuat kemampuan anak dalam berkomunikasi.
3. Orang Tua Terlalu Sibuk
Kesibukan bekerja memang tidak bisa dihindari. Apalagi bagi banyak Mommies yang harus membagi waktu antara pekerjaan, rumah, dan mengurus keluarga.
Namun, dari sudut pandang anak, kasih sayang sering kali tidak diukur dari banyaknya hadiah atau fasilitas yang diberikan.
Mereka justru lebih mengingat momen-momen sederhana, seperti makan malam bersama, ditemani mengerjakan PR, atau sekadar mendengarkan cerita sebelum tidur.
Bagi anak, sepuluh menit bermain bersama tanpa distraksi sering kali terasa jauh lebih berharga daripada mainan baru yang mahal.
Menurut Harvard Center on the Developing Child, interaksi yang responsif dan dilakukan secara konsisten setiap hari menjadi fondasi penting dalam membangun rasa aman dan kepercayaan anak kepada orang tua. Bahkan aktivitas sederhana seperti bermain bersama atau mengobrol sebelum tidur dapat memperkuat hubungan emosional dalam keluarga.
4. Anak Merasa Perasaannya Tidak Pernah Divalidasi
Pernah tanpa sadar mengatakan,
“Ah, gitu aja kok nangis.”
atau
“Kamu terlalu sensitif.”
Kalimat seperti ini mungkin terdengar sepele bagi orang dewasa. Namun bagi anak, itu bisa membuatnya merasa apa yang sedang ia rasakan tidak penting.
Lama-kelamaan, anak belajar bahwa bercerita kepada orang tua tidak selalu membuatnya merasa lebih baik. Akhirnya, ia memilih memendam perasaannya sendiri.
Padahal, validasi emosi anak bukan berarti Mommies harus membenarkan semua sikap atau perilakunya. Validasi berarti mengakui bahwa emosi yang dirasakan anak memang nyata.
Misalnya, daripada langsung berkata, “Jangan nangis, ah,” Mommies bisa mencoba mengatakan, “Mama tahu kamu lagi sedih. Cerita, yuk, apa yang bikin kamu merasa seperti itu?”
Kalimat sederhana seperti ini bisa membuat anak merasa didengar sekaligus lebih percaya untuk terbuka.
Menurut Yale Center for Emotional Intelligence, ketika orang tua mampu mengenali, menerima, dan membantu anak memahami emosinya, anak akan lebih mudah mengembangkan kemampuan mengelola emosi serta membangun hubungan yang lebih sehat dengan orang lain.
5. Komunikasi Lebih Banyak Berisi Perintah
Coba Mommies ingat-ingat lagi isi percakapan dengan anak selama beberapa hari terakhir.
Apakah sebagian besar hanya berisi kalimat seperti:
“Belajar, ya.”
“Jangan main HP terus.”
“Sudah mandi belum?”
“PR-nya sudah selesai?”
Kalau iya, jangan heran kalau lama-kelamaan anak menjadi lebih pendiam.
Bukan karena ia tidak ingin berbicara, tetapi karena ia merasa setiap kali mengobrol dengan orang tua, ujung-ujungnya selalu berisi nasihat, aturan, atau teguran.
Padahal, komunikasi orang tua dan anak tidak harus selalu membahas hal-hal penting.
Sesekali, ajak anak mengobrol tanpa tujuan tertentu.
Tanyakan lagu yang sedang ia sukai, serial yang sedang ditonton, teman yang paling dekat di sekolah, atau sekadar bertanya, “Hari ini ada kejadian lucu nggak?”
Percakapan sederhana seperti inilah yang sering menjadi jembatan untuk membangun kembali kedekatan.
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), komunikasi yang terbuka membantu anak merasa aman untuk mengungkapkan pikiran dan emosinya. Orang tua juga disarankan mengajukan pertanyaan terbuka dan mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi agar hubungan dengan anak tetap terjalin erat.
6. Anak Lebih Nyaman Bercerita kepada Orang Lain
Mungkin ini menjadi salah satu hal yang paling menyedihkan bagi orang tua.
Ternyata Mommies baru mengetahui masalah anak dari gurunya. Atau tanpa sengaja mendengar bahwa ia lebih dulu bercerita kepada sahabatnya dibanding kepada keluarga.
Rasanya pasti muncul pertanyaan, “Kenapa bukan ke Mama?”
Padahal, kondisi ini belum tentu berarti anak sudah tidak dekat lagi dengan orang tuanya.
Bisa jadi, ia merasa temannya akan mendengarkan tanpa langsung memberi nasihat. Atau ia takut respons yang diterima di rumah justru membuatnya semakin tidak nyaman.
Daripada memaksa anak untuk segera bercerita, cobalah menjadi pendengar yang benar-benar hadir saat ia akhirnya membuka diri.
Anak tidak selalu membutuhkan jawaban. Kadang mereka hanya ingin tahu bahwa orang tuanya akan tetap berada di pihaknya.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam National Library of Medicine menemukan bahwa komunikasi yang terbuka antara orang tua dan remaja berkaitan dengan kesehatan mental yang lebih baik, hubungan keluarga yang lebih positif, serta menurunkan risiko berbagai perilaku bermasalah pada remaja.
7. Kepercayaan Anak Mulai Berkurang
Hubungan yang dekat selalu dibangun di atas rasa percaya.
Namun, tanpa disadari, kepercayaan itu juga bisa berkurang karena hal-hal kecil.
Misalnya, Mommies pernah berjanji datang ke pentas seni anak, tetapi batal tanpa penjelasan. Atau tanpa sengaja menceritakan rahasia anak kepada anggota keluarga lain karena menganggapnya tidak masalah.
Bagi orang dewasa mungkin itu hal biasa. Namun bagi anak, pengalaman seperti ini bisa membuatnya berpikir dua kali sebelum kembali bercerita.
Saat rasa percaya mulai berkurang, anak biasanya akan lebih berhati-hati dalam membuka dirinya kepada orang tua.
Kabar baiknya, kepercayaan selalu bisa dibangun kembali.
Mulailah dari hal-hal sederhana, seperti menepati janji, meminta maaf jika melakukan kesalahan, dan menunjukkan bahwa rumah tetap menjadi tempat paling aman untuknya pulang.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), rasa terhubung (connectedness) dengan keluarga merupakan salah satu faktor pelindung terkuat bagi kesehatan mental remaja dan membantu mereka menghadapi berbagai tantangan di masa pertumbuhan.
BACA JUGA: 13 Kebiasaan Orang Tua yang Bisa Membuat Anak Tidak Percaya Diri
Cara Mendekatkan Hubungan dengan Anak

Foto: Pexels
Kalau Mommies mulai merasa hubungan dengan anak tidak sedekat dulu, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri.
Semua hubungan pasti mengalami pasang surut, termasuk hubungan antara orang tua dan anak. Apalagi ketika mereka mulai beranjak remaja dan sedang belajar mengenal dirinya sendiri.
Kabar baiknya, cara mendekatkan hubungan dengan anak tidak selalu membutuhkan liburan mahal atau percakapan yang panjang sampai tengah malam.
Justru, kedekatan biasanya dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Berikut beberapa hal yang bisa Mommies coba ketika anak mulai menjauh dari orang tua.
1. Luangkan Waktu Khusus Tanpa Gangguan Gadget
Tidak harus berjam-jam.
Lima belas menit setiap hari untuk benar-benar hadir bersama anak sering kali lebih berarti daripada satu hari penuh yang dihabiskan sambil sesekali melihat notifikasi ponsel.
Biarkan anak merasa bahwa pada momen itu, perhatian Mommies sepenuhnya untuknya.
2. Dengarkan Cerita Anak Sampai Selesai
Saat anak mulai bercerita, tahan keinginan untuk langsung memberi solusi.
Cobalah mendengarkan sampai selesai, lalu tanyakan,
“Menurut kamu, apa yang sebaiknya dilakukan?”
Cara ini membuat anak merasa pendapatnya dihargai sekaligus melatih kemampuan mereka memecahkan masalah.
3. Validasi Emosi Anak Sebelum Memberi Nasihat
Tidak semua masalah anak harus langsung diselesaikan.
Kadang mereka hanya ingin didengar.
Daripada berkata,
“Ah, masa begitu saja sedih?”
Mommies bisa mencoba mengatakan,
“Mama bisa mengerti kenapa kamu merasa kecewa.”
Kalimat sederhana seperti ini membantu anak merasa aman untuk terus terbuka.
4. Bangun Rutinitas Kecil yang Menjadi “Waktu Berdua”
Kedekatan sering kali lahir dari kebiasaan sederhana.
Misalnya, sarapan bersama setiap pagi, mengobrol lima menit sebelum tidur, menemani anak membeli camilan favorit, atau jalan santai setiap akhir pekan.
Rutinitas kecil seperti ini bisa menjadi momen yang paling diingat anak ketika dewasa nanti.
5. Tepati Janji, Sekecil Apa Pun
Kalau Mommies berjanji akan menonton pertandingan futsalnya atau datang ke pentas seni sekolah, usahakan benar-benar hadir.
Jika memang terpaksa batal, jelaskan alasannya dan minta maaf.
Kepercayaan anak dibangun dari konsistensi orang tua dalam memenuhi hal-hal kecil.
6. Jangan Hanya Mengobrol saat Ada Masalah
Sering kali orang tua baru mengajak anak bicara ketika nilai sekolah turun, anak melanggar aturan, atau ada konflik.
Padahal, percakapan yang paling bermakna justru terjadi ketika tidak ada masalah apa pun.
Sesekali tanyakan hal-hal ringan seperti,
“Lagu apa yang lagi kamu suka?”
atau
“Kalau akhir pekan nanti bebas, kamu pengin ke mana?”
Percakapan sederhana seperti ini membuat anak merasa bahwa dirinya menarik untuk dikenal, bukan hanya diperhatikan saat melakukan kesalahan.
7. Tunjukkan Bahwa Rumah Selalu Menjadi Tempat yang Aman
Anak memang akan tumbuh semakin mandiri.
Suatu saat nanti mereka mungkin lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman, kuliah di kota lain, bahkan membangun keluarganya sendiri.
Namun, usahakan agar mereka selalu tahu satu hal:
Rumah adalah tempat di mana mereka bisa pulang tanpa takut dihakimi.
Menurut Harvard Center on the Developing Child, hubungan yang responsif, penuh perhatian, dan konsisten menjadi fondasi penting bagi kesehatan mental, kemampuan mengelola emosi, serta perkembangan sosial anak hingga dewasa.
Kedekatan dengan Anak Dibangun Setiap Hari
Kalau akhir-akhir ini anak terasa lebih banyak diam atau mulai menjaga jarak, bukan berarti Mommies gagal menjadi orang tua.
Bisa jadi, ini hanyalah tanda bahwa cara berkomunikasi kalian sedang berubah.
Seiring bertambahnya usia, kebutuhan anak juga akan berubah. Mereka mungkin tidak lagi meminta digendong, tidak lagi bercerita tentang semua hal yang terjadi di sekolah, atau tidak lagi selalu ingin ditemani ke mana-mana.
Namun, bukan berarti mereka berhenti membutuhkan orang tuanya.
Mereka tetap membutuhkan seseorang yang bisa mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi. Seseorang yang membuat mereka merasa diterima, bahkan ketika sedang melakukan kesalahan.
Karena itu, jangan menunggu sampai anak benar-benar menutup diri untuk mulai memperbaiki hubungan.
Mulailah dari hal-hal kecil hari ini.
Luangkan waktu beberapa menit untuk mengobrol tanpa distraksi, peluk anak lebih lama dari biasanya jika ia nyaman, atau tanyakan bagaimana perasaannya tanpa buru-buru memberi solusi.
Mungkin responsnya belum langsung berubah. Mungkin hari ini anak masih menjawab singkat.
Tidak apa-apa.
Yang terpenting, Mommies sedang menunjukkan bahwa pintu untuk bercerita akan selalu terbuka.
Karena pada akhirnya, yang paling diingat anak bukan seberapa sering orang tuanya memberi nasihat, melainkan seberapa nyaman mereka merasa saat pulang dan tahu selalu ada seseorang yang siap mendengarkan tanpa syarat.
BACA JUGA: 15 Kalimat dari Orang Tua yang Perlu Didengar Anak Sebelum Tidur, Bisa Memperkuat Bonding!
Cover: Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS