
Bingung membedakan konflik biasa dengan tanda pertemanan anak SD tidak sehat? Kenali ciri-cirinya agar Mommies bisa bantumembangun pergaulan positif.
“Ma, aku nggak mau sekolah…”
Kalimat itu mungkin terdengar seperti anak sedang malas belajar. Namun, bagaimana kalau penyebabnya ternyata bukan pelajaran, melainkan teman-temannya?
Memasuki usia SD, anak mulai menghabiskan lebih banyak waktu bersama teman sebaya. Di fase ini, mereka belajar bekerja sama, berbagi, menyelesaikan konflik, hingga mencari rasa diterima dalam kelompok. Semua itu penting untuk perkembangan sosial anak.
Sayangnya, tidak semua pertemanan membawa pengaruh yang positif.
Sebagai orang tua, kita sering menganggap pertengkaran antaranak sebagai hal yang wajar. Memang benar, konflik adalah bagian dari proses belajar. Namun, ada kalanya hubungan tersebut berubah menjadi tidak sehat dan mulai memengaruhi emosi, rasa percaya diri, bahkan semangat anak untuk pergi ke sekolah.
Lalu, bagaimana cara mengenali tanda pertemanan anak SD tidak sehat?
BACA JUGA: Agar Tak Parno Menghadapi Pertemanan Si Anak Pra-Remaja
Berebut mainan, salah paham, atau saling ngambek sesekali merupakan hal yang normal. Dari situ anak belajar meminta maaf, bernegosiasi, dan memahami sudut pandang orang lain.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika hubungan tersebut membuat anak terus-menerus merasa takut, tertekan, dikendalikan, atau direndahkan.
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), pertemanan yang sehat membantu anak belajar membangun empati, memahami sudut pandang orang lain, mengelola emosi, serta mengembangkan hubungan sosial yang positif. Dukungan orang tua juga berperan penting dalam membantu anak membangun dan mempertahankan pertemanan yang sehat sejak usia sekolah.
Kalau Mommies masih bingung membedakan konflik yang wajar dengan hubungan pertemanan yang mulai tidak sehat, coba perhatikan beberapa tanda berikut. Semakin cepat dikenali, semakin mudah juga orang tua membantu anak menghadapi situasinya.

Kalau biasanya si kecil pulang sekolah sambil bercerita, lalu belakangan lebih banyak diam atau terlihat murung, jangan buru-buru menganggap ia hanya lelah.
Coba ajak ngobrol saat suasana sedang santai.
Bisa jadi ada masalah dalam pergaulan anak SD yang belum siap ia ceritakan kepada Mommies.
Punya teman memang penting.
Namun jika anak rela melakukan apa saja hanya agar tetap diterima dalam kelompok, Mommies perlu mulai lebih peka.
Misalnya anak:
Ini bisa menjadi salah satu ciri pertemanan tidak sehat pada anak.
Kalimat seperti,
“Kalau kamu nggak nurut, aku nggak mau temenan.”
atau
“Kamu harus main sama aku aja.”
mungkin terdengar sepele.
Namun jika terus berulang, ini bisa menjadi tanda hubungan yang tidak setara.
Dalam toxic friendship anak SD, biasanya ada satu anak yang selalu menentukan aturan, sementara yang lain terus mengalah karena takut kehilangan teman.
Perhatikan jika anak mulai sering berkata,
“Aku memang nggak pintar.”
“Nggak ada yang mau temenan sama aku.”
“Aku jelek.”
Kalimat-kalimat tersebut bisa muncul karena anak terlalu sering menerima komentar negatif dari lingkungan pertemanannya.
Jika dibiarkan, hubungan yang tidak sehat dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri.
Bercanda memang bagian dari pertemanan.
Namun jika anak terus-menerus menjadi bahan ejekan—baik soal fisik, kemampuan belajar, maupun hal lain yang membuatnya tidak nyaman, itu bukan lagi candaan yang sehat.
Apalagi jika setiap kali anak protes, jawabannya selalu,
“Ah, bercanda doang.”
Mommies perlu membantu anak memahami bahwa teman yang baik tetap menghargai perasaan orang lain.

Lingkungan pergaulan anak punya pengaruh besar terhadap kebiasaan sehari-hari.
Misalnya, anak yang sebelumnya jujur tiba-tiba mulai sering berbohong, berkata kasar, atau sengaja melanggar aturan demi diterima dalam kelompok.
Perubahan seperti ini bukan berarti Mommies harus langsung menyalahkan teman-temannya. Sebaliknya, jadikan ini kesempatan untuk mengajak anak berdiskusi tentang nilai-nilai yang ingin diterapkan di rumah.
Kalau sebelumnya anak antusias berangkat sekolah, ikut ekstrakurikuler, atau bermain bersama teman, lalu tiba-tiba selalu mencari alasan untuk menghindarinya, jangan abaikan.
Bisa jadi penyebabnya bukan aktivitas tersebut, melainkan hubungan sosial yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Bila kondisi ini berlangsung terus-menerus, Mommies perlu mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
BACA JUGA: 14 Tipe Pertemanan di Mata Remaja
Saat mengetahui anak mengalami masalah dengan teman, rasanya wajar kalau Mommies ingin segera turun tangan.
Namun, anak juga perlu belajar menghadapi konflik sesuai tahap perkembangannya.
Yang bisa Mommies lakukan antara lain:
Tidak semua konflik berarti anak memiliki teman yang buruk. Justru dari perbedaan pendapat, mereka belajar berempati, berkomunikasi, dan menghargai orang lain.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika hubungan tersebut membuat anak kehilangan rasa aman, kepercayaan diri, atau terus merasa tertekan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Child Development menunjukkan bahwa anak yang memiliki teman yang suportif cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik, kemampuan sosial yang lebih kuat, serta lebih mampu menghadapi stres sehari-hari. Sebaliknya, hubungan pertemanan yang dipenuhi konflik atau penolakan berkaitan dengan meningkatnya risiko masalah emosional dan penyesuaian sosial.
Pada akhirnya, tujuan kita sebagai orang tua bukan memilihkan teman untuk anak, melainkan membekali mereka agar mampu mengenali hubungan yang sehat sejak dini. Dengan begitu, saat tumbuh besar nanti, mereka tahu bagaimana membangun pertemanan yang saling menghargai, saling mendukung, dan menjadi tempat bertumbuh bersama.
BACA JUGA: Tips Menjauhkan Anak dari Teman Toksik: Kenali Ciri-cirinya dan Peran Orang Tua
Cover: Magnific