Sorry, we couldn't find any article matching ''

Tips Menjauhkan Anak dari Teman Toksik: Kenali Ciri-cirinya dan Peran Orang Tua
Kenali ciri-ciri anak yang terjebak dalam pertemanan toksik dan tips orang tua untuk membantu anak menjauh dari teman tersebut demi kesehatan emosional dan masa depannya.
Pertemanan memegang peran penting dalam pembentukan karakter dan kesehatan emosional anak. Namun, tidak semua hubungan pertemanan membawa dampak positif. Tanpa disadari, ada anak yang terjebak dalam pertemanan toksik, hubungan yang perlahan membuat rasa percaya diri terkikis, bikin anak jadi menyalahkan diri sendiri, bahkan memengaruhi perilakunya di rumah. Kondisi ini sering banget terlewat dari perhatian orang tua karena terlihat seperti konflik pertemanan biasa.
Lalu, bagaimana orang tua dapat mengenali tanda-tandanya dan membantu anak keluar dari situasi tersebut?
BACA JUGA: 6 Alasan Kenapa Saya Melarang Anak Saya Berteman dengan Siapa Saja
Ciri-ciri Anak Berada di Pertemanan Toksik
Awalnya, kita harus mendeteksi jika anak menjalin pertemanan yang toksik. Dilansir dari artikel How to Help A Child with a Toxic Friendship yang ditulis oleh Sarah Stein, ada beberapa ciri anak yang berada di lingkungan pertemanan toksik. Lihat di bawah ini!
1. Perubahan Sikap, Kebiasaan atau Mood Mendadak
Jika anak mengalami perubahan mendadak, menarik diri atau mengalami penurunan nafsu makan, perhatikan baik-baik dan jangan abaikan. Sadari kebiasaan kecilnya yang biasa dia lakukan atau nikmati, misalnya bermain dengan binatang peliharaan, atau kegiatan favoritnya yang mendadak tidak lagi disukainya. Mungkin saja dia mengalami masalah internal.
2. Terjadi Tindak Manipulasi atau Gaslighting
Teman toksik biasanya memiliki karakter narsistik, egosentris, manipulative, dan insecure, yang seringkali mengancam anak yang baik dan empatik. Mereka akan memprovokasi dengan kata-kata kasar atau merendahkan, dan ketika korbannya bersikap defensive sebagai bentuk pertahanan diri, mereka akan memutar balikkan fakta, mengatakan bahwa anak kita bersikap dramatis atau berlebihan hingga teman-temannya malah menjauhi korban.
3. Sikap Teman yang Membuat Anak Menyalahkan Diri Sendiri
Teman yang toksik seringkali mengontrol keadaan dan menciptakan kebingungan, hingga korban merasa bahwa apa yang terjadi di sekelilingnya merupakan salahnya. Teman yang toksik sangat cemburu kepada anak yang sensitif dan empatik, karena memiliki kekuatan untuk bergaul dengan orang lain dan dapat menempatkan diri di lingkungannya dengan baik, kekuatan yang tidak dimiliki oleh si teman toksik. Anak seringkali merasa kebingungan dan kerap menyalahkan diri sendiri jika berada di lingkungan yang toksik, karena keberadaannya tidak dihargai atau situasi yang sering dimanipulasi oleh teman toksik.
4. Teman Toksik Menggunakan Masalahnya Sebagai Pembenaran Aksi
Teman yang toksik biasanya kekurangan empati dan tidak cerdas sosial emosional. Jika teman toksik melakukan bully, dia akan menggunakan trauma atau masalah pribadinya sebagai pembenaran aksinya, alih-alih bertanggungjawab. Teman toksik juga tidak memiliki hati nurani yang baik. Jika dikonfrontasi, mereka akan bertindak sebagai pahlawan atau korban, dan tidak pernah mau mengakui kesalahannya.

Tips Menjauhkan Anak dari Teman Toksik
Dilansir dari artikel Six Ways To Help a Children with Toxic Friends yang ditulis oleh Erin Leonard, PhD, ada beberapa tips yang dapat dilakukan orangtua untuk menarik anak dari pertemanan toksik. Yuk, simak tipsnya!
1. Dengarkan Anak dan Validasi Perasaannya
Dengarkan baik-baik ketika anak bercerita, validasi perasaannya karena korban pertemanan toksik seringkali tidak menyadari bahwa dia di bawah kontrol orang lain dan anak memerlukan safe space untuk dirinya bercerita. Misalnya anak mengatakan, “Aku gak baik” atau “Ini salahku”, Mommies bisa mengatakan “memang, gak, enak, ya, punya perasaan seperti itu, mama paham dan pernah mengalaminya.” Ini juga membuat anak lebih tenang, merasa dipahami, dan tidak sendirian dalam menghadapi masalahnya.
Kita juga dapat mengingatkan bahwa walaupun berada di situasi yang kurang nyaman, anak tidak dapat lari selamanya dan perlu menghadapi situasi tersebut, tetapi dia tidak sendirian dan orangtua akan selalu mendampingi dalam menemukan solusi terbaik.
2. Tanyakan Pertanyaan Terbuka sebagai Bahan Diskusi
Minta anak menjelaskan dengan rinci melalui pertanyaan terbuka. Harapannya, anak tidak berlaku defensif dan lebih terbuka kepada orangtua. Misalnya, “Kenapa kamu merasa seperti itu?” atau “Apa yang membuat kamu merasa begitu?” Ketika anak bercerita, berikan respon dengan empati, contohnya “Kamu berhak kesal, marah atau sedih. Kalau Mama di posisi kamu, Mama juga akan merasa begitu, apa yang terjadi sama kamu itu tidak baik atau tidak wajar.”
3. Tumbuhkan Kepercayaan Anak Kembali
Yakinkan anak bahwa kita tidak akan mengkonfrontasi pihak sekolah atau orangtua lain tanpa seijin anak. Anak sedang mengalami trust issue ketika kepercayaannya dilukai oleh teman toksik, maka penting untuk kita menumbuhkan kepercayaan anak kembali.
4. Berdiskusi dengan Sekolah dengan Hati-Hati dan Pertimbangan Matang
Di kasus bully yang lebih serius, dapat dipertimbangkan untuk berdiskusi dengan pihak sekolah untuk mengawasi interaksi anak-anak, namun sebelum lakukan itu penting untuk kita jelaskan secara detail alasan kita perlu bicara dan berdiskusi dengan pihak sekolah agar anak tidak merasa dibohongi.
Orangtua juga harus berhati-hati karena biasanya pembully atau anak dengan karakter toksik menyembunyikan “kejahatannya” dengan baik, bisa jadi di depan guru dia anak yang baik atau pintar, tetapi dia akan memrundung anak lain ketika dia merasa tidak ada yang melihat.
Kita dapat mengatakan bahwa anak ini terlihat baik-baik saja tapi ada yang janggal dengan interaksi diantara dia dengan anak lain, hingga jika pihak sekolah setuju untuk memperhatikannya, pastikan di luar sepengetahuan anak ini.
5. Tekankan Sikap Amoral Teman Toksik & Cara Menghadapinya
Coba tanyakan ke anak “Apa kamu akan bersikap seperti itu ke teman kamu?” untuk membuat anak sadar bahwa bukan dirinya yang menjadi masalah, tetapi si teman toksik.
Jika mendapat perlakuan tidak baik dari teman toksik, lebih baik anak mengatakan “Kamu mengajak bertengkar, ini tidak baik, aku tidak mau terlibat” atau “Kamu mengintimidasi aku, kamu harus berhenti” dibandingkan “Kamu jahat,” atau “Kamu kejam,” karena teman toksik akan memutar balikkan fakta dan berkata anak kita yang merundungnya jika mengatakan hal yang berhubungan dengan karakter.
6. Membantu Anak Menjaga Jarak dengan Teman Toksik
Semangati anak untuk meluaskan pertemanannya melalui lingkaran pertemanan lain, misal melalui klub atau komunitas kegiatan favoritnya. Bantu mereka mendapatkan teman dan lingkaran pertemanan sehat yang menghargai dan menerima mereka dengan baik.
Lingkungan yang sehat akan membuat anak bisa membedakan dan membandingkannya dengan lingkungan pertemanan toksik. Hal ini juga bermanfaat agar anak bisa memilih dan menyaring lingkungan terbaik untuknya di masa depan.

Foto: Pexels
Setelah fokus pada emosi, komunikasi, dan kesadaran anak, Mary Jo Rapini seorang psikoterapis, menulis di Psychology Today tentang peran aktif dan struktur dari orang tua yang bisa dilakukan untuk membantu anak lepas dari temannya yang toksik.
7. Ajak Teman Anak ke Rumah untuk Membantu Anak Melihat dengan Jelas
Jika memungkinkan, undang teman anak (bahkan orang tuanya) untuk datang ke rumah. Tanpa menghakimi atau menginterogasi, Mommies bisa mengamati langsung dinamika interaksi di antara mereka.
Sering kali, tanpa perlu banyak nasihat, anak justru menyadari sendiri pola perilaku temannya saat berada di lingkungan yang aman dan netral. Situasi ini membantu anak melihat perbedaan antara hubungan yang sehat dan yang merugikan, tanpa merasa ditekan untuk mengambil keputusan.
8. Bahas Perilaku, Bukan Menyerang Pribadi Teman
Saat berdiskusi, fokuskan pembicaraan pada tindakan atau perilaku teman tersebut, bukan pada label seperti “jahat” atau “buruk”. Jelaskan apa yang Mommies lihat dan mengapa perilaku itu tidak sehat atau tidak pantas dalam sebuah pertemanan.
Pendekatan ini membantu anak berpikir lebih objektif dan tidak merasa harus membela temannya. Selain itu, anak belajar bahwa mengkritisi perilaku tidak sama dengan membenci seseorang.
9. Beri Struktur dan Aturan yang Jelas dalam Kehidupan Anak
Struktur justru bisa menjadi pelindung bagi anak. Aturan tentang jam pulang, aktivitas, atau batasan tertentu dapat memberi anak “alasan aman” untuk menolak ajakan yang berisiko tanpa harus kehilangan muka di depan temannya.
Kalimat seperti “Orang tuaku tidak mengizinkan” bisa menjadi cara anak menjaga dirinya tanpa harus berkonflik langsung dengan teman toksik.
10. Tegakkan Batasan dan Konsisten dengan Konsekuensi
Menjaga batasan berarti Mommies dan Daddies juga harus konsisten menjalankan konsekuensinya. Jika anak mulai terkena dampak negatif dari pertemanan toksik, misalnya sering melanggar aturan atau terlibat masalah, biarkan ia merasakan konsekuensi yang masuk akal.
Pengalaman ini sering kali membuat anak mulai bertanya pada dirinya sendiri, “Kenapa aku tetap berteman dengan orang yang membuat hidupku makin sulit?” Kesadaran ini bisa menjadi titik balik yang penting bagi mereka.
11. Waspadai Tanda Pemberontakan dan Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional
Tidak jarang anak memilih teman yang tidak disukai orang tua sebagai bentuk pemberontakan. Namun, jika pertemanan tersebut mulai berdampak pada kesehatan mental anak, seperti munculnya depresi, kemarahan berlebihan, atau perubahan perilaku yang drastis, maka pendampingan profesional patut dipertimbangkan.
Konseling tidak hanya untuk anak, tetapi juga untuk orang tua, agar keluarga tetap solid. Pertemanan toksik bisa dengan cepat mengubah suasana keluarga yang harmonis menjadi penuh konflik jika tidak ditangani dengan tepat.
BACA JUGA: Kenali 8 Tanda Pertemanan Tidak Sehat Pada Anak Kita
Menghadapi teman toksik dalam hidup anak bukan soal melarang atau memutuskan sepihak, melainkan tentang bagaimana membekali anak dengan kesadaran, menyediakan lingkungan yang aman, dan mendampingi mereka membuat keputusan sehat untuk dirinya sendiri.
Penulis: Rahmasari Muhammad
Diperbarui: Katharina Menge
Editor: Katharina Menge
Cover: Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS