
Bukan cuma soal kegantengannya saja, tapi 7 karakter green flag dari drama China ini bikin standar pria di mata kita jadi tinggi.
Sebagai penikmat dracin, saya harus jujur, standar saya soal male lead sudah naik drastis gara-gara tujuh karakter ini. Mereka bukan tipe yang dramatis, bukan yang suka menghilang tanpa penjelasan, bukan yang tiba-tiba marah karena salah paham. Mereka terlalu baik. Terlalu sabar. Terlalu manusiawi. Sampai kita lupa sebentar bahwa mereka hanyalah karakter fiksi. Ijo seroyo-royonya.
Inilah tujuh tokoh yang menurut komunitas drama Asia (dan menurut saya pribadi)layak disebut tokoh male lead green flag, green forest, green matcha, sejati.

Kalau pernah dengar istilah “green forest” (bukan sekadar green flag, tapi satu hutan penuh), itu sepertinya bisa menggambarkan karakter Lin Yi Yang. Di permukaan, terlihat cool. Bagai kulkas 4 pintu. Pendiam, sedikit arogan, sigma (tipe yang biasanya jadi red flag di drama lain). Tapi ketika dia jatuh cinta pada Yin Guo, seorang atlet biliar profesional yang ia temui di tengah badai salju di Finlandia, ya, ampuuuun. Apa iya ada karakter cowok se-green flag ini di realita kehidupan?
Yang bikin Lin Yi Yang masuk kategori green flag bukan karena dia sempurna. Justru sebaliknya. Dia punya luka masa lalu, punya ego, dan pernah meninggalkan dunia snooker karena insiden yang menyakitkan. Tapi ketika Yin Guo hadir, dia tidak menjadikannya objek pelampiasan karena pernah gagal. Dia nggak iri, dia bangga dengan pencapaian Yin Guo. Tanpa kompetisi, tanpa insecure, tanpa merasa kecil ketika pasangannya bersinar.
Gestur-gesturnya kecil tapi bermakna seperti pesan kamar hotel yang nyaman sebelum pertandingan, menghangatkan sandal di hari yang dingin, terbang setengah dunia hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Kalau nggak green forest, green apa coba?

Menurut saya, nggak banyak tokoh male lead yang punya karakter di dracin berlatar historis. Mungkin Blossom salah satu pengecualian. Karakter utamanya, seorang general yang diberi kesempatan kedua untuk hidup lagi, Song Mo, adalah contoh langka dari male lead historis yang bisa kuat sekaligus lembut tanpa terasa kontradiktif.
Sebagai Jenderal yang terkenal kejam dan tak kenal ampun di medan perang, Song Mo punya reputasi yang menakutkan. Tapi sebenarnya dia, tuh, berhati lembut. Bukan cuma sama perempuan yang dia taksir aja, tapi juga sama anak-anak, sama pelayannya, pokoknya sesama manusia yang butuh pertolongan, dia, tuh, baik banget.
Untuk pasangannya, dia adalah salah satu contoh pria dengan karakter pendengar yang baik, partner yang setara, dan seseorang yang tidak pernah mencoba mendominasi meski memiliki kekuatan untuk melakukannya. Song Mo adalah contoh karakter utama yang mendobrak nilai-nilai patriarki di era itu. Ketika perempuan dipandang sebelah mata oleh suami-suaminya, Dou Zhao justru dikasih kebebasan dagang, jalan-jalan tanpa suami, dan punya kekayaan lebih banyak dari suaminya.
Baca juga: Dracin dengan Karakter Cowok Red Flag Tapi Bucin

Kalau Lin Yi Yang adalah green forest, maka Sang Yan adalah green mountain yang sudah menunggu delapan tahun. Ini bukan hiperbola. Sang Yan benar-benar menyimpan perasaannya selama bertahun-tahun, bahkan menyimpan ponsel lama yang rajin di-charga hanya untuk berharap suatu hari Wen Yifan akan membalas pesannya. Kedengarannya lebay? Mungkin. Tapi dalam konteks cerita ini, itu justru menjadi simbol dari sesuatu yang sangat jarang: cinta yang sabar tanpa menjadi obsesif.
Sang Yan adalah kakak dari karakter utama Hidden Love (drama hits sebelumnya), dan kisahnya sendiri tidak kalah berat. Wen Yifan, perempuan yang ia cintai, membawa trauma yang dalam, termasuk pengalaman pelecehan seksual yang membuatnya sulit mempercayai siapapun dan menutup diri dari dunia. Dan di sinilah peran Sang Yan. Dia tidak terburu-buru. Dia tahu kapan harus hadir, dan kapan harus memberi ruang. Dia mendukung dari belakang, sering tanpa diketahui, bahkan ketika itu menyakitkan bagi dirinya sendiri. Ouch!

Lin Yu Shen (atau Lin Yusen) adalah tipe male lead yang saya sebut “diam-diam menghanyutkan.” Dia itu nggak banyak drama. Nggak eksplosif juga. Latar belakangnya sudah cukup berat. Dia adalah mantan dokter bedah saraf berbakat yang kehilangan kemampuannya karena kecelakaan. Dia sudah berdamai dengan masa lalunya (atau setidaknya mencoba) ketika Xiguang masuk ke kehidupannya. Perempuan yang selama ini ia sangka jadi penyebab kecelakaannya.. Yang membuat Lin Yu Shen green flag bukan karena dia tanpa cela. Dia pernah salah menilai Xiguang, pernah menyimpan rahasia terlalu lama, dan pernah membuat keputusan besar tanpa berkonsultasi. Tapi yang membedakannya: dia sadar, dia minta maaf, dan dia belajar. Tanpa ego yang menghalangi.
Baca juga: Dari Wuxia hingga Romantis, Ini Beragam Genre Dracin dan Ciri Khasnya!

Jika ada satu karakter dalam daftar ter-green flag, ini yang paling mendekati gelar “terlalu sempurna untuk ada di dunia nyata”. Yes, dialah He Su Ye. Pintar, ganteng, tinggi, baik, penuh cinta, welas asih terhadap lansia, diborong semua sama dia.
Cara dia mendekati Shen Xifan adalah seperti menyaksikan seseorang merawat tanaman yang sudah lama layu, perlahan, konsisten, tanpa memaksa. Apalagi saat itu Xifan baru patah hati. Wah, kalau saya, sih, dengan senang hati pergi dari pria toksik dan menyambut uluran tangan He Su Ye.
Sebenarnya yang paling menonjol dari He Su Ye adalah cara dia memberi Xifan ruang untuk bertumbuh, nggak banyak melarang, bahkan jadi suporter nomor 1 ketika Xifan memutuskan kuliah di luar negeri. Setia pula selama LDR. Zhang Ling He (pemeran He Su Ye) sendiri berkomentar bahwa karakternya “terlalu sempurna.” Iya bangetlah. The Best Thing bukan drama dengan konflik besar atau plot twist mengejutkan. Tapi justru itulah kekuatannya. Seperti pengobatan tradisional yang menjadi latar ceritanya, kerjanya pelan, tapi efeknya terasa lama.
Di antara semua karakter dalam daftar ini, Mo Qin Cheng adalah yang paling multi-dimensi dalam kehidupan sehari-harinya. Selain jadi seorang dokter, ia juga pengisi suara berbakat, jago masak, dan di kemudian hari, sutradara. Orang yang terlalu sempurna di terlalu banyak hal. Namanya juga di drama. Anehnya, penonton nggak merasa karakter ini terasa berlebihan karena cara Tan Jian Ci membawakannya begitu natural.
Yang membuat Mo Qin Cheng masuk kategori green flag adalah bukan kemampuannya, tapi caranya hadir untuk Gu Sheng. Dia tidak pernah membuat Gu Sheng merasa perlu meragukan dirinya. Ketika Gu Sheng bertanya, “Bukankah kamu takut aku lebih mencintai suaramu daripada mencintaimu?” ia pun menjawaban, “Bukankah bagian yang kamu cintai dari aku tetaplah aku juga?” Awwww….

Ji Bo Zai mungkin yang paling berbeda dari semua karakter di daftar ini. Selain dia juga tokoh fantasi di drama (kebayang nggak, tuh, udahlah cuma drama, drama fantasi pula) karena dia bukan tipe yang langsung terlihat sebagai green flag. Dia charming, sedikit arogan, dan mengawali ceritanya sebagai semacam antagonis dalam sudut pandang Ming Yi. Tapi justru di situlah letak keindahan karakternya.
Ketika Ming Yi mendekati Ji Bo Zai dengan agenda tersembunyi, Ji Bo Zai pun menyimpan rahasianya sendiri. Tapi ketika perlahan-lahan masing-masing identitas terbongkar, Ji Bo Zai justru menemukan bahwa dia tidak bisa berhenti peduli, meski tahu dirinya sudah dibohongi.
Di sinilah Ji Bo Zai berbeda, dia tidak menghukum cinta dengan cara yang toksik. Ketika rasa sakit hadir, dia memilih untuk memahami dulu sebelum bereaksi. Dia flirtatious tanpa manipulatif, protektif tanpa possessive, dan cukup dewasa untuk tahu bahwa kepercayaan dibangun, bukan direbut. Mashuuuk, pak Eko!
Itu tadi 7 karakter ter-green flag di dramaland China. Kalau ditarik benang merahnya, karakter-karakter ini adalah karakter pria yang tidak terburu-buru, welas asih, dan tahu persis bagaimana seorang perempuan itu ingin diperlakukan. Mereka tidak menjadikan perempuan di sisi mereka sebagai objek yang perlu diselamatkan, melainkan sebagai manusia yang perlu dilihat.
Apakah mereka terlalu sempurna untuk ada di dunia nyata? Mungkin saja. Tapi mengenali karakter green flag, mungkin bisa lewat kisah fiksi dulu. Standar pun jadi tinggi. Nggak apa-apa, ini, toh, cuma drama. Jangan terlalu larut di dalamnya, ya.
Cover photo by Tencent