
Rapor anak tidak selalu diberi kritik, lho. Hindari kalimat yang bisa melukai kepercayaan diri anak dan intip cara meresponsnya dengan bijak.
Hari pembagian rapor sering jadi momen yang campur aduk untuk orang tua. Ada yang lega, ada yang bangga, ada juga yang langsung sibuk menghitung nilai matematika sambil menahan komentar.
Masalahnya, beberapa kalimat yang terdengar “normal” ternyata bisa membekas cukup lama di kepala anak. Bahkan ketika niatnya ingin memotivasi, cara penyampaiannya bisa membuat anak merasa tidak cukup baik.
Menariknya, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Developmental Psychology menemukan bahwa anak yang lebih sering mendapatkan pujian atas usaha dan proses belajarnya cenderung mengembangkan growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan dan kerja keras. Pola pikir ini membantu anak lebih siap menghadapi tantangan dan tidak mudah menyerah ketika mengalami kesulitan belajar.
BACA JUGA: 25 Pertanyaan untuk Wali Kelas saat Ambil Rapor yang Jarang Ditanyakan Orangtua

Jadi sebelum spontan berkomentar setelah melihat rapor anak, coba hindari beberapa kalimat berikut.
Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sering diterima anak sebagai bentuk kekecewaan.
Alih-alih langsung mempertanyakan angka, coba mulai dengan bertanya, “Menurut kamu, semester ini bagian mana yang paling menantang?”
Menurut berbagai penelitian tentang social comparison, anak yang terlalu sering dibandingkan dengan orang lain cenderung lebih rentan mengalami penurunan rasa percaya diri dan kecemasan terkait prestasi. Karena itu, membandingkan anak dengan teman atau saudaranya justru dapat membuat mereka fokus pada rasa takut gagal, bukan pada proses belajar.
Ini salah satu kalimat klasik yang sering keluar tanpa sadar.
Masalahnya, anak bisa merasa bahwa dirinya selalu berada di bawah standar orang tua.
Padahal belum tentu penyebabnya sesederhana itu.
Bisa jadi anak kesulitan memahami materi, sedang lelah, atau belum menemukan cara belajar yang cocok.
Kalimat ini sering membuat anak merasa menjadi beban.
Fokus pembicaraan bergeser dari proses belajar menjadi soal biaya yang sudah dikeluarkan orang tua.
BACA JUGA: Nilai Rapor Anak Tak Sesuai Harapan? Hindari Melakukan 5 Hal ini!
Bagi orang dewasa mungkin terlihat mudah, tetapi bagi anak belum tentu demikian.
Kalimat seperti ini bisa membuat anak malu untuk mengakui kesulitannya.
Ini termasuk kalimat yang paling sebaiknya dihindari.
Anak perlu tahu bahwa dirinya tetap dicintai, bahkan ketika hasil belajarnya belum sesuai harapan.
Konsekuensi boleh saja diberikan, tetapi hukuman yang muncul saat emosi masih tinggi sering kali kurang efektif.
Lebih baik ajak anak menyusun rencana belajar bersama setelah suasana lebih tenang.
Label seperti ini bisa membuat anak percaya bahwa kemampuan adalah sesuatu yang tidak bisa berkembang.
Padahal, anak justru lebih termotivasi ketika mereka memahami bahwa kemampuan bisa meningkat melalui latihan dan proses belajar. Menurut Child Mind Institute, memuji usaha dan strategi yang dilakukan anak dapat membantu membangun rasa percaya diri dan kemauan untuk terus mencoba, bahkan saat menghadapi pelajaran yang sulit.
Satu rapor tidak menentukan seluruh masa depan anak.
Yang lebih penting adalah bagaimana anak belajar menghadapi kesulitan, memperbaiki diri, dan tetap mau mencoba.

Kalimat sederhana seperti ini justru sering lebih membantu:
Respons seperti ini membantu anak merasa didengar, bukan dihakimi.
Rapor memang penting sebagai gambaran perkembangan belajar. Tetapi rapor bukan ukuran tunggal kecerdasan, karakter, atau masa depan anak.
Yang sering paling diingat anak justru bukan angka di kertasnya, melainkan reaksi orang tuanya saat melihat angka tersebut.
Jadi kalau nanti Mommies menerima rapor yang belum sesuai harapan, tarik napas dulu sebelum berkomentar. Karena kadang satu kalimat dari orang tua bisa menjadi penyemangat terbesar, atau justru luka yang diingat anak cukup lama.
BACA JUGA: Panduan Screen Time Anak saat Liburan Sekolah Berdasarkan Usia Menurut Psikolog
Cover: Pexels