
STOP kebiasaan ‘Dry Texting’. Membalas pesan secara dingin dan singkat bisa melukai pasangan, memicu kecemasan, hingga merusak hubungan.
Di era digital seperti sekarang, sebagian besar komunikasi emosional dengan pasangan berpindah ke layar ponsel. Mulai dari sekadar bertanya sudah makan atau belum, bertukar cerita tentang kelakuan lucu si kecil, hingga membahas urusan domestik yang serius. Sadar atau tidak, perubahan sekecil apa pun dalam cara bertukar pesan dapat memengaruhi kehangatan sebuah hubungan.
Pernahkah Mommies bercerita panjang lebar, tetapi Daddies hanya membalas dengan satu kata seperti “Oke”, “Ya”, atau bahkan hanya mengirim emoji jempol? Jika hal ini sering terjadi, tentu rasanya menjengkelkan. Fenomena inilah yang dalam dunia digital dikenal sebagai dry texting.
Secara harfiah, kata “dry” di sini berarti membosankan atau tidak bersemangat. Seorang konselor profesional dari Thriveworks Texas, Dr. Denitrea Vaughan, PsyD, menjelaskan bahwa dry texting terjadi ketika seseorang merespons obrolan dengan jawaban satu kata atau enggan melanjutkan percakapan agar terus mengalir.
“Mereka mungkin hanya membalas dengan singkatan-singkatan pendek seperti ‘OMG’, ‘LOL’, atau ‘IDK’ tanpa kalimat lanjutan, hingga membuat pihak penerima merasa sangat kesal,” ungkap Dr. Vaughan.
BACA JUGA: 10 Penyebab Pasangan Bertahan dalam Pernikahan Tidak Bahagia
Senada dengan hal itu, Dr. Amelia Kelley, PhD, seorang terapis trauma sekaligus peneliti, menambahkan bahwa dry texting merupakan rangkaian perilaku berkirim pesan yang membuat seseorang tampak tidak tertarik, terlalu sibuk, atau tidak ingin terlibat dalam hidup pasangannya. Tanda yang paling sering muncul antara lain:

Ketika menerima pesan yang dingin, pikiran kita sering kali langsung melayang ke mana-mana. Namun, jangan panik dulu, Mommies. Mengetahui alasan di balik perilaku ini sangat penting sebelum kita menghakimi pasangan. Beberapa pemicu utamanya meliputi:
Mengapa kebiasaan ini bisa menjadi bom waktu yang merusak? Berdasarkan studi ilmiah terbaru berjudul ‘Dry Texting as a predictor of relationship security among adults‘ oleh Naisha Bhatia dan Sangeeta Kakkar (2026) yang dimuat dalam International Journal of Creative Research Thoughts, ditemukan adanya hubungan negatif yang sangat kuat antara dry texting dengan rasa aman dalam berkomitmen.
Secara psikologis, berikut adalah beberapa alasan mengapa dry texting bisa menghancurkan keharmonisan pasangan:
“Dry texting memangkas dan menghilangkan harapan sebuah hubungan untuk tumbuh ke tingkat yang lebih dalam,” kata Dr. Vaughan. Ketika kita terus-menerus menerima balasan dingin, otak kita secara bawah sadar akan menerjemahkannya sebagai jarak emosional dan penurunan komitmen dari pasangan. Akibatnya, rasa percaya bisa terkikis perlahan meskipun secara kasat mata tidak ada konflik besar yang terjadi di dunia nyata.
Pesan teks tidak bisa menampilkan nada suara, intonasi, maupun ekspresi wajah. Ketika balasan yang datang terkesan ambigu dan sangat pendek, otak manusia cenderung mengalami stres akibat ketidakpastian. Kita akan mulai membaca ulang pesan tersebut berkali-kali, menebak-nebak kesalahan apa yang sudah kita perbuat, hingga membayangkan skenario terburuk yang memicu kecemasan.
Komunikasi yang berjalan satu arah pada akhirnya akan membuat pihak penerima merasa lelah berjuang sendirian. Lama-kelamaan, mereka akan kehilangan minat untuk mempertahankan interaksi dan merasa bahwa pasangannya adalah sosok yang membosankan atau tidak peduli. Jarak emosional ini membuat pasangan pelan-pelan menjauh.
Merasa pasangan tidak meluangkan pikiran dan usaha saat bertukar pesan bisa membuat kita merasa tidak penting, meskipun itu bukan niat asli si pengirim. Dr. Amelia Kelley, PhD menjelaskan, “Dengan menyingkat kata dan menghilangkan frasa kunci untuk menjelaskan, pesan bisa disalahartikan seolah si pengirim tidak peduli pada pasangan atau topik pembicaraan.”
Bersikap ketus lewat pesan singkat sama buruknya dengan bersikap cuek saat bertatap muka. Menurut Dr. Kelley, hal ini terasa tidak sopan dan ofensif, “Terutama jika pihak penerima sudah meluangkan waktu lebih untuk mengekspresikan diri dan mencari koneksi, namun justru dihadiahi dry texting.” Komunikasi yang seimbang jauh lebih baik.
Komunikasi digital yang buruk terbukti mengurangi kedekatan, memicu lebih banyak perdebatan, dan mengurangi rasa bahagia. Sebaliknya, studi menunjukkan chat yang positif justru meningkatkan kepuasan. Dry texting mencerminkan rendahnya usaha emosional yang berujung pada melemahnya ikatan batin.
Selain komunikasi, usaha (effort) adalah pilar utama yang menjaga hubungan tetap berjalan. “Ketika menerima dry texts, seseorang akan merasa pasangannya sedang berusaha menciptakan jarak atau menghindari percakapan,” jelas Dr. Vaughan. Jika tidak disadari, hal ini membuat pengirim bingung mengapa pasangannya tiba-tiba menarik diri.

Ubah kecemasan Mommies dan Daddies melalui beberapa strategi berikut ini:
Daripada langsung menuduh dengan kalimat defensif seperti, “Kenapa sih chat kamu belakangan ini dingin dan responnya lama banget?”, cobalah menggunakan pendekatan soft startup (cara yang lembut, tenang, dan tidak konfrontatif) dari pakar hubungan Dr. John Gottman.
Gantilah dengan kalimat yang lebih lembut: “Aku perhatiin gaya chat kita agak berubah ya belakangan ini, aku cuma mau tanya apakah kamu lagi ada masalah atau ada sesuatu yang lagi kamu pikirin?”. Pendekatan ini terbukti efektif membuka percakapan yang jujur tanpa membuat pasangan merasa dipojokkan.
Berdasarkan attachment theory-nya Dr. Amir Levine, kecemasan kita terhadap pesan singkat bisa jadi berakar dari gaya attachment kita sendiri. Seseorang dengan anxious attachment style cenderung sangat over-analitis terhadap teks digital, sementara tipe avoidant secara alami akan menarik diri dan berkomunikasi dengan lebih hemat kata saat berada di bawah tekanan. Pahami bahwa perbedaan ritme ini adalah hal yang normal.
Buka obrolan jujur di dunia nyata mengenai preferensi komunikasi harian. Penelitian dari University of Rochester menunjukkan bahwa pasangan yang mendiskusikan preferensi komunikasi mereka secara terbuka melaporkan tingkat kepuasan hubungan yang 34% lebih tinggi. Jika Daddies tipe yang sibuk saat jam kerja, sepakati waktu khusus di malam hari untuk mengobrol berkualitas tanpa interupsi gawai.
Riset mengenai cinta dan attachment oleh Dr. Helen Fisher mengungkapkan bahwa kedalaman sebuah hubungan tidak diukur dari seberapa sering kita saling mengirim pesan dalam sehari, melainkan dari responsivitas emosionalnya. Satu pesan singkat yang ditulis dengan penuh perhatian dan ketulusan jauh lebih berharga daripada sepuluh pesan basa-basi yang dikirim secara mekanis.
BACA JUGA: Tergoda Berselingkuh? Pikirkan 7 Dampak Ini bagi Pernikahan dan Anak