Ryo Sihombing: Ingin Jadi Ayah yang Sadar dan Hadir Bagi Anak-anak

Dad's Corner

Sisca Christina・in 4 hours

detail-thumb

Memahami inner child ternyata bisa membantu diri seorang Ryo Sihombing untuk menjalankan perannya sebagai ayah. Berikut kisah inspiratifnya.

Ayah yang melek dengan peran ayah. Begitu kesan yang saya dapatkan dari seorang Ryo Hardi Januar Sihombing. Di tengah kesibukannya sehari-hari menangani urusan Logistic-Delivery di divisi Merchandising PT Indo Marco Prismatama, atau yang kita kenal dengan Indomaret, ada sosok ayah yang senantiasa hadir bagi keluarganya. Baginya, Obed (6), Willy (4), Nikita (1) dan tentunya sang istri, adalah prioritas utama.

Setelah berbincang dengannya, ternyata, bagi Ryo, memahami inner child membantu dirinya mengerti apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ayah, sehingga, ia bisa menjalankan peran tersebut dengan sadar.

Yuk, simak perjalanan seorang Ryo Sihombing menjadi orang tua yang terlibat dengan pengasuhan anak. Semoga kisahnya menginspirasi daddies.

Rutinitas Sehari-hari di Pekerjaan

Ini adalah tahun ke-12 Ryo berkarir di Indomaret. Di suatu fase dalam hidupnya, ia mengalami titik balik dan menyadari sudah waktunya menata hidup. Termasuk niat untuk berumah tangga dan memantapkan karir. ”Saya merasa nyaman sejak awal bekerja di sini, dan bagi saya ini blessing. Di divisi Merchandising, sehari-hari saya menangani bagian logistik, fokusnya di delivery yang berkaitan dengan armada, SOP pengembangan delivery, tim loading, termasuk pencegahan dan penanganan kecelakaan terkait pengiriman.

Ryo Sihombing

Foto: dokumentasi pribadi

Di kantor, Ryo mengupayakan setiap hari untuk bekerja secara optimal, agar pekerjaan beres, jadi tak perlu lembur dan bisa pulang tepat waktu. ”Saya dikenal sebagai pasukan pulang tenggo di kantor, hahaha.”

Ingin Menjadi Ayah yang Sadar dan yang Hadir Bagi Anak-anak

”Saya memiliki tiga anak, yaitu si sulung Obed, si tengah Willy dan si bungsu Nikita. Di kala usia Obed sudah lewat satu tahun, dokter melihat gejala yang mengarah pada Autism Spectrum Disorder (ASD). Dokter menganjurkan saya dan istri untuk membawa anak cek ASD. Setelah dicek dan dites, hasilnya, Obed mengalami ADHD tingkat medium, dan ada autisme sekitar 20%.”

“Awalnya sempat nggak percaya, tetapi bagi saya, ini adalah alarm. Sejak itu, kami fokus untuk menjalankan terapi bagi anak kami. Puji Tuhan, kurang lebih sudah lima tahun menjalani terapi, menunjukkan progres.”

”Ini salah satu hal yang membuat saya kemudian sadar, bahwa anak-anak butuh saya. Saya ingin hadir buat mereka, apalagi di masa-masa golden age mereka. Jadi, saat ini memang saya sangat memprioritaskan anak-anak.”

Tantangan Pengasuhan: dari Waktu, Lingkungan, Hingga Finansial dan Emosional

Tantangan yang dialami Ryo sebagai bapak tiga anak, yang salah satunya memiliki kondisi istimewa, ternyata cukup kompleks.

“Dari segi waktu, tentunya cukup menantang. Kalau mungkin mengajarkan sesuatu kepada anak-anak pada umumnya cukup dengan 1-3 kali mengajari, pada Obed butuh puluhan kali. Sehingga, memang perlu mengalokasi waktu lebih banyak untuk membersamai dia untuk stimulasi di rumah, juga memenuhi jadwal-jadwal terapi. Apalagi saya dan istri sama-sama bekerja, jadi, weekend waktunya kami genjot untuk anak-anak.”

Foto: dokumentasi pribadi

“Dari segi lingkungan juga ada tantangan. Terkadang, tak semua lingkungan bisa memahami anak kami. Malah, kadang ada saja judgment dari luar sana. Jadi, kami perlu menjelaskan kondisinya kepada orang-orang di sekitar kami supaya bisa memahami Obed. Puji Tuhan, lingkungan kami cukup suportif, baik di keluarga besar, di sekolah, di komunitas.”

“Dari segi finansial, tentunya ada biaya-biaya ekstra yang perlu dirogoh untuk terapi, konsultasi, cek dan tes ke psikolog, dokter anak atau psikiater, dan seterusnya. Terkadang kami berpikir, apakah kami sudah adil kepada adik-adik Obed? Kami khawatir ada ketimpangan. Maka kami mencari cara untuk mengatur alokasi finansial, agar semua anak-anak kami mendapat stimulasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Saya ingin kesejahteraan pendidikan dan mental anak-anak terjamin.”

“Tantangan emosionalnya juga ada. Jujur, kadang ada terselip rasa hopeless saat perkembangan Obed terasa pelan. Ada kerinduan ingin ia berkembang seperti anak-anak lain. Namun di situ saya belajar untuk menerima keadaan, belajar lebih sabar dan lebih bijaksana mengelola emosi dan ekspektasi.”

Menyadari Inner Child, Membantu Ryo Memahami Apa yang Anak-anak Butuhkan

Belajar dari masa lalu, Ryo berbagi ketika kecil ia merasa tak terlalu dekat dengan orang tua. Itulah yang membuat dirinya sadar, ingin menjadi ayah yang seperti apa bagi anak-anaknya.

“Bukan ada trauma atau luka yang gimana-gimana, sih, sebetulnya. Tetapi saya ingat betul bahwa saya nggak terlalu dekat dengan orang tua, karena ayah saya sibuk. Rasanya ada jarak, sungkan, takut mengganggu. Walau pada akhirnya saya paham, dulu orang tua sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami anak-anaknya. Namun, waktu untuk anak jadi kurang. Saya nggak ingin seperti itu.”

Ryo Sihombing

Foto: dokumentasi pribadi

“Saya ingin dekat dengan anak-anak, sebisa mungkin selalu hadir bagi mereka. Saya ingin menciptakan memori pada anak-anak: Ini lho, ada papa. Saya ingin, jika mereka ada apa-apa, mereka bisa cerita ke saya, tanpa jarak. Saya ingin jadi tempat aman bagi anak-anak, jadi support system yang mengarahkan, memberika masukan dan solusi tanpa menghakimi.”

Baca juga: Acan: Setiap Hari Kita Punya Kesempatan dan Pilihan untuk Jadi Orangtua yang Lebih Baik

Tak Ada Patriarki di dalam Keluarga, Prinsipnya Bekerja Sama dengan Pasangan

Bagi Ryo, urusan rumah tangga dan pengasuhan anak bukan hanya tanggung jawab istri. ”Kuncinya, bekerja sama dan berbagi tugas dengan pasangan, tapi bukan berdasarkan ini tugas istri, itu tugas suami. Saya bukan tipe suami yang patriarki. Jadi, ngurusin anak-anak juga jadi bagian tanggung jawab saya. Kalau istri lagi capek dan saya lagi bisa, ya, saya kerjakan. Saat ada bayi, ganti-gantian dengan istri untuk jaga malam, dan memberi perhatian dengan anak lainnya.”

Fleksibel saja. Intinya, sama-sama mengerjakan tugas dan peran masing-masing, menunaikan tanggung jawab, berkesadaran dan saling berupaya untuk menciptakan suasana kondusif di keluarga.”

Pilih Cara Me Time dengan Olahraga

Foto: dokumentasi pribadi

Biar bagaimanapun, menjalani multiperan sebagai ayah, nggak selamanya mulus. Ada kalanya stres dan butuh penyaluran. “Saya ikut sepakbola di kantor. Ini me time saya buat rilis stres, sekaligus memenuhi kerinduan di masa kecil, yaitu ingin bisa ikut soccer di lapangan yang besar.”

Bersyukur Memiliki Support System yang Baik

Adanya pasangan yang bisa saling mengisi, ART yang bisa menjaga anak-anak di kala Ryo dan istri bekerja, juga mama yang perhatian terhadap keluarga Ryo Sihombing, menjadi sebuah support system yang turut menopang Ryo dalam menjalani perannya sebagai ayah. “Kebetulan mama rumahnya sebelahan dengan kami, jadi anak-anak bisa langsung main ke rumah mama saat kami nggak ada. Saya juga bersyukur punya ART yang bisa mengurus tiga anak, bahkan bisa menjemput Obed dari sekolah.”

Kemandirian, Adab yang Baik dan Mengasihi Sesama adalah Tiga Nilai Penting yang Diajarkan Seorang Ryo Sihombing kepada Anak-anak

“Saya ingin anak-anak menjadi pribadi yang mandiri. Terutama Obed; paling tidak, dewasa kelak dia bisa mengurus diri sendiri, paham harus bersikap seperti apa. Jadi, saya mantapkan diri untuk mengajari bekal-bekal hidup yang dia perlukan.”

Foto: dokumentasi pribadi

“Kedua, saya juga ingin anak-anak punya adab. Yang baik, menjadi manusia yang rendah hati dan mengasihi sesama. Tahu bagaimana bersikap atau merespon orang lain. Jangan sampai jadi anak tidak beradab. Selain itu, saya juga ingin anak-anak nggak jadi generasi stroberi; nggak tahan tekanan. Saya ingin mereka punya resiliensi yang baik dan bisa mengelola tekanan dengan bijaksana.”

Pesan Ryo Bagi Para Ayah di Luar Sana

Kepada para daddies, Ryo berbagi, bahwa hidup di zaman modern dengan mobilitas tinggi dan semua serba cepat seperti sekarang ini, adalah tantangan tersendiri bagi para ayah.

“Dengan padatnya kesibukan, kita ditantang untuk bisa mengelola waktu untuk bisa menjalankan peran kita sebagai ayah dengan penuh. Sebisa mungkin, prioritaskanlah keluarga, apalagi jika anak-anak masih kecil. Karena, waktu cepat berlalu dan tidak bisa diputar kembali. Hadirlah bagi anak-anak, selagi bisa.”

Baca juga: Rangga Sastrowardoyo: Tidak Perlu Konsep Quality Time yang Spesial, Tetapi Setiap Momen Bersama Anak Perlu Presence yang Kuat