
IDAI mengirim surat terbuka ke BGN terkait pemberian susu formula dalam program MBG. Ini isi sorotan, klarifikasi BGN, dan alasan isu ini ramai dibicarakan.
Belakangan ini, program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali jadi sorotan setelah Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melayangkan surat terbuka kepada Badan Gizi Nasional (BGN). Hal ini tentu juga sudah jadi bahan pembicaraan banyak Mommies di luar sana.
Yang menjadi perhatian adalah soal distribusi susu formula dalam program tersebut. IDAI menilai pembagian susu formula secara massal tanpa indikasi medis berpotensi memengaruhi keberhasilan pemberian ASI di Indonesia.
Isu ini langsung ramai diperbincangkan para orang tua karena menyangkut topik yang sangat sensitif, yaitu:
Nah Mommies, supaya nggak simpang siur, ini rangkuman isi surat terbuka IDAI sekaligus klarifikasi dari BGN.
View this post on Instagram
BACA JUGA: 30 Sekolah di Indonesia yang Memiliki Kantin Sehat atau Katering Sehat Sendiri, Tidak Memerlukan MBG
Surat terbuka tersebut dikirim Satgas ASI dan UKK Nutrisi Penyakit Metabolik IDAI kepada Kepala BGN Dadan Hindayana dan jajaran pimpinan BGN. Selain di media sosial, IDAI juga mengunggah detail resmi suratnya di website resmi mereka.
Dalam suratnya, IDAI menyebut jutaan bayi Indonesia belum bisa menyuarakan haknya sendiri. Karena itu, dokter anak merasa perlu berbicara untuk kepentingan terbaik anak.
Fokus utama yang disoroti adalah distribusi susu formula secara massal dalam program MBG tanpa pemeriksaan dokter atau indikasi medis yang jelas.
Menurut IDAI, kebijakan seperti ini berisiko membuat ibu berhenti menyusui lebih cepat. Padahal ketika proses menyusui berhenti, tidak selalu mudah untuk memulainya kembali.

Salah satu poin utama dalam surat tersebut adalah penegasan bahwa ASI tetap menjadi standar emas nutrisi bayi dan anak usia dini.
IDAI menjelaskan bahwa ASI bukan sekadar makanan, tetapi mengandung ratusan hingga ribuan komponen bioaktif penting untuk tumbuh kembang anak. Mulai dari antibodi, bakteri baik untuk usus, hingga sinyal pertumbuhan otak.
Karena itu, meski teknologi susu formula terus berkembang, IDAI menilai belum ada produk yang benar-benar mampu menggantikan seluruh manfaat biologis ASI.
“Anak-anak kita butuh ASI, jangan sampai kebijakan kita hari ini membuatnya kehilangan sesuatu yang penting,” tulis IDAI dalam surat terbukanya.
Sebenarnya, kekhawatiran IDAI soal distribusi susu formula bukan muncul tiba-tiba.
Dalam berbagai rekomendasinya, IDAI selama ini memang cukup aktif mendorong perlindungan praktik menyusui dan pembatasan pemasaran produk pengganti ASI.
IDAI juga merujuk pada International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes atau kode WHO terkait pemasaran produk pengganti ASI.
Dalam penjelasan resminya, IDAI menyebut pengawasan terhadap produk pengganti ASI tidak hanya mencakup formula bayi usia 0–6 bulan, tetapi juga produk formula lain untuk anak usia di bawah 2 tahun yang dipasarkan sebagai pelengkap atau pengganti ASI.
Karena itu, IDAI menilai distribusi produk formula perlu dilakukan secara hati-hati dan tetap berbasis:
Bagi IDAI, isu ini bukan sekadar soal pilihan susu, tetapi juga bagian dari upaya menjaga hak anak untuk mendapatkan nutrisi terbaik sejak awal kehidupan.
Dalam suratnya, IDAI juga menyinggung bahwa pemberian susu formula sebenarnya sudah diatur dalam regulasi nasional.
Mereka merujuk pada:
Dalam aturan tersebut, susu formula disebut hanya boleh diberikan berdasarkan rekomendasi dokter dan indikasi medis tertentu.
Karena itu, IDAI meminta distribusi susu formula dalam program pemerintah tidak dilakukan secara massal tanpa evaluasi tenaga kesehatan.
IDAI pun memberikan beberapa rekomendasi kepada BGN di dalam surat yang mereka layangkan.
IDAI meminta agar kebijakan BGN selaras dengan program perlindungan menyusui yang selama ini dijalankan Kementerian Kesehatan.
Menurut IDAI, susu formula sebaiknya hanya diberikan pada kondisi medis khusus, misalnya:
Pemberiannya pun sebaiknya melalui fasilitas pelayanan kesehatan.
IDAI juga meminta anggaran susu formula dialihkan untuk memperkuat program:
IDAI meminta Petunjuk Teknis intervensi gizi nasional BGN ditinjau ulang supaya tetap selaras dengan regulasi kesehatan nasional dan kode WHO terkait pemasaran produk pengganti ASI.

Menanggapi surat terbuka dari IDAI, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak membuka opsi pemberian susu formula bayi untuk usia 0–6 bulan.
Menurut Dadan, BGN tetap menempatkan ASI sebagai nutrisi utama bagi bayi. “BGN tidak membuka opsi susu formula bayi karena ingin mengutamakan ASI,” jelas Dadan pada Kamis (21/5), dikutip dari Kompas.com.
Dadan juga meminta publik mencermati perbedaan antara:
Sebab, yang dimaksud dalam program MBG bukan susu formula bayi tahap awal untuk usia 0–6 bulan, melainkan formula lanjutan dan formula pertumbuhan yang diberikan berdasarkan kebutuhan tertentu.
BGN kemudian menjelaskan pembagian kategori formula berdasarkan usia anak:
Formula ini diperuntukkan bagi bayi usia 0–6 bulan dan diformulasikan menyerupai ASI sebagai sumber nutrisi utama.
Namun, BGN menegaskan kategori ini tidak masuk dalam opsi program MBG karena pemerintah tetap ingin memprioritaskan ASI eksklusif.
Jenis ini diperuntukkan bagi bayi usia 6–12 bulan yang mulai memasuki fase MPASI.
Menurut penjelasan BGN, formula lanjutan berfungsi sebagai pelengkap dengan tambahan kandungan seperti:
Formula pertumbuhan ditujukan bagi balita usia 1–3 tahun atau lebih sebagai nutrisi pendukung selama masa pertumbuhan aktif anak.
BGN juga menegaskan bahwa pemberian formula lanjutan maupun formula pertumbuhan tidak dilakukan secara massal tanpa evaluasi. Pemberiannya disebut harus berdasarkan rekomendasi ahli gizi, bidan, puskesmas, atau hasil diagnosis kondisi anak di lapangan.
Menurut Dadan, pendekatan ini dilakukan terutama pada kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, yang membutuhkan intervensi nutrisi tertentu sesuai kondisi masing-masing.
Selain itu, BGN juga menekankan bahwa tujuan program tetap berfokus pada perbaikan gizi, penurunan stunting, dan pemenuhan kebutuhan nutrisi anak Indonesia.
Karena itu, menurut BGN, penggunaan formula dalam kondisi tertentu diposisikan sebagai intervensi tambahan berbasis kebutuhan, bukan pengganti ASI secara umum.
Topik ASI dan susu formula memang selalu sensitif karena pengalaman setiap ibu berbeda-beda.
Ada ibu yang berhasil memberikan ASI eksklusif, tetapi ada juga yang menghadapi tantangan seperti:
Karena itu, banyak orang tua berharap diskusi seperti ini tetap dilakukan dengan pendekatan yang suportif dan berbasis edukasi, bukan saling menyalahkan.
Di tengah perdebatan soal ASI dan susu formula, satu hal yang sebenarnya disepakati semua pihak adalah pentingnya pemenuhan nutrisi anak.
IDAI maupun BGN sama-sama menyatakan mendukung perbaikan status gizi nasional dan penurunan angka stunting di Indonesia.
Karena itu, orang tua tetap perlu mendapat:
Sebab pada akhirnya, setiap anak berhak mendapatkan nutrisi terbaik untuk tumbuh kembangnya. Setuju, Mommies?
BACA JUGA: Keracunan MBG: Ribuan Anak Jadi Korban, Anggaran Pendidikan Ratusan Triliun Tersedot
Cover: Pexels