Tergoda Berselingkuh? Pikirkan 7 Dampak Ini bagi Pernikahan dan Anak!

Sex & Relationshipdetail-thumb

Tergoda berselingkuh? Sebelum mengambil keputusan yang bisa menghancurkan rumah tangga, pikirkan dulu 7 hal penting ini agar tidak menyesal nanti!

Dari zaman dulu, perselingkuhan sebenarnya sudah ada. Bedanya, dulu pelakunya masih punya rasa takut dan malu. Sekarang, makin banyak yang justru lebih galak ketika ketahuan. Alasan memang bisa dibuat sedemikian rupa hingga terdengar masuk akal. Namun, sekalipun alasannya bisa diterima, itu tetap nggak membuat perselingkuhan menjadi tindakan yang benar.

Pikirkan 7 Hal Ini Ketika Tergoda Berselingkuh

Kalau Mommies dan Daddies tumbuh di lingkungan dengan standar kesetiaan yang rendah, mengutip dari beberapa sumber, 7 hal ini mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan sebelum memutuskan untuk tidak setia.

BACA JUGA: 3 Cara Mengatasi Silent Treatment agar Hubungan Pernikahan Lebih Sehat

1. Ingat bahwa kita pernah jatuh cinta dengan pasangan dulu

Coba ajukan pertanyaan ini kepada diri sendiri. Ada laki-laki ganteng atau perempuan cantik yang terlihat tertarik pada Mommies dan Daddies, atau mungkin justru sebaliknya. Lalu mulai muncul pikiran, “Bagaimana, ya,  rasanya ngobrol sama dia? Menghabiskan waktu bersama dia?”

Kemudian muncul asumsi, “Kayaknya dia juga tertarik sama saya.”

Pertanyaannya, lalu kenapa? Kenapa harus menghabiskan waktu memikirkan orang tersebut? Bukankah dulu kita juga pernah merasakan hal yang sama ketika jatuh cinta pada pasangan sendiri?

Tertarik pada orang lain mungkin dirasakan banyak orang. Namun, yang paling penting adalah bagaimana cara kita menghadapi dan mengendalikan perasaan tersebut.

Foto: SHVETS production/Pexels

2. Ingat komitmen yang pernah dibuat bersama pasangan

Sebesar apa pun cinta kepada pasangan, monogami tetaplah pengorbanan. Menjalani hubungan setia bukan sesuatu yang mudah.

Kalau Mommies dan Daddies sudah setuju menjalani pernikahan monogami, maka penuhi janji tersebut. Mudah? Tentu tidak. Kita manusia yang nggak sempurna, jadi setia memang sulit.

Ingat kembali saat mengucapkan janji pernikahan untuk bersama selamanya dan menjadikan pasangan sebagai satu-satunya. Tidak ada yang memaksa untuk mengambil keputusan itu. Semua dilakukan secara sadar sebagai orang dewasa.

Memang ada kebebasan yang hilang: flirting, pergi dengan siapa saja sesuka hati, atau mencari perhatian dari orang lain. Namun, menjadi dewasa berarti juga bertanggung jawab atas sumpah yang pernah diucapkan.

3. Ingat bahwa setiap hubungan pasti punya masalah

Bahkan hubungan perselingkuhan pun punya masalah. Kalau Mommies dan Daddies berpikir orang baru ini jauh lebih baik dibanding pasangan sekarang dan hubungan kalian pasti selalu bahagia tanpa konflik, itu keliru.

Semua hubungan pasti memiliki masalah, tinggal bagaimana cara menyikapinya. Jika memilih kabur dari masalah rumah tangga dengan berselingkuh, kemungkinan besar pola yang sama akan terulang lagi.

Akhirnya tetap sama-sama bermasalah, hanya pasangannya saja yang berbeda. Bahkan bisa jadi masalahnya bertambah dua kali lipat: masalah rumah tangga dan masalah perselingkuhan.

4. Siapkah dinilai buruk oleh anak-anak?

Pikirkan dampaknya pada anak ketika perselingkuhan terungkap, karena cepat atau lambat biasanya akan terbongkar juga. Bagaimana pengaruhnya terhadap mereka? Hubungan seperti apa yang ingin Mommies dan Daddies tunjukkan kepada anak-anak?

Coba bayangkan jika suatu hari nanti anak perempuan atau anak laki-laki mendapatkan pasangan yang bersikap seperti Mommies dan Daddies saat ini. Kalau membayangkannya saja sudah terasa menyakitkan, mungkin ini saatnya berhenti.

Tergoda Berselingkuh? Pikirkan 7 Dampak Ini bagi Pernikahan dan Anak

Foto: Gustavo Fring/Pexels

5. Perselingkuhan membahayakan keluarga

Saat melanggar sumpah pernikahan, integritas diri ikut rusak dan konsekuensinya bisa sangat berat. Peran utama suami maupun istri adalah melindungi keluarga dari bahaya. Ketika seseorang menjalin hubungan dengan orang lain di luar pernikahan, secara tidak langsung ia membuka pintu masalah ke dalam rumah tangga.

Mommies dan Daddies bukan hanya membawa orang baru masuk ke kehidupan pribadi, tetapi juga menyeret seluruh keluarga ke dalam konflik yang mungkin menghancurkan semuanya.

Jangan hancurkan keluarga demi hubungan yang justru berpotensi mendatangkan bencana.

6. Bisa berakhir hidup sendirian

Saat kepercayaan pasangan dan anak-anak hilang, sering kali kepercayaan itu nggak akan kembali seperti semula. Akibatnya bisa berujung pada perceraian, hubungan keluarga yang hancur, hingga rasa kehilangan yang berkepanjangan.

Kadang seseorang memilih berselingkuh karena merasa masalah rumah tangga terlalu berat untuk diselesaikan. Perselingkuhan dianggap solusi cepat, padahal sebenarnya hanya pelarian sementara.

Ada juga yang merasa tidak terlalu bersalah karena hubungan itu “nggak pakai hati”. Padahal tetap saja, itu menyakitkan bagi pasangan dan keluarga.

Sayang sekali, ketika hubungan permanen yang sebenarnya masih bisa diperbaiki, justru ditukar dengan hubungan tanpa komitmen yang belum tentu bertahan lama.

7. Apakah rela anak-anak mengalami trauma?

Ingat anak-anak. Mereka menaruh harapan besar kepada Mommies dan Daddies. Mereka percaya bahwa orang tua adalah sumber rasa aman, nyaman, dan tempat pulang. Tega kah menghancurkan semua itu?

Mengetahui ayah atau ibu berselingkuh bisa meninggalkan luka mendalam pada anak. Bahkan dalam banyak kasus, dampaknya terbawa hingga dewasa dan memengaruhi kesehatan mental maupun hubungan mereka di masa depan.

Ada luka yang mungkin tidak terlihat, tetapi tetap tinggal seumur hidup. Bukankah tidak adil jika anak-anak harus memikul beban yang seharusnya bukan tanggung jawab mereka?

Memang selalu ada solusi untuk setiap masalah, termasuk masalah pernikahan. Tugas pasangan dan orang tua adalah mencari solusi tersebut agar keluarga tetap utuh dan bahagia.

BACA JUGA: 15 Psikolog Keluarga di Jakarta dan Tempat Praktiknya untuk Mengatasi Konflik Keluarga

Jadi, bagaimana? Pilihan tetap ada di tangan Mommies dan Daddies. Pilihlah dengan bijaksana.

Penulis: Fannya Gita Alamanda
Editor dan Diperbarui: Dhevita Wulandari
Cover: Mikhail Nilov/pexels