
Burnout anak sekolah sering kali tidak disadari orang tua. Kata psikolog, kenali tanda-tanda yang sering diabaikan agar stres pada anak tidak semakin parah.
Libur panjang baru saja usai, dan biasanya semangat baru muncul bersama tas ransel baru, pensil yang baru diruncingkan, dan rutinitas sekolah yang segar. Namun, bagi sebagian anak, momen ini justru menjadi awal dari tingkat stres yang meningkat. Sebagian besar orang tua mungkin menganggap wajar jika ada sedikit air mata, sakit perut, atau pagi yang terasa berat di minggu-minggu pertama sekolah.
Namun, apa yang terjadi jika gejala-gejala itu tidak kunjung hilang? Kondisi ini bisa menjadi tanda burnout anak sekolah yang sering kali tidak disadari orang tua.
Mommies dan Daddies mungkin pernah melihatnya: helaan napas panjang setelah pulang sekolah, tugas yang dibiarkan tidak tersentuh, atau si kecil yang dulunya sangat antusias kini tampak menjauh dan terkuras energinya. Meskipun wajar jika anak memiliki hari-hari yang buruk, stres dan tekanan yang terus-menerus dari sekolah terkadang dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius: academic burnout atau school burnout. Kondisi ini bisa menjadi tanda burnout anak sekolah yang sering kali tidak disadari orang tua.
BACA JUGA: New Mom Burnout: Kenapa Ibu Baru Merasa Kewalahan dan Cara Mengatasinya

Jangan salah sangka, burnout bukan hanya milik orang dewasa yang kelelahan bekerja. Anak-anak kita pun bisa mengalaminya.
“Burnout merujuk pada proses respons kronis terhadap stres dalam kehidupan. Dalam konteks sekolah, school burnout bisa disebabkan oleh stres yang berkaitan dengan pendidikan dan kehidupan sekolah mereka,” papar Binky Paramitha. I, M. Psi, Psikolog Pendidikan.
Ketika anak mengalami burnout, mereka mungkin merasa terkuras secara emosional, mudah frustrasi, kehilangan motivasi, dan kesulitan mengerjakan tugas sekolah, bahkan ketika mereka sudah berusaha sekuat tenaga. Burnout jenis ini tidak muncul dalam semalam. Kondisi ini sering kali berkembang selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan karena tekanan akademik yang stabil, terutama saat si kecil harus mengerjakan materi yang serupa dari tahun ke tahun.
Dengan siklus ujian, tugas, dan jam belajar yang panjang, sekolah bisa mulai terasa melelahkan dan repetitif. “Apabila diabaikan, kondisi school burnout dapat mengancam keberlangsungan studi anak. Kemungkinan anak tidak lulus atau keluar dari sekolah. Selain itu, anak pun akan semakin kehilangan kepercayaan atas kemampuan dirinya dalam belajar maupun sekolah,” tambah Psikolog Binky.
Memahami apa yang ada di balik stres ini dapat membantu orang tua mendukung anak sebelum segalanya mencapai titik nadir. Burnout sering berkembang ketika beberapa tekanan menumpuk dari waktu ke waktu:
Banyak anak ingin tampil baik dan memenuhi ekspektasi, tetapi upaya itu bisa terasa melelahkan. Bagi anak dengan ADHD atau kesulitan fokus tertentu, sekadar bertahan untuk tetap memperhatikan saja bisa menguras energi mental mereka. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk tugas sekolah, namun tetap merasa tertinggal. Ini bisa membuat anak kehilangan semangat. Apalagi jika ditambah dengan segudang aktivitas sepulang sekolah mulai dari les musik hingga bimbel yang membuat mereka kehilangan waktu untuk sekadar menjadi anak-anak dan bermain tanpa aturan.
Anak-anak menghadapi kegagalan, kritik, dan situasi di mana mereka merasa berbeda dari teman sebaya. Momen-momen ini memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri. Jika mereka pernah gagal sebelumnya, mereka mungkin mulai khawatir secara konstan akan berbuat buruk lagi. Kecemasan semacam ini bisa sangat membebani mental mereka.
Banyak anak ingin memenuhi ekspektasi orang dewasa di sekitar mereka. Di saat yang sama, mereka mungkin tidak memiliki teman yang benar-benar memahami apa yang mereka alami. Disoneksi ini bisa membuat mereka merasa terisolasi. Belum lagi ketakutan akan bullying yang membuat sekolah terasa seperti tempat yang mencekam, bukan tempat yang mendukung.
Anak-anak tidak kebal terhadap stres yang dialami keluarganya. Kesulitan finansial, konflik rumah tangga, atau bahkan jika Mommies dan Daddies sendiri sedang mengalami burnout, hal itu bisa menciptakan siklus stres dalam unit keluarga.
Media sosial menciptakan kebutuhan konstan akan validasi dan perbandingan. Sifat adiktif perangkat digital juga mengganggu pola tidur dan mengurangi interaksi sosial tatap muka. Tekanan untuk mempertahankan kehadiran online bisa terasa melelahkan bagi anak-anak yang masih belajar memahami dirinya sendiri.
Burnout tidak selalu muncul dalam bentuk tantrum yang keras atau panik yang nyata. Lebih sering, ia muncul dalam sinyal yang tenang dan mudah terlewatkan, terutama pada anak-anak yang terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Berikut adalah beberapa gejalanya:
Sering sakit kepala atau sakit perut (terutama pada hari sekolah).
Kesulitan tidur atau bangun dalam keadaan lelah.
Kelelahan kronis dan energi rendah.
Perubahan nafsu makan.
Bagi anak dengan ADHD atau gangguan kecemasan, tanda-tanda ini mungkin lebih sulit dideteksi karena sering tumpang tindih dengan gejala yang sudah ada. Namun, perubahan energi, antusiasme, atau emosional adalah hal yang patut diperhatikan.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Berikut adalah beberapa strategi yang disarankan untuk melindungi anak-anak dari efek burnout:
Psikolog Binky menjelaskan bahwa ketika mengalami school burnout, anak membutuhkan support dari lingkungan sosial, terutama keluarga. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Özhan M. B., Yüksel G (2021) dan Gil-Calderón et all (2021), Psikolog Binky menyarankan beberapa tindakan berikut:
BACA JUGA: Fakta Tentang Dad Burnout yang Sering Diabaikan: Kenali Tanda dan Cara Mengatasinya
Kadang, yang paling dibutuhkan anak bukan solusi cepat, melainkan keyakinan bahwa mereka tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Mommies dan Daddies, ingatlah bahwa proses sekolah itu perjalanan panjang, bukan kompetisi yang harus selalu dimenangkan cepat-cepat. Kesehatan mental si kecil jauh lebih berharga daripada angka di atas kertas rapor. Dengan menunjukkan sikap penuh pengertian, anak akan tahu bahwa apa pun hasilnya di sekolah, rumah adalah tempat yang paling aman untuk pulang.
Cover: Magnific