10 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Setelah Bertengkar dengan Pasangan

Sex & Relationshipdetail-thumb

Bertengkar dengan pasangan adalah hal yang wajar, tapi tindakan setelahnya sangat menentukan. Hindari 10 kesalahan ini agar hubungan tetap sehat dan kuat.

Meski setiap kali habis bertengkar dorongan impulsif untuk “mengirim pasangan ke Rusia” terasa sangat besar, perlu diingat bahwa pertengkaran dalam sebuah hubungan adalah hal yang lumrah dan sehat. Asalkan tahu pantangannya, pertengkaran justru bisa menjadi sesuatu yang membangun, bukan sesuatu yang menghancurkan hubungan Mommies dan Daddies.

BACA JUGA: Berantem Hebat sama Suami? Ini 5 Cara Memulai Obrolan biar Nggak Makin Renggang

Melansir dari Reader’s Digest, berikut ini 10 hal yang tidak boleh dilakukan setelah bertengkar dengan suami atau istri.

1. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa setelah bertengkar dengan pasangan

Mengabaikan penyebab pertengkaran atau berpura-pura tidak terjadi apa pun bukanlah ide yang bijak. Ini sama seperti menyapu kotoran ke bawah karpet dan berasumsi pasangan akan puas begitu saja.

“Kalian harus bisa menarik pelajaran dari pertengkaran yang sudah terjadi. Bahas bersama penyebab dan solusinya agar bisa memperbaiki keadaan, karena pasti ada kerusakan yang terjadi — besar atau kecil,” kata Lesli M. W. Doares, Konsultan Pernikahan di Cary, North Carolina, dan penulis Blueprint for a Lasting Marriage: How to Create Your Happily Ever After with More Intention.

2. Curhat tentang pertengkaran di media sosial atau kepada sembarang orang

Adalah hal yang normal untuk mencari seseorang yang bisa memahami perasaan kita. Namun, pertengkaran bukanlah konsumsi publik. “Tindakan itu bisa sangat merusak kepercayaan pasangan kepada Anda,” kata Marni Feuerman, psikoterapis berlisensi di Boca Raton, Florida.

Dan begitu mem-posting sesuatu di forum publik, Mommies atau Daddies tidak bisa menariknya kembali. Lagipula, ini tidak adil. Orang-orang yang membaca postingan Mommies atau Daddies tidak tahu 100% fakta yang sebenarnya. Kalau benar-benar butuh tempat curhat, bicaralah dengan orang kepercayaan yang dapat memberikan nasihat yang seimbang dan jujur.

Foto: Yan Krukau/Pexels

3. Menunggu terlalu lama untuk menyelesaikan masalah

Setelah kalian berdua menenangkan diri, tinjau kembali masalahnya dan selesaikan bersama. “Kemarahan yang belum diselesaikan dan perasaan sakit hati dapat terus tumbuh jika tidak segera ditangani, dan konflik pun semakin sulit untuk diatasi,” kata Antonia Hall, MA, Psikolog, Pakar Hubungan, dan penulis The Ultimate Guide to a Multi-Orgasmic Life.

Selain itu, semakin lama waktu berlalu, semakin sulit mengingat faktor-faktor yang memicu konflik. Dan itu hanya akan membuat penyelesaiannya semakin rumit.

4. Mengeraskan hati dan enggan memaafkan setelah bertengkar dengan pasangan

Jangan menahan amarah dan enggan memaafkan. Jika pasangan meminta maaf dengan sepenuh hati, terimalah. Suatu hari nanti, mungkin saja Mommies atau Daddies yang membutuhkan maafnya. Tetap marah atau kesal dan dengan keras kepala menolak permintaan maafnya hanya akan memperburuk keadaan.

Sebuah hubungan bukan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kalian berada di pihak yang sama.

5. Mengungkit-ungkit kesalahan di masa lalu

Let it go. “Jika terus mengungkit setiap kesalahan yang menjadi sumber pertengkaran sebelumnya, tidak akan ada perdamaian dan tidak akan ada cinta. Lagipula, jika pertengkaran sudah benar-benar diselesaikan, untuk apa diungkit lagi? Dengan mengungkit konflik lama, Mommies atau Daddies hanya memulai kembali pertempuran yang sama sekaligus menunjukkan bahwa resolusi dan kesepakatan sebelumnya tidak ada artinya.”

6. Hanya fokus menyalahkan tanpa mencari solusi

Apakah pasangan sering lupa membelikan barang pesanan kita? Alih-alih terus menyimpan kekesalan atas kesalahan yang ia lakukan, lebih baik mencari solusi bersama untuk masalah tersebut. Bantu pasangan agar tidak mudah kesal dan tidak hanya menyalahkannya.

10 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Setelah Bertengkar dengan Pasangan

Foto: Timur Weber/Pexels

7. Memberi pasangan silent treatment

Tidak ada salahnya jika setelah bertengkar Mommies atau Daddies butuh waktu sendiri untuk merenung dan menenangkan diri, tapi jangan terlalu lama. Mengabaikan pasangan hanya akan memperbesar rasa sakit dan kemarahan.

Jangan bersikap dingin. Pasangan akan merasa seperti sedang dihukum jika kita mengabaikannya, menolak niat baiknya untuk berdamai, dan tidak mau bicara. Jika masih kesal, Mommies atau Daddies bisa bilang, “Kasih saya waktu untuk menenangkan diri supaya nanti kita bisa bicara baik-baik dan lebih rasional.”

8. Menggunakan kata-kata yang menyakitkan kepada pasangan

Bahkan jika hati Mommies atau Daddies sangat kesal dan ingin meluapkan amarah, tahan diri. Jangan sampai keluar kata-kata yang kita tahu akan menyakiti perasaan pasangan. Bisa gunakan kata-kata yang lebih tenang untuk membuat pasangan memahami perasaan kita tanpa merasa disalahkan.

9. Meminta maaf tapi tidak dari hati

“Permintaan maaf bukanlah permintaan maaf yang sesungguhnya jika Anda mengatakan, ‘Maafin saya, tapi ini gara-gara…'”

Kalau seperti itu, artinya Mommies atau Daddies meminta maaf sambil menyalahkan hal atau orang lain. Atau meminta maaf tapi tidak tulus. Pasangan tahu membedakan permintaan maaf yang sungguh-sungguh dengan permintaan maaf yang palsu.

Jika kesal tentang sesuatu, pasangan perlu tahu apa penyebab sesungguhnya, bukan malah sibuk mencari kambing hitam. Sikap seperti ini hanya membuat Mommies atau Daddies terlihat seperti orang yang tidak mau bertanggung jawab.

10. Memaksakan make-up sex setelah bertengkar dengan pasangan

Make-up sex memang bisa menjadi salah satu cara bagi pasangan yang sedang bertengkar untuk berbaikan, tapi jika suasana hati tidak mengarah ke sana, jangan dipaksakan. Waktu dan emosi harus tepat agar seks terasa menyenangkan, bukan sekadar alat. Make-up sex bisa memperbaiki keadaan, asalkan Mommies dan Daddies sama-sama menginginkannya

BACA JUGA: 7 Tanda Pernikahan yang Setara, Nggak Selalu 50:50, tapi Terasa Adil

Pertengkaran tidak harus menjadi akhir dari segalanya. Justru, cara Mommies dan Daddies bersikap setelah bertengkar dengan pasangan adalah yang paling menentukan kesehatan hubungan jangka panjang. Hindari 10 hal di atas dan jadikan setiap konflik dalam rumah tangga sebagai langkah untuk saling memahami lebih dalam.

Cover: Timur Weber/Pexels
Penulis: Fannya Gita Alamanda
Editor dan diperbarui: Dhevita Wulandari