Sorry, we couldn't find any article matching ''

Aninda: Menjadi Praktisi Psikologi dari Pengalaman Baca Rubrik Curhat
Cerita inspiratif Aninda, Praktisi Psikologi Anak Usia Dini, tentang membagi peran ibu, istri, dan profesional. Penuh tips mindful parenting dan self-care.
Siapa sangka, perjalanan karier seseorang bisa dimulai dari hal sederhana seperti membaca rubrik curhat di majalah langganan ibunya saat masih SD. Hal ini dialami Aninda, S.Psi, M.Psi.T. yang saat ini menjalani karier dan profesinya sebagai Praktisi Psikologi Anak Usia Dini.
Istri dan ibu dari dua anak ini akhirnya memilih dunia psikologi karena rasa penasarannya saat ia kecil dulu. Mommies Daily pun berkesempatan untuk bertanya soal karier hingga kesehariannya. Di sini, pemilik akun Instagram @aninda143 ini berbagi perjalanan, tantangan, hingga cara sederhana menjaga kewarasan di tengah kesibukan yang (jujur saja) nggak ada habisnya.
BACA JUGA: Kembali Bekerja Setelah Punya Bayi: Persiapan Fisik, Mental, dan Logistik
Apa yang menginspirasi Aninda untuk menekuni dunia psikologi, khususnya anak usia dini?
Aku kenal Psikologi dari sebuah rubrik curhat di majalah langganan ibuku. Saat itu aku masih SD. Waktu baca rubrik tersebut, di pikirku, “Keren banget, ya, bisa kasih jawaban buat masalah orang lain.” Aku tanya ke ibuku dan ibuku bilang kalau bidang ilmunya adalah Psikologi. Dari saat itu, aku langsung tahu bahwa aku akan menekuni bidang ini.
Kalau untuk anak usia dini, sejak kecil aku memang sudah suka dengan anak-anak. Bahkan waktu TK, aku sudah kepingin jadi guru TK, hahahaha
Semakin suka dengan dunia anak waktu aku kuliah Psikologi Perkembangan, karena dari mata kuliah tersebut aku jadi tahu bahwa perkembangan anak itu kompleks. Aku jadi ingin fokus di ranah itu. Jadilah, waktu kuliah semester 3 hingga 6, aku memberanikan diri untuk bekerja part-time sebagai asisten guru di sebuah daycare. Pengalaman kerja pertamaku tersebut penuh dengan cerita dan pengalaman.

Foto: Dok. Pribadi/Aninda
Menjadi Praktisi Psikologi, istri, dan ibu dari dua anak, bagaimana cara membagi waktu dan energi di antara semua peran tersebut?
Time management is the key. Karena kebetulan aku juga punya jiwa ambisius dan sering bekerja dari rumah (yang mana tidak ada pakem “jam masuk dan jam pulang” seperti di kantor). Jadi di awal-awal aku merasa kurang adil dalam membagi waktu: lebih banyak kerjanya.
Sekarang, aku mulai membatasi itu. Seperti, paling malam bekerja hingga pukul 20:00, sebelum tidur ada ritual nonton film dulu bersama anak dan suami. Jadi, tetap seimbang antara semua peran yang aku jalani.
Dukungan seperti apa yang paling berpengaruh dari pasangan dalam perjalanan Aninda sejauh ini?
Alhamdulillah, suamiku sangat hands-on di dalam pengasuhan anak-anak. Ada momen dia yang mengambil alih mengajari anak kedua kami saat ujian dan setiap pekan dia juga yang mengantar anak pertama kami ikut pertandingan sepak bola.
Suamiku juga peka terhadap hal-hal yang terjadi padaku. Dia selalu hadir dan menemaniku bertumbuh, baik dalam karier maupun pribadi.

Foto: Dok. Pribadi/Aninda
Mengasuh anak remaja dan Gen Alpha sering kali penuh dinamika. Apa tantangan terbesar yang Aninda pernah alami?
Kalau di anak remajaku, yang paling aku rasakan adalah perubahan sosialnya. Kebetulan, anak remajaku ini laki-laki dan termasuk senang bicara waktu kecilnya. Masuk ke usia remaja, mulai punya dunia sendiri, jadi lebih banyak diam. Jadi, dia banyak bercerita kalau sedang mau saja, hehehe. Yang aku lakukan adalah aku memberikan pemahaman teori psikologi remaja padanya bahwa hal ini sangat wajar, tapi bukan berarti boleh berjarak dengan keluarga.
Kalau di anak Gen Alpha-ku, tantangannya beda lagi. Menurutku, dia sangat kritis di usianya ini. Banyak hal yang dia ingin tahu dan dia tanyakan. Apalagi saat memberikan aturan, aku perlu menjelaskan secara logis agar dia paham why-nya.
Seru. Sebagai orang tua, kita perlu belajar banyak cara menghadapi anak-anak, ya.
Di sela-sela kesibukan, bagaimana caranya untuk me time agar tidak overstimulasi dan overwork, serta menghindari burnout?
Nah, balik lagi ke time management. Akhirnya aku selalu meluangkan jeda saat bekerja. Jedanya sekitar 30-60 menit yang biasanya aku isi dengan makan, menelepon teman, atau sekadar main game di tablet.
Dan juga, membatasi waktu bekerja, seperti yang aku jelaskan sebelumnya, pukul 20:00 sudah harus selesai agar tidak mengalami overstimulasi dan overwork.

Foto: Dok. Pribadi/Aninda
Apa pesan untuk para ibu yang juga ingin berkarier namun tetap hadir secara emosional untuk anak dan pasangan?
Sadari dulu kapasitas dan peran kita. Karena sebagai perempuan yang berkarier sekaligus berkeluarga, kita tidak bisa condong ke satu arah saja. Untuk itu, perlu adanya time management yang jelas dan me-time yang cukup.
Kalau merasa tidak punya waktu yang cukup untuk beristirahat, sesederhana menikmati dan merasakan napas kita juga sudah cukup, lho. Karena terkadang, saking sibuknya kita, kita jadi lupa untuk bernapas (mindful breathing), hehehe. Don’t be so hard on yourself, ya…
BACA JUGA: 7 Cara Ampuh Hindari Stres untuk Ibu Bekerja, Stop Burnout!
Cerita Aninda mengingatkan kita bahwa keseimbangan itu bukan sesuatu yang datang begitu saja. Tapi sesuatu yang kita ciptakan—pelan-pelan, dengan sadar.
Jadi, Mommies dan Daddies, di tengah semua peran yang sedang dijalani hari ini, sudahkah kita memberi ruang untuk diri sendiri? Karena saat kita baik-baik saja, keluarga pun ikut merasakannya.
Cover: Dok.Pribadi/Aninda
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS