
Dari siswa teladan, menjadi music director, hingga diterima beasiswa di The Hong Kong Polytechnic University, Cornelio Mahatma Utomo menceritakan kisahnya.
Bagi sebagian remaja, sibuk belajar, bergaul, berorganisasi, lalu bersiap untuk ujian akhir, dan di saat bersamaan harus memikul tanggung jawab besar sebagai Music Director orkestra sekolah, mungkin akan membuat mereka overwhelmed.
Namun, bagi Cornelio Mahatma Utomo, atau yang akrab disapa Cornel, panggung musik justru menjadi tempat ia menemukan ‘rumah’ untuk berekspresi. Siswa kelas 12 SMA Kolese Gonzaga, Jakarta Selatan ini, membuktikan bahwa dengan disiplin yang ia bentuk sendiri, Cornel sukses mencetak banyak prestasi membanggakan.
Sebut saja predikat sebagai siswa teladan saat duduk di bangku SMP Pangudi Luhur tahun 2023, Ketua Osis di SMP yang sama, menjadi Music Director Medley Gonzaga Festival, dan puncaknya saat ini ia tercatat sebagai penerima beasiswa full-tuition di The Hong Kong Polytechnic University untuk jurusan Applied Mathematics and Finance Analytics.
Di balik prestasinya yang gemilang, tersimpan kisah menarik tentang bagaimana sebuah game sederhana di ponsel, dukungan orang tua yang luar biasa, serta jatuh bangunnya dalam membentuk seorang Cornel yang tangguh.

Buat Cornel, musik bukanlah hal yang asing. Ia tumbuh besar di lingkungan keluarga pemusik. Sang Mama, Yuli Saraswati mahir bermain piano dan menyanyi, sementara neneknya adalah seorang guru piano.
Jadi nggak heran, ya, kalau ia sendiri mengaku punya “garis keturunan” yang membuat passion-nya di bidang musik tumbuh alami.
Instrumen musik pertama yang ia pelajari adalah drum. Dipikir-pikir, alasannya tertarik dengan drum terbilang lucu. “Saya mikirnya drum itu adalah alat musik yang paling mudah karena hanya asal pukul saja. Nggak perlu pusing mikirin nada,”jelasnya.
Minatnya terhadap piano justru muncul karena memainkan game di ponsel bernama Piano Tiles. Lewat simulasi menekan balok hitam sesuai irama musik tersebut, Cornel justru jatuh cinta dengan alunan melodi dan suara piano. “Saya merasa bermain piano itu sangat memuaskan, bahkan menjadi stress relief,” kenang Cornel.
Di bawah bimbingan Niko Ajibandi, seorang musisi pop dan komposer ternama Indonesia, Cornel kecil mengasah bakat musiknya bermain piano selama bertahun-tahun. Sampai ia duduk di kelas 10, barulah ia dianggap cukup matang untuk berdiri sendiri, memulai karir musiknya.

Langkah pertamanya sebagai seorang musisi dimulai dengan keberanian mengikuti audisi pemusik untuk opera Jesus Christ Superstar. Opera ini adalah event besar tahunan SMA Kolese Gonzaga. Event yang biasanya diselenggarakan di panggung Ciputra Artpreneur, Lotte Avenue. Tak disangka, insting musiknya yang kuat membuat para guru menaruh kepercayaan besar padanya hingga ia didapuk menjadi Music Director.
“Sejak opera itu, guru-guru sering memberi saya kepercayaan besar jadi Music Director di proyek-proyek Gonzaga selanjutnya. Termasuk didapuk menjadi conductor di Gonzaga Big Band Orchestra (GBBO). Saya kemudian diminta juga untuk arranging dan composing medley Gonzaga Festival selama 2 tahun berturut-turut. Bahkan karya medley ini menarik perhatian penyelenggara Indonesia International Motor Show (IIMS) dan diminta sebagai penampil penutupan IIMS tahun 2025 dan 2026.”
“Mengaransemen rangkaian lagu, dalam hal ini lagu-lagu Nusantara, tanpa henti dengan durasi yang sangat menantang, mulai dari 13 menit hingga 23 menit di tahun berikutnya benar-benar membuat saya bangga dan bersyukur. Melalui karya ini, saya rasa orang-orang jadi tahu bagaimana ‘rasa’ dan warna musik saya,” ungkapnya.

Cornel sendiri memilih untuk memusatkan seluruh kesibukannya di lingkungan SMA Kolese Gonzaga. Apalagi menurutnya, selain kegiatan akademik, aktivitas non akademiknya juga padat. Ia pun membatasi kegiatan di luar sekolah, termasuk urusan nongkrong yang ia lakukan hanya sesekali. “Gimana, ya, namanya nongkrong, kan, tetap menguras tenaga. Jadi selama tidak ada kegiatan apa-apa di luar sekolah, saya tidur. Istirahat di rumah, makan, atau refreshing sedikit-sedikitlah.”
“Prinsip saya adalah menuntaskan semua “kewajiban” akademis di jam pelajaran tanpa distraksi. Jadi, di luar jam pelajaran saya bisa fokus 100% untuk dunia yang saya sukai, main musik misalnya,” terangnya.

Putra ke-dua dari pasangan Arintoko Utomo dan Yuli Saraswati ini merasa bahwa kehadiran orang tua adalah fondasi utama yang memungkinkan dirinya menjadi seperti sekarang ini.
Dalam hal musik misalnya, bukan hanya penonton, kedua orangtuanya ini juga bertindak sebagai fasilitator yang peka. “Waktu saya cuma main piano dari tutorial Youtube, mereka yang berinisiatif mencarikan guru profesional. Tujuannya supaya saya tak hanya sekadar bermain nada, tetapi juga mampu mengolah rasa.”
Mengenai peran besar ayah dan ibunya, Cornel menuturkan,”Menurut saya, peran orang tua adalah fasilitator sekaligus suporter yang menyiapkan dan mengarahkan jalan bagi anak-anaknya. Tanpa dukungan dan fasilitas dari mereka, saya tidak akan bisa mendalami instrumen musik hingga seperti sekarang, dan belum tentu juga bisa menerima beasiswa di Hongkong.”
Yang banyak orang tidak tahu, di balik perjuangan Cornel mendapatkan beasiswa full-tuition di Hong Kong, ia sempat berada di titik terendah, merasa gagal, dan rasanya mau menyerah saja.
Ini ia rasakan saat harus menaklukkan mata pelajaran bahasa Inggris. Bagi dirinya, sebagai orang yang tidak terlalu punya bakat belajar bahasa, persiapan ujian IELTS dan SAT menjadi jalan yang terjal dan penuh tantangan.
Tekanan yang besar sempat membuatnya merasa gagal dan nyaris melepaskan impian kuliah di luar negeri karena merasa kemampuannya tidak akan pernah cukup. Titik balik Cornel terjadi saat ia memberanikan diri untuk terbuka dan berkonsultasi dengan orang yang ia percaya. Melalui dukungan moral dari gurunya di SMA Kolese Gonzaga, Pak Himawan, Cornel perlahan bangkit dari rasa kewalahan tersebut.
“Saya sempat merasa tidak mampu dan ingin menyerah, tapi saya sadar bukan berarti impian itu tidak mungkin. Jika kita tidak pernah mencoba, kita tidak akan pernah tahu batas kemampuan kita yang sebenarnya.”
Baca juga: Nakeisha Alaika: Aktif di Sekolah, Kini Lolos ke 6 Universitas Luar Negeri!
Usia boleh muda, tapi prinsip “If we never try, we will never know” dipegangnya teguh dalam menjalani hidup. “Cobalah apapun yang ada di depan mata selama itu sesuai dengan kemampuan, karena kita tidak akan pernah tahu di mana letak bakat dan minat kita jika tidak pernah memulai,” saran keyboardis band yang meraih juara 1 Lomba Band Abdi Siswa Cup 2024 ini.
Berkenaan dengan rencana studinya di Hong Kong pada Agustus mendatang, Cornel merasa harus bisa menjaga amanah beasiswa di The Hong Kong Polytechnic University. Fokus utamanya adalah meraih nilai maksimal pada jurusan Applied Mathematics and Finance Analytics. Baginya, mempertahankan beasiswa bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bentuk tanggung jawab atas kepercayaan yang telah ia terima.
Namun begitu, Cornel ingin terus menghidupkan cintanya pada musik. Melalui musik, ia ingin membangun koneksi dan memberikan nilai tambah bagi lingkungan barunya. “Di sana saya juga harus berkontribusi pada komunitas melalui musik gitu, ya, karena kontribusi di komunitas itu juga menjadi poin penilaian juga dari pihak Universitas. Jadi saya harus bisa menyeimbangkan prestasi akademis dan non-akademis sampai ke jenjang kuliah,” pungkasnya.