Andi JG: Belajar Jadi Ayah yang Utuh, Hadir, dan Penuh Rasa Ingin Tahu

Work & Career

Katharina Menge・in 7 hours

detail-thumb

Dari dunia IT ke parenting, Andi JG menemukan makna jadi ayah yang utuh dan berusaha membesarkan anak menjadi versi terbaiknya.

Menjadi orang tua sering kali terasa seperti perjalanan tanpa peta. Namun bagi Andi JG, CPC, FPCM, seorang Filial Play & Life Coach, perjalanan itu justru dimulai dari satu pertanyaan sederhana: apa yang sebenarnya membuat hidup terasa penuh?

Dari seorang engineer di bidang telekomunikasi, Andi, yang akrab disapa Mas JG, menemukan arah baru dalam hidupnya. Bukan sekadar soal karier, tetapi tentang menjadi ayah yang hadir sepenuhnya, memahami anak, dan membangun keluarga dengan nilai yang kuat.

Yuk, kita kenalan lebih dekat dengan sosoknya.

BACA JUGA: Darius Sinathrya: Belajar Jadi Ayah yang Hadir Sepenuhnya untuk Anak Remaja

Berawal dari Mencari “Rasa Penuh” dalam Hidup

Sebelum dikenal sebagai Certified Life & Filial Play Coach, Andi adalah seorang pekerja di dunia IT. Jalur karier yang ia tempuh pun bukan sepenuhnya pilihan pribadi, melainkan hasil dari harapan orang tua, cerita yang mungkin terasa dekat bagi banyak dari kita.

Namun, di tengah kesibukan dan stabilitas pekerjaan, ada satu hal yang ia sadari hilang. “Aku ngerjain pekerjaan itu, tapi hati aku nggak penuh,” ceritanya.

Pandemi menjadi titik balik. Andi mulai mengalami anxiety dan akhirnya menjalani terapi. Bersama sang istri, ia perlahan mulai mencari jawaban atas dirinya sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana pun muncul, “Apa yang kamu suka?”, “Apa yang bikin kamu merasa penuh?”

Dalam proses yang ia jalani selama kurang lebih dua tahun, termasuk melalui play therapy, Andi mulai benar-benar mengenal dirinya. Ia menyadari bahwa dirinya merasa jauh lebih “hidup” ketika berinteraksi langsung dengan manusia—human to human—terutama dengan anak-anak, dibandingkan dengan layar komputer.

Dari situlah, langkahnya masuk ke dunia parenting dimulai.

Membangun Value Keluarga, Bukan Sekadar Rutinitas

Hari-hari Andi kini bukan lagi sekadar soal pekerjaan teknis. Ia fokus membangun value keluarga—nilai yang ingin ditanamkan, dijalani, dan diwariskan.

Bagi Andi, setiap peran dalam hidup perlu dijalani dengan sadar: sebagai ayah, sebagai suami, dan sebagai individu. “Setiap peran itu harus diisi penuh. Kalau satu kosong, yang lain juga nggak akan maksimal,” jelasnya.

Value ini tidak berhenti di konsep. Ia hadir dalam keseharian, dari cara berkomunikasi, mengambil keputusan, hingga bagaimana ia benar-benar hadir untuk anak dan pasangan.

Dari “Nyuruh Berkali-kali” ke Membangun Koneksi

Dalam perjalanannya sebagai Filial Play & Life Coach, Andi tidak merasa mengubah prinsip parenting-nya secara drastis. Namun, ada satu hal penting yang berkembang, yaitu cara.

Dulu, seperti kebanyakan orang tua, ia terbiasa mengingatkan anak berkali-kali. Sekarang, ia memilih pendekatan yang berbeda.

Connection before correction. Koneksinya sudah dibangun apa belum? Kalau koneksinya sudah dibangun, maka koreksinya pun akan lebih baik.”

Jadi, alih-alih langsung memberi instruksi, Andi akan memastikan perhatian anaknya terlebih dahulu, dimulai dengan mengajak kontak mata, hadir secara utuh, lalu menyampaikan pesan dengan tenang. Ia juga menekankan pentingnya menyesuaikan permintaan dengan usia dan kemampuan anak.

Hasilnya? Anak menjadi lebih kooperatif, tanpa perlu diingatkan berulang kali.

Membesarkan Anak dengan Pendekatan “Bottom-Up”

Dari pengalamannya, Andi memahami bahwa setiap manusia memulai hidupnya dari fase anak-anak. Karena itu, ia ingin membangun anaknya dari fondasi tersebut—bukan dari ekspektasi orang tua.

Ia memilih pendekatan bottom-up, bukan top-down. “Built the quality-nya itu bottom-up, bukan top-down,” jelas Andi. Ia lalu mengaitkan dengan pengalaman pribadinya. “Dulu ibu aku ingin aku jadi engineer. Jadi semua diarahkan ke situ. Itu top-down.”

Kini, ia memilih pendekatan berbeda untuk sang anak. “Aku inginnya anak-anak dibangun dari bawah. Apa sih versi terbaik dari mereka? Apa yang mereka suka?”

Artinya, anak diberi ruang untuk mengeksplorasi minatnya, sementara orang tua tetap hadir sebagai pendukung, dengan value keluarga sebagai fondasi. “Aku ingin anakku jadi versi terbaik dirinya, bukan versi yang aku tentukan.”

Dalam keseharian, Andi memberi kebebasan pada anaknya, Xylo, untuk mencoba berbagai aktivitas, mulai dari dari olahraga hingga hobi lain. Tidak masalah jika berhenti di tengah jalan, selama prosesnya dijalani dengan sungguh-sungguh. Namun semua itu tidak lupa sambil tetap dibarengi dengan menanamkan nilai dasar dan value keluarga, seperti analytical thinking melalui ilmu matematika, sains, dan bahasa.

“Jadi ketika di usia anak-anak dia menjadi versi terbaik dirinya, ketika dia naik ke SMP dia menjadi versi terbaik dirinya, begitu juga ketika SMA dan kuliah. Dan di mana pun dia menjadi versi terbaiknya karena fondasinya bagus, dibarengi dengan value, dan apa yang dia sukai.”

3 Tips Parenting dari Andi JG untuk Membesarkan Anak Laki-Laki

Dari pengalamannya, Andi membagikan tiga hal penting:

1. Bangun Kedekatan Sejak Dini

Kedekatan bukan dibangun saat anak laki-laki memasuki remaja, tapi sejak anak baru lahir. “Ada yang bilang anak laki-laki harus dekat sama ibunya, dan anak perempuan dengan ayahnya. Tidak. Kami berdua (saya dan istri) harus dekat dengan anak.

2. Ayah Harus Aktif di Fase Krusial

“Nanti setelah masuk ke usia pre-teen sampai remaja, orang tua yang gendernya sama yang harus lebih dekat dengan anak untuk mengajarkan sex education,” ungkapnya. Di usia ini saat anak mulai memahami identitas gender dan seksualitas, sehingga peran ayah sangat penting, terutama untuk anak laki-laki.

3. Luangkan Waktu Bermain Bersama

Bermain bukan sekadar aktivitas, tapi cara membangun hubungan yang hangat. Andi menjelaskan kalau dia selalu punya waktu untuk main dengan anak lelakinya. “Aku punya waktu khusus yang cukup buat main sama anak. Kami main bola bersama dan juga ngobrol.”

Ingin Jadi Ayah yang Penuh Rasa Ingin Tahu

Saat ditanya ingin menjadi ayah seperti apa, jawaban Andi terdengar sederhana, tapi bermakna dalam. “Aku ingin jadi ayah yang selalu curious,” jawabnya. Bukan sekadar ingin tahu atau kepo, tetapi benar-benar memahami, seperti apa yang anak rasakan, apa yang ia minati, dan bagaimana ia bertumbuh.  “Biar dia benar-benar jadi versi terbaik dirinya.”

Tantangan Ayah di Indonesia: Bukan Tidak Bisa, Tapi Belum Terbiasa

Menurut Andi, tantangan terbesar ayah di Indonesia dalam mendampingi tumbuh kembang anak bukan soal kemampuan, melainkan mindset.

Masih banyak ayah yang:

  • belum memahami kebutuhan anak di tiap usia,
  • belum terlibat aktif dalam pengasuhan,
  • atau masih merasa parenting adalah “urusan ibu”.

Padahal, kuncinya sebenarnya sederhana, yaitu “Punya growth mindset dan mau belajar,” jelas Andi.

Hal ini bisa dimulai dari memahami tahapan tumbuh kembang anak, mengenali kebutuhan emosional mereka, hingga belajar cara berkomunikasi yang tepat.

Ia juga menekankan pentingnya mengubah cara pandang dalam merespons anak. “Mindset yang terbaik bukan anxious, tapi curious. Curious tentang apa yang anak butuhkan dan ingin tahu. Kalau anxious, respon kita jadi kurang tepat karena dilandasi rasa cemas,” ungkapnya.

Pesan untuk Ayah (dan Juga Ibu): Isi Setiap Peran dengan Penuh

“Kamu harus isi setiap peran-peran dalam hidup kamu secara maksimal, harus 100%. Kalau sekarang jadi karyawan, jadilah karyawan yang profesional. Kalau sekarang peran kamu juga jadi pasangan, kamu juga harus profesional untuk menyayangi pasangan kamu, provide dia, dan jangan lupa pacaran. Lalu juga peran kamu jadi diri sendiri. Isi diri kamu dengan hobi dan punya waktu untuk diri sendiri. Karena ketika diri sendiri penuh, kita baru bisa benar-benar hadir untuk peran-peran yang lain, termasuk untuk keluarga dan sebagai ayah,” tutupnya.

BACA JUGA: Arlien Panambang: Tetap Dekat secara Emosional dengan Anak Remaja Walau Sibuk Bekerja

Foto: Dok. Pribadi