Sorry, we couldn't find any article matching ''

Pasangan Suka Playing Victim? Ini 5 Cara Menghadapinya dengan Kepala Dingin
Punya pasangan yang hobi playing victim dan mentalitas korban? Kenali ciri-cirinya dan ikuti tips menghadapinya tanpa menguras energi dan kesehatan mental.
Jika kebanyakan orang akan menganalisa masalah yang mereka hadapi, berusaha mencari jalan keluarnya, lalu move-on, tidak begitu halnya dengan orang yang punya kecenderungan playing victim.
Mereka akan akan terus berkutat dalam masalah dan memborbardir Mommies dengan kisah sedihnya, seolah hanya dia seorang yang hidupnya paling sengsara di seluruh alam semesta.
Apa Itu “Sindrom Korban” atau “Mentalitas Korban”?
Sindrom korban atau mentalitas korban adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang selalu merasa menjadi korban, meskipun sebagian besar keluhannya adalah tentang hal-hal sepele.
Orang dengan mentalitas korban memproyeksikan rasa tidak berdaya dan kerapuhan. Mereka sering menceritakan kisah-kisah pedih tentang diri mereka untuk menumbuhkan rasa iba pada orang lain dan mencari validasi atas penderitaan yang mereka alami.
Orang dengan mentalitas ini juga cenderung mengalami pergulatan terus-menerus dalam ranah sosial mereka karena suka memandang diri sebagai korban dalam berbagai jenis hubungan.
BACA JUGA: Attachment Style dalam Pernikahan, yang Manakah Kamu?
Ciri-ciri Seseorang Punya Mentalitas Korban
Nggak yakin bagaimana mengidentifikasi apakah seseorang memiliki “mentalitas korban”? Selain ciri-ciri di atas tadi, coba lihat juga dari tanda-tanda ini:
- Mereka tidak pernah mengakui kesalahan mereka sendiri atau menyadari peran mereka ketika terjadi konflik.
- Mereka suka membesar-besarkan masalah dan perasaan negatif mereka. Setiap masalah kecil dianggap sebagai “akhir dunia”.
- Mereka berpikir bahwa setiap orang (atau hampir semua orang) jahat terhadap mereka.
- Mereka merasa tanpa daya dan hanya memiliki sedikit kendali atas hidup mereka.
- Pembicaraan mereka biasanya seputar masalah mereka. Hidup ini selalu tentang mereka. Mereka penting, orang lain enggak.
- Selalu terjadi drama di mana pun mereka berada.
- Sangat tidak percaya diri dan suka menganggap diri mereka kurang beruntung dibandingkan orang lain.

Foto: MART PRODUCTION/Pexels
5 Cara Menghadapi Pasangan yang Playing Victim
Jika ingin tahu caranya menghadapi pasangan si paling playing victim, coba beberapa tip ini. Tapi jangan pernah ragu meminta bantuan tenaga profesional ahli mental dan jiwa jika Mommies merasa tak sanggup dan kewalahan:
1. Hindari menuduh
Menuduh seseorang bersalah bukanlah cara cerdas untuk menyelesaikan masalah karena mereka biasanya akan bersikap defensif. Ini menjadi lebih rumit ketika seseorang memiliki mentalitas korban karena mereka akan menganggap tuduhan Mommies sebagai penghinaan.
Nah, jika pasangan memiliki mentalitas senang playing victim, hindari menuduhnya. Alih-alih menuduh, cobalah bersikap sabar dan jangan terpancing menjadi marah apalagi menuduhnya. Tanyakan apa yang ia rasaknh dan beri opsi tentang cara-cara menyelesaikan masalahnya.
2. Sediakan ruang untuk diri sendiri
Betapapun manisnya bersedia mendengarkan kisah lara pasangan, tetap sama pentingnya bagi Mommies memiliki waktu untuk diri sendiri. Saat menghabiskan waktu buat diri sendiri, pastikan ada batasan yang jelas untuk pasangan agar tidak mengganggu Mommies dulu.
Bahkan jika tidak memungkinkan untuk pergi keluar rumah agak jauh agar punya me time, Mommies dapat meluangkan waktu buat diri sendiri di sekitar lingkungan rumah.
Bisa juga berjalan-jalan sendirian, mendengarkan musik, atau ngobrol dengan sahabat melalui sambungan telepon untuk mendapatkan dukungan mental dan emosi dari orang lain. Jika kondisi mental Mommiies baik, akan lebih mudah untuk menghadapi dan membantu pasangan.
3. Hindari menjadi emosional
Orang yang senang playing victim sangat ahli mengeduk emosi orang lain bahkan mengembangkan kemampuan menangis palsu untuk menarik perhatian dan simpati.
Nah, Mommies harus belajar untuk tidak menjadi emosional saat mendengar ceritanya. Biasanya, dia akan cerita panjang kali lebar kali tinggi tentang bagaimana seseorang sangat menyakitinya. Membuat kesan seolah kesalahan kecil yang dilakukan orang lain kepadanya adalah dosa besar yang tak termaafkan. Tujuannya adalah agar Mommies mau memihak dia.
Jangan terpancing. Memihak adalah tindakan yang salah karena itu hanya akan memperkuat mentalitas korban dalam dirinya. Dia akan memandang keberpihakan Mommies sebagai dukungan untuk dirinya bisa terus playing victim.
Jadi, apa yang bisa Mommies lakukan? Dengarkan saja apa yang ia katakan sambil tetap bersikap santai. Setelah dia selesai ‘bicara’, beritahu dia bagaimana caranya mengatasi masalah yang tadi dia ceritakan.

Foto: RDNE Stock project/Pexels
4. Ganti topik pembicaraan
Salah satu keahlian penting dalam pergaulan adalah mengubah topik percakapan dengan cepat, sambil menjaga agar obrolan tidak terpotong dan muncul suasana canggung.
Keterampilan ini dibutuhkan salah satunya ketika harus ngobrol dengan pasangan yang senang playing victim, karena skill ini akan memungkinkan Mommies tetap punya pikiran positif saat mendengarkan keluh kesah dan rengekannya.
Salah satu cara untuk mengubah pokok bahasan dengan cepat adalah dengan mengajukan pertanyaan yang sedikit berhubungan dengan apa yang sedang dia bicarakan. Jika dia sedang mengeluh tentang rekan kerjanya, Mommies dapat bertanya seberapa penting peran si rekan kerja bagi perusahaan, yang mengarah ke percakapan yang lebih aman tentang posisi-posisi di tempat kerja.
Mommiesjuga bisa mengubah topik dengan membawa tema lain tanpa mengajukan pertanyaan. Agar tidak kelihatan sengaja mengalihkan topik, Mommies harus melakukannya dengan halus.
Jangan tiba-tiba berbicara tentang topik lain; alih-alih, tunjukkan reaksi terhadap pembicaraannya. Cara lain, beri pujian tentang bagaimana reaksinya saat menghadapi sebuah insiden. Fokuslah pada reaksi positifnya, bukan pada insidennya.
5. Jangan terus-menerus menjadi problem fixer
Memang nggak gampang mengabaikan pasangan yang sedang ‘tersakiti’ karena pasti ada dorongan bawaan untuk membantunya mengatasi rasa sakit.
Namun, sebaiknya berhenti menjadi problem solver setiap berurusan dengan pasangan yang ahli playing victim.
Seseorang dengan mentalitas seperti itu, sesungguhnya tidak peduli dengan solusi. Mereka hanya ingin mengeluh dan merajuk. Upaya apa pun yang Mommies lakukan untuk memperbaiki masalah akan diabaikan. Jadi, lebih baik hindari membuang-buang waktu dengan selalu menawarkan jalan keluar.
Alih-alih selalu jadi problem fixer, sesekali Mommies harus menilai situasinya. Coba cari tahu dan pahami, apakah mereka bercerita demi mendapatkan validasi dari mentalitasnya sebagai korban atau untuk mendapatkan solusi.
Kesimpulan Mommies akan membantu Mommies untuk tahu bagaima harus menyikapnya cerita pilunya. Memang agak nggak tega, ya, jika saat dia cerita kata-katanya hanya dibiarkan masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tanpa memberikan solusi. Namun jika tahu pasti kalau mereka tidak akan menghargai jalan keluar dari Mommies, pada akhirnya Mommies akan terbiasa.
BACA JUGA: 8 Cara Bertengkar Sehat dalam Pernikahan, biar Makin Sehat!
Cover: Freepik
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS