Sorry, we couldn't find any article matching ''

Perempuan dan Invisible Labor: Kerja Tak Terlihat yang Lelahnya Nyata
Invisible labor adalah kerja domestik tak terlihat yang banyak dilakukan perempuan. Lelahnya nyata, tapi sering tidak diakui.
Mommies, pernah nggak, sih, seharian capek banget, tapi pas ditanya “Tadi ngapain aja?” malah bingung jawabnya? Memasak, nyuci, siapin bekal anak, antar sekolah, temenin belajar, jaga yang sakit, urus jadwal dokter—semua mengalir begitu saja.
Nggak ada gaji, promosi, apalagi ucapan terima kasih. Nah, ini dia invisible labor atau kerja domestik tak terlihat yang sering kita lakukan sebagai Chief of Everything (CEO), content creator, event organizer, dan ibu sekaligus.
Di momen International Women’s Day, yuk, kita obrolin ini bukan buat ngeluh, tapi buat sadar: kerja “cuma rumah tangga” ini punya dampak ekonomi dan sosial yang besar. Mommies yang punya aktivitas lain, baik di sosial, bisnis, maupun profesional, pasti relate dengan beban ini yang bikin sulit bagi waktu.
BACA JUGA: Kenapa Banyak Perempuan Merasa “Kehilangan Diri” Setelah Menikah?
Apa Itu Unpaid Care Work?

Foto: Freepik
Invisible labor alias unpaid care work adalah semua pekerjaan perawatan tanpa bayaran: rawat bayi/balita, dampingin anak belajar, jaga lansia/sakit, masak, bersih rumah, sampai kerja emosional kayak inget jadwal dokter, rencanain menu mingguan, bikin itinerary liburan, atau jadi tempat curhat keluarga.
Belum lagi, kalau scope of work-nya mencakup keluarga besar sendiri, maupun keluarga pasangan. Kerja nyata, menyita waktu-energi, tapi karena nggak menghasilkan uang langsung, sering dianggap bukan “kerja beneran”.
Agency Paradox yang Kita Rasakan
Di atas kertas, pekerjaan ini tentunya tidak menghasilkan slip gaji sebagaimana mereka yang “terdaftar” sebagai pegawai di kantor, maupun sektor bisnis. Tapi ternyata ada angkanya, lho!
Menurut data riset, di Argentina, nilai unpaid care work setara dengan sekitar 7% dari PDB negara tersebut. Di Tanzania, angkanya bahkan jauh lebih tinggi: mencapai 63% PDB. Sementara di Swiss, jika seluruh kerja perawatan tak berbayar dihitung, nilainya nyaris menyamai industri perbankan dan asuransi yang menjadi tulang punggung ekonomi negara itu.
Tingginya beban unpaid work (pekerjaan domestik & pengawasan anak) jadi penghambat utama tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan Indonesia, meski pendidikan naik, ungkap riset kolaboratif Prospera/UI/Macalester-ILO-UN Women via workshop MicDash FEB UGM.
Pilot survey di Jabodetabek-Surabaya (902 responden, 451 rumah tangga) menyoroti timpangnya pembagian tugas dan rendahnya agency perempuan dalam keputusan kerja.
Agency dalam riset ini mengacu pada kondisi di mana perempuan Indonesia punya kuasa tinggi untuk mengatur waktu dan tugas domestik/pengasuhan di rumah—karena norma sosial membebani mereka sebagai pengurus utama—tapi justru rendah saat memutuskan ikut kerja berbayar atau mencari pendapatan.
Agency berarti kemampuan seseorang menentukan pilihan dan tindakan. Paradoks muncul karena perempuan merasa berotoritas mengatur rumah (misal, kapan masak/cuci), sesuai ekspektasi budaya, tapi sulit bernegosiasi dengan pasangan atau masyarakat untuk prioritas karier. Masih kuatnya norma yang membatasi ruang keluar rumah.
Secara global, data menunjukkan bahwa sekitar 75% dari seluruh pekerjaan perawatan tak berbayar dilakukan oleh perempuan dan anak perempuan. Ini bukan kebetulan, melainkan pola yang sudah mengakar dalam norma sosial di hampir seluruh budaya di dunia.
Fondasi yang Sering Tidak Terlihat
Bayangkan tanpa ada yang merawat anak-anak, siapa yang akan tumbuh menjadi pekerja, guru, dokter, dan pemimpin masa depan? Tanpa ada yang menjaga orang sakit di rumah, beban sistem kesehatan akan meledak.
Invisible labor pada dasarnya adalah fondasi tempat seluruh ekonomi formal, sekolah, rumah sakit, dan industri berdiri. Ironisnya, justru fondasi ini yang paling sering tidak diakui keberadaannya.
Harga yang Dibayar Perempuan

Foto: Freepik
Beban invisible labor yang tidak proporsional ini membawa konsekuensi nyata bagi perempuan. Banyak ibu yang terpaksa meninggalkan karier atau hanya bisa bekerja paruh waktu karena harus menjadi penanggung jawab utama urusan rumah tangga.
Akibatnya, penghasilan lebih rendah, akumulasi dana pensiun lebih kecil, dan akses terhadap jaminan sosial dari pekerjaan formal pun terbatas. Dengan kata lain, perempuan “membayar” dengan peluang ekonomi mereka sendiri untuk pekerjaan yang justru menopang masyarakat secara keseluruhan.
Perlu Dibagi, Bukan Ditanggung Sendiri
Redistribusi kerja perawatan adalah kunci. Ini bukan soal menyalahkan siapa pun, melainkan tentang menata ulang cara kita hidup bersama agar lebih adil.
Di level keluarga, mulailah percakapan terbuka dengan pasangan tentang pembagian tugas rumah tangga. Buat daftar semua pekerjaan tak terlihat—dari yang fisik sampai yang mental—dan bicarakan bagaimana membaginya secara lebih seimbang.
Libatkan anak-anak sesuai usia mereka agar mereka tumbuh dengan pemahaman bahwa pekerjaan rumah adalah tanggung jawab bersama, bukan “tugas ibu.”
Di level masyarakat dan kebijakan, kita perlu mendorong tersedianya layanan childcare dan perawatan lansia yang berkualitas dan terjangkau. Kebijakan cuti ayah yang memadai, jam kerja fleksibel, dan pengakuan formal terhadap nilai kerja perawatan juga sangat penting.
Ini bukan urusan privat yang cukup diselesaikan di dalam rumah, tetapi sebuah isu publik yang membutuhkan respons sistemik.
BACA JUGA: Pesan untuk Anak Perempuan dari Seorang Ibu: Jangan Lupakan 12 Hal Ini Saat Kamu Jadi Istri dan Ibu
Mommies, di International Women’s Day ini, mari kita rayakan bukan hanya pencapaian besar perempuan di ruang publik, tetapi juga kerja-kerja sunyi yang setiap hari dilakukan di dapur, di kamar tidur anak, di ruang keluarga.
Invisible labor itu nyata. Lelahnya nyata. Nilainya juga nyata.
Dan sudah saatnya kerja domestik tak terlihat ini dilihat, diakui, dan dibagi bersama.
Happy International Women’s Day! 💜
Cover: Freepik
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS