
Anak dapat komentar tidak enak? Ajarkan anak cara menjawab komentar dengan sopan tanpa kehilangan percaya diri. Simak tips dari psikolog di sini.
Melihat anak merasa sedih karena kata-kata orang lain, entah itu dari saudara sendiri atau teman yang baru dikenal lima menit lalu pasti rasanya menyayat hati. Naluri alami kita sebagai orang tua biasanya ingin langsung pasang badan dan berkata, “Sayang, itu nggak benar,” atau mungkin langsung menegur orang yang berkomentar jahat tersebut.
Namun, Mommies perlu menyadari satu hal penting: kita bukanlah manajer emosi anak. Respons cepat untuk “membereskan” perasaan anak mungkin menenangkan dalam jangka pendek, tapi jika dilakukan terus-menerus, anak tidak akan memiliki kemampuan untuk menghadapi komentar tidak enak secara mandiri. Sebaliknya, mengajarkan anak untuk membalas dengan kata-kata kasar juga bukan solusi.
BACA JUGA: 10 Pertanyaan Menyebalkan saat Lebaran yang Sering Muncul dan Cara Menjawabnya dengan Santai
“Perlu banget sih. Anak-anak kan sedang membentuk konsep diri dan harga diri mereka, sehingga komentar negatif, apalagi dari orang dekat (keluarga kan termasuk orang dekat ya), dapat memengaruhi cara mereka melihat diri sendiri. Orang tua berperan penting untuk membekali anak dengan keterampilan menghadapi komentar tersebut secara sehat. Tujuannya bukan agar anak menjadi “kebal kritik”, melainkan agar mereka mampu membedakan mana komentar yang konstruktif dan mana yang tidak relevan dengan nilai dirinya. Satu lagi, supaya anak tidak ‘anti’ terhadap keluarga besar, karena bagaimanapun keluarga besar adalah akar diri anak,” jawab Anna Surti Ariani, S.Psi., M.si., seorang Psikolog Klinis.
“Dengan latihan, anak belajar mengelola emosi, menjaga harga diri, dan tetap menghormati orang lain tanpa harus kehilangan suara mereka. Selain itu, kalau kita melatih anak untuk merespon dengan asertif, maka anak akan dapat mengembangkan resiliensi, keterampilan sosial, dan regulasi emosi. Keterampilan ini akan sangat dibutuhkan anak kelak dalam menghadapi dunianya,” imbuh Psikolog Nina lagi

Menurut Psikolog Nina, beberapa hal ini akan dialami anak jika mereka tidak dibekali cara merespon komentar tidak enak dengan benar:
Merespon komentar julid dan komenar-komentar sekadar kepo memang kadang perlu, tapi ada prinsip dan panduan yang harus ditekankan saat anak merespon. “Prinsipnya, berkomunikasi secara asertif, melakukan regulasi emosi, menghormati orang lain, memahami dan menghormati kebutuhan diri. Tentu saja ini tidak hanya dikatakan, tapi bisa dilatih antara lain dengan cara roleplay, orang tua melatih anak seakan-akan menghadapi kondisi semacam itu. Seperti bermain peran dalam sebuah drama,” saran Psikolog Nina.
Saat main drama di rumah untuk belajar (roleplay), ajari anak untuk:
Mengajarkan anak untuk menjawab komentar tidak enak bukan berarti mendorong mereka untuk melawan, melainkan membantu mereka menyampaikan perasaan dengan cara yang tepat. Dengan latihan yang konsisten, anak dapat belajar berbicara dengan sopan, tegas, dan tetap menghargai orang lain.

Psikolog Nina juga mengingatkan, “Orang tua perlu belajar untuk bersikap tenang ketika terjadi percakapan yang merendahkan di dalam acara keluarga, supaya anak juga bisa melihat contoh cara regulasi diri. Selain itu, ketenangan orang tua saat merespon bisa jadi dukungan emosional buat anak saat ia mendapatkan komentar negatif dari orang lain. Ingat ya, orang tua bisa membela anak, tapi secara asertif.”
Selain melatih anak, peran kita di balik layar juga sangat menentukan bagaimana anak memandang dirinya sendiri:
Jangan langsung menyuruh anak untuk “mengabaikan saja”. Lalu bantu mereka menganalisis komentar tersebut dengan metode Trash, Truth, Treasure:
Hindari kalimat seperti, “Makanya, kamu harusnya begini…” di depan orang yang baru saja mengkritiknya. Simpan masukan Daddies untuk obrolan privat di rumah.
Saat situasi tegang, berikan tatapan mata yang mendukung atau rangkul pundaknya. Ini memberi sinyal bahwa ia tidak sendirian.
Jaga rasio komentar positif 5-10 kali lipat lebih banyak daripada kritik di rumah. Ini membuat anak merasa aman secara emosional.
Saat Mommies berbeda pendapat (misal dengan pasangan), tunjukkan cara mendengarkan, menyatakan pandangan sendiri, lalu menyudahi topik tanpa drama.
Orang asing yang julid tidak tahu cerita kita, kepribadian anak kita, atau tantangan yang kita hadapi. Penilaian mereka lebih banyak mencerminkan diri mereka sendiri daripada keluarga kita.
Jika ada momen tidak enak yang terjadi, jangan biarkan berlalu begitu saja. Diskusikan dengan bahasa sederhana. “Tadi itu orangnya mungkin lagi capek jadi bicara sembarangan, tapi itu nggak mengubah betapa berharganya kamu bagi Papa dan Mama.”
Jika komentar sudah keterlaluan, Daddies bisa menengahi dengan kalimat netral seperti, “Kami sedang melatih si kecil untuk fokus pada hal positif, terima kasih masukannya,” lalu alihkan pembicaraan.
Kita tidak bisa mengontrol mulut orang lain, tapi kita bisa mengontrol respons kita. Memilih untuk tetap tenang dan bahagia bukanlah tindakan naif, melainkan menunjukkan bahwa kedamaian keluarga kita jauh lebih berharga daripada “menang” argumen.
Berdiri tegak dan melakukan kontak mata langsung menyampaikan pesan bahwa mereka percaya diri. Dan yang nggak kalah penting, ingatkan mereka bahwa pendapat satu orang tidak mendefinisikan harga diri mereka, dan mereka berhak untuk pergi jika pembicaraan sudah tidak sehat. Bantu anak memahami bahwa orang yang kasar sering kali sedang bergulat dengan rasa tidak aman atau masalah mereka sendiri.
BACA JUGA: Cyberbullying pada Anak: Dampak Mengerikan dan Cara Melawannya
Menghadapi komentar tidak enak memang bukan hal mudah, apalagi bagi anak yang masih belajar memahami emosi dan lingkungan sosialnya. Karena itu, penting bagi Mommies untuk terus mendampingi dan melatih anak agar berani menyampaikan pendapat dengan cara yang sopan.
Dengan begitu, anak tidak hanya belajar melindungi dirinya sendiri, tapi juga tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, empatik, dan tetap menghargai orang lain.
Cover: Freepik