
Kasus campak di Indonesia, terutama pada anak, kembali meningkat dan sudah menyentuh lebih dari 8 ribu kasus suspek pada awal 2026. Ini fakta yang harus Mommies ketahui!
Tubuh yang sehat selalu menjadi faktor utama untuk bisa melakukan kegiatan sehari-hari dengan lancar. Pada momen bulan Ramadan ini, ada satu penyakit menular yang kasusnya sedang naik, yaitu campak. Naiknya kasus campak bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan sudah sejak tahun 2025 silam.
Melansir laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kasus suspek campak tercatat sebanyak puluhan ribu pada tahun lalu. Berdasarkan data nasional, sepanjang 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi campak serta 69 kematian. Sementara hingga minggu ke-7 tahun 2026, terdapat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian.
Pada periode yang sama, juga terjadi 21 kejadian luar biasa (KLB) suspek campak dan 13 KLB campak terkonfirmasi yang tersebar di 17 kabupaten/kota di 11 provinsi.
Kasus campak juga dilaporkan meningkat di berbagai wilayah dunia, termasuk Asia Tenggara dan Pasifik Barat. Peningkatan kasus campak ini ternyata bukan hanya di negara kita saja, Mommies.
Peningkatan kasus ini menjadi perhatian semua orang. Pemerintah pun kerap melakukan penguatan pengawasan, respons cepat KLB, dan kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan kewaspadaan nasional.
BACA JUGA: Jangan Terlewat! Ini 10 Daftar Vaksin untuk Anak Balita Lengkap dengan Biayanya

Mommies mungkin bertanya-tanya kenapa kasus campak bisa naik lagi di Indonesia.
Nah, menurut detikHealth, penyebab meningkatnya kasus campak dipicu oleh menurunnya cakupan vaksinasi campak di berbagai negara. Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A., menyebutkan bahwa cakupan vaksinasi harus merata di seluruh RT/RW, kota, hingga provinsi supaya tidak terjadi kesenjangan perlindungan.
Campak merupakan salah satu penyakit yang sangat menular, terutama pada anak yang belum mendapatkan vaksin. Mengutip laman Kemenkes Makassar, virus campak bisa menular melalui percikan air liur (droplet) saat penderita berbicara, bersin, atau batuk.
Sebagai gambaran, jika ada 10 orang yang belum pernah mendapatkan vaksin campak dan terpapar virus dari penderita, sekitar 9 orang berpotensi tertular. Hal ini menunjukkan bahwa virus campak termasuk penyakit dengan tingkat penularan yang sangat tinggi.
Ada pepatah yang bilang, lebih baik mencegah daripada mengobati. Berangkat dari situ, orang tua bisa melakukan langkah-langkah pencegahan agar anak tidak terpapar virus campak. Berikut hal-hal yang bisa dilakukan:
Untuk mendapatkan imunisasi campak, anak bisa diberikan vaksinasi campak pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan ketika anak masuk SD. Vaksin MR bisa melindungi anak dari dua penyakit sekaligus, yaitu campak dan rubella.
ORI adalah imunisasi darurat yang berlangsung di daerah KLB untuk menghentikan penyebaran penyakit. Contohnya, ribuan dosis vaksin MR diberikan untuk anak usia 9 bulan–6 tahun di Sumenep pada 2025.
Jangan ditunda-tunda, anak sebaiknya segera melengkapi vaksinasi campak di puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.
Jika sudah melakukan vaksinasi, selanjutnya adalah menjaga daya tahan tubuh anak dengan pola hidup yang sehat, bisa dari asupan gizi yang seimbang, istirahat yang cukup, dan menjaga kebersihan lingkungan.
Komplikasi akibat campak bisa sangat mengerikan, Mommies. Ketua PP IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A., menjelaskan bahwa penularan campak jauh lebih tinggi daripada COVID-19 dan komplikasinya serius, antara lain bisa menyebabkan radang paru, radang otak, bahkan kebutaan.
Jadi, vaksinasi menjadi langkah penting untuk mencegah anak terkena penyakit campak. Vaksinasi dapat membentuk tubuh yang kebal terhadap virus campak.

Jika Mommies menyadari adanya gejala campak pada anak, ada beberapa langkah yang sebaiknya dilakukan, yaitu:
Saat anak sakit campak, ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan. Hal ini karena penyakit campak sangat menular sehingga beraktivitas atau berinteraksi harus dibatasi.
Melansir laman Kemenkes, berikut hal-hal yang perlu diperhatikan:
BACA JUGA: Gratis, Ini 14 Vaksin Penting untuk Imunisasi Anak di Posyandu
Ditulis oleh: Retno Raminne Nurhaliza Pitoyo
Cover: prostooleh/Freepik