banner-detik
PARENTING & KIDS

Cara Menjelaskan Arti Lebaran pada Anak Sesuai Usianya

author

Mommies Dailyin 5 hours

Cara Menjelaskan Arti Lebaran pada Anak Sesuai Usianya

Mommies bisa menggunakan cara ini untuk menjelaskan arti Lebaran pada anak, supaya ia bisa memaknai Lebaran dengan tepat, sesuai usianya.

Sama halnya dengan kita, anak biasanya juga ikut merasakan kebahagiaan saat menyambut Lebaran. Namun, di balik kebahagiaan anak, apakah yang sebetulnya ia pahami tentang Lebaran? Apakah anak sudah mengerti makna kembali suci? Secara harfiah, mungkin belum, ya. Namun, kita sebagai orang tua idealnya selalu mendiskusikan hal ini dengan anak. Hanya saja, perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan mereka. Pendekatannya tentu akan berbeda, antara balita, anak usia sekolah, dan remaja. Berikut panduan yang bisa Mommies ikuti, berdasarkan prinsip perkembangan anak oleh psikolog Jean Piaget, serta melalui nilai-nilai yang disampaikan ulama Quraish Shihab.

Usia 2-4 tahun (balita)

Cara berpikir balita itu konkret, mereka butuh sesuatu yang nyata, dekat dengan kebiasaan sehari-hari, sesuatu yang sederhana. Mereka juga biasanya akan cenderung belajar langsung lewat pengalaman. 

  • Bila si kecil sudah mulai belajar puasa, bahkan setengah hari, kita bisa menjelaskan bahwa, “Lebaran itu adalah hari bahagia karena kita sudah menyelesaikan puasa.”
  • Mengenai makna memaafkan, kita bisa bilang, “Kita saling minta maaf, agar hati kita rasanya lega, nggak ada perasaaan marah-marah dan sedih-sedih lagi. Seperti saat Adik lagi kesal sama Ibu, setelahnya kita pelukan, saling minta maaf, supaya Adik dan Ibu, sama-sama bisa tersenyum lagi.”
  • Di Lebaran, kita juga belajar tentang berbagi, bahwa dengan berbagi itu, semua orang akan sama-sama senang dan bahagia. Mommies bisa sampaikan pada anak, “Dengan Adik berbagi makanan, teman-teman Adik pasti bakalan senang. Adik juga bisa terima yang dikasih sama Eyang, Adik happy, kan?” 

Baca juga: 10 Pelajaran Penting yang Didapat Anak saat Puasa Ramadan, Bukan Sekadar Menahan Lapar

Usia 6-9 tahun

Anak biasanya sudah mulai paham yang namanya sebab-akibat, meski kadang memerlukan penjelasan konkret, bahkan sejelas mungkin, karena bila mereka masih penasaran akan artinya, pertanyaan mereka pun tidak akan berhenti. 

  • Selama bulan Ramadan, anak mulai bisa diajarkan tentang puasa. Bukan sekadar tidak makan dan minum, tapi di balik itu kita bisa mengajak anak untuk belajar sabar dan menahan diri. 
  • Saat Lebaran datang, Mommies bisa menjelaskan bahwa anak berhak merayakan kemenangannya karena selama ini sudah berusaha menjalani puasa. Perayaan kemenangan ini bisa berupa tradisi keluarga, dari sholat Ied, berkumpul dengan keluarga, makan ketupat, dan sebagainya.
  • Anak juga sudah bisa diajarkan makna meminta maaf dan memaafkan. Biasanya, ketika anak usia sekolah mendengar kalimat, “Mama minta maaf ya, karena sering marah-marah sama kamu” yang keluar langsung dari mulut kita, mereka tidak akan segan untuk memeluk dan juga mengatakan hal yang sama. Anak usia sekolah sudah lebih mampu dan fasih dalam mengekspresikan perasaannya. Jangan heran di momen ini pun mereka juga akan merasa haru dan menangis. Sambil berpelukan, Mommies bisa memberikan kalimat yang lebih mendalam, seperti, “Kita belajar lagi untuk jadi lebih baik dari sebelumnya, ya, sayang!”

Dari usia 7 tahun, anak sudah bisa diajak untuk lebih mengenai nilai moral dan agama, dengan cara berdiskusi tentang hal ini:

  1. “Menurut kamu, kenapa kita harus saling memaafkan?” (jelaskan arti “Fitri, yakni kembali ke kesucian, dengan cara saling memaafkan) 
  2. “Kenapa kita memberi zakat fitrah?” (supaya semua orang bisa merayakan Lebaran)
  3. “Apa yang kamu pelajari selama puasa?” (Ini membantu anak untuk lebih memahami nilai, bukan sekadar mengikuti tradisi)

Usia remaja

Biasanya remaja tentu sudah lebih reflektif. Tentu, dari pelajaran yang mereka dapatkan dari rumah, maupun dari lingkungan (sekolah, pengajian, bahkan pesantren), mereka kini sudah bisa diajak berdiskusi lebih dalam. Mommies bisa menerapkan pertanyaan-pertanyaan ini sebagai bahan refleksi keluarga.

  1. Apa makna pengendalian diri buatmu?
  2. Apakah setelah Ramadan ada perubahan dalam dirimu?
  3. Bagaimana menjaga nilai Ramadan sepanjang tahun? Setelah puasa selesai, Lebaran, lalu apa yang tetap akan kamu coba jalani?

Sambil mendenger respon anak, orang tua bisa memberikan penjelasan tambahan, bahwa Idul Fitri adalah momen refleksi diri, kita kembali mengenal diri kita, ada saatnya kita harus bisa menahan diri. Terutama, ketika kita sedang menghadapi ujian, seperti saat berpuasa, kita mencoba tetap aktif menjalani kegiatan sambil menahan lapar, haus, nafsu, bahkan amarah. Ketika kita berhasil melewatinya, bukan hanya kita yang merasakan manfaatnnya, tetapi orang lain juga. Momen Idul Fitri berarti kita kembali suci dan relasi kita dengan sesama juga “dimulai” lagi, kita lupakan amarah, kesal, dan kesedihan kita di masa lalu, dan memulainya lagi dengan hati yang bersih.

Sebagai tambahan refleksi, menurut ulama Quraish Shihab:

  • Kembali ke Kesucian (Fitrah): Idul Fitri bukan sekadar kemenangan material, melainkan momen kembali suci. Fitrah berarti kesucian, di mana manusia kembali bersih seperti bayi yang baru lahir.
  • Kembali Beragama secara Benar: Fitrah merujuk pada asal kejadian dan agama yang benar (fitratallah). Lebaran adalah momentum untuk mengamalkan ajaran agama dengan benar.
  • Kombinasi Baik, Benar, dan Indah: Seseorang yang kembali ke fitrah akan memandang segalanya dengan positif. Ia selalu berbuat yang benar, baik, dan indah, serta tidak mendendam.
  • Pemaafan Lahir dan Batin: Esensi Lebaran adalah berlapang dada, tidak mencari kesalahan orang lain, dan bermaaf-maafan untuk melepaskan beban dosa.

Selamat menyambut Idul Fitri!

Image by Freepik

Share Article

author

Mommies Daily

-


COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan