
Ada yang berencana umroh mandiri? Berikut ini tips menjalankan umroh mandiri dari Kiki Wulanjari, yang sudah dua kali melakukannya bersama keluarga.
Terbitnya UU No. 14 Tahun 2025 pasal 86 yang melegalkan jemaah beribadah umroh tanpa melalui PPIU (travel umroh), tentunya membawa angin segar karena memberikan fleksibilitas biaya dan waktu. Meski pelakunya wajib memenuhi syarat legal (visa umroh/bukan turis, tiket PP, layanan terdaftar di sistem).
Namun begitu, buat sebagian orang, umroh mandiri masih terdengar menantang, ada juga yang bilang sedikit menakutkan. Ketakutan itu dimulai dari mengurus visa sendiri, memesan hotel tanpa bantuan travel, menyusun jadwal ibadah tanpa pembimbing, hingga mungkin takut ada kejadian apa-apa di sana nanti. Maklum di negara orang.
Semuanya terasa seperti daftar panjang yang melelahkan sebelum perjalanan dimulai. Tapi bagi Kiki Wulanjari, seorang ibu dengan satu putri yang sudah remaja ini, keputusan untuk berangkat umroh mandiri justru menjadi pengalaman yang memperkaya, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga secara pribadi. Dan bukan sekali, terpantau ia sudah melakukannya dua kali.
Berbekal pengalaman tersebut, Kiki membagikan tips buat kita, yang tidak hanya praktis, tetapi juga sangat detail dan membumi. Buat Mommies yang sedang mempertimbangkan umroh mandiri, kisah dan panduannya bisa menjadi bekal berharga, lho, sekaligus inspirasi bahwa dengan persiapan yang matang, perjalanan spiritual ini bisa dijalani dengan tenang dan penuh makna.

Pertama-tama, yang wajib diketahui, bahwa penyedia jasa administrasi umroh mandiri, punya beragam services sesuai dengan kebutuhan customers. Ada yang hanya sebatas penyedia Visa Umroh, Siskopatuh (Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umrah dan Haji Khusus; fungsinya untuk pendataan jamaah Umroh Indonesia dalam platform digital pemerintah), dan sewa mobil saja. Ada juga yang sampai menyediakan hotel, vaksin wajib, dan muthawif (pembimbing Umroh).
Untuk syarat wajib yang perlu dipenuhi calon jamaah Umroh sendiri adalah memiliki paspor yang masa berlakunya minimal enam bulan setelah tanggal pelaksanaan Umroh serta sudah vaksin wajib (meningitis-polio).
Kemudian saya menentukan nominal batas expense ke penyedia jasa Umroh Mandiri dan request dicarikan direct flight, hotel terdekat dari lokasi masjid, sewa mobil, muthawif yang pernah kami gunakan di umroh mandiri sebelumnya, dan tentu saja untuk pembuatan Visa Umroh-Siskopatuh.
Intinya penyedia jasa adalah sebuah solusi yang bisa membantu dalam memaksimalkan kebutuhan Umroh Mandiri yang sering kali memiliki perbedaan dari segi durasi hari, biaya, dan efisiensi waktu.
Baca juga: Mudahnya Membeli Oleh-Oleh Haji & Umroh
K: Jujur menantang banget, nih, ketika saya harus menelaah penyedia jasa terbaik sesuai kebutuhan. Saya harus yakin apakah mereka bisa menjamin dari kenyamanan koordinasi, keterbukaan informasi, dan tentunya biaya yang paling masuk akal.
Tantangan berikutnya memastikan semua berjalan lancar untuk penerbitan Visa Umroh-Siskopatuh, hotel booking number, flight issued tickets di maksimal H-7 hari keberangkatan, serta nomor kontak driver-muthawif sudah diterima maksimal H-1 sebelumnya.
Kita juga harus proaktif dalam berkoordinasi dengan penyedia jasa agar bisa saling mengingatkan sekaligus melaporkan kondisi di lapangan saat kita berkomunikasi dengan driver-muthawif, check-in di hotel Mekkah-Madinah.

K: Selain dokumen resmi tentunya, yang juga penting sebenarnya di penentuan tanggal berangkat Umroh. Soalnya kita perlu cermat memilih tanggal cantik keberangkatan, yang sudah memperhitungkan kelengkapan perlengkapan Umroh, kapan waktu vaksin serta lama proses penerbitan Visa Umroh-Siskopatuh dan dokumen lainnya. Pertimbangan tanggal berangkat Umroh, biasanya dilihat dari lama waktu proses sebagai berikut:
K: Nah, kalau versi itinerary saya, sih, simpel aja. Nggak perlu sampai kayak travel Umroh, kok. Tapi yang perlu diingat, budget Umroh Mandiri berpengaruh dari itinerary. Jadi masukan dari saya, buat dulu estimasi biaya yang includes transport, akomodasi, makan, dan biaya lain-lain macam laundry (kalau mau), beli oleh-oleh, sampai paket internet, misalnya.
Itinerary Summary: Mekkah-Madinah

Itinerary Summary: Madinah-Mekkah

Kalau versi saya, nih:
Sekali lagi, Itinerary setiap orang itu beda-beda, ya. Semua bergantung dari kenyamanan masing-masing, misalnya mau kejar ibadah di hari Kamis malam dan Sholat Jumat di pelataran Kabah; pasti jadi lebih memilih tujuan awal perjalanan ke Mekkah dahulu. Kalau mau chill sambil fisik menyesuaikan dengan jetlag dan suhu udara, pilih Madinah untuk tujuan awal Umroh Mandiri.
K: Awalnya, saya kita pikir Umroh Mandiri bisa significantly lebih murah dibanding Umroh pakai travel agent, tapi setelah 2 kali menjalani Umroh Mandiri, biayanya sedikit lebih murah saja. Jadi bukan lebih hemat atau sebaliknya, melainkan money well-spent. Begitu saya menyebutnya. Karena, yang kita keluarkan adalah sesuai dengan kegiatan utama di lokasi terdekat yang kita inginkan.
Contohnya begini, dengan mengeluarkan biaya paket Rp 30 juta dengan travel agent misalnya, biasanya kita akan menginap di hotel bukan di Makkah Clock Tower, tapi di hotel yang harus berjalan kaki lumayan jauh atau pakai shuttle bus menuju Masjidil Haram. Tapi kalo Umroh Mandiri, dengan pengeluaran yang sama, kita bisa memilih hotel di Makkah Clock Tower yang notabene berjarak terdekat dari Masjidil Haram.
Baca juga: Resep Takjil yang Lebih Sehat Dari Gorengan

K: Ada, dong. Saya jabarkan, ya:
Yang jelas, Nusuk adalah satu-satunya aplikasi resmi Arab Saudi yang diakui dan diwajibkan untuk jamaah Umroh dan Haji. Karena data kita dimasukkan dan dianggap sebagai jamaah resmi untuk melaksanakan ibadah. Jadi walaupun visa Umroh kita diterbitkan oleh penyedia jasa, nomor visa kita akan dimasukkan ke aplikasi Nusuk oleh si penyedia jasa.
At the end, mau kita memilih Umroh bersama travel agent atau Umroh Mandiri, akan dikembalikan ke kenyamanan kita sebagai jamaah saja. Jika kita adalah individu yang maunya ‘tau beres’, pilihnya Umroh bersama travel agent. Karena semua hal printilan akan diurus dan kita butuh apapun, tinggal kontak panitia saja. Kalau kita adalah individu yang pengen lebih leluasa mengatur waktu ibadah, leisure, dan istirahat; and especially is the type of person yang lebih senang hands on koordinasi langsung di lapangan, termasuk gak keberatan mendorong dan angkat koper sendiri… karena sesuai kata ‘mandiri’, jadi semuanya perlu kemandirian jamaah dalam menjalani keseluruhan proses kegiatan.