banner-detik
EDUCATION

6 Tips Mengajarkan Anak Mengelola Sampah Sejak Dini, dan Rekomendasi Bank Sampah

author

Katharina Mengein 5 hours

6 Tips Mengajarkan Anak Mengelola Sampah Sejak Dini, dan Rekomendasi Bank Sampah

Mengajarkan anak peduli lingkungan sejak dini lewat kebiasaan mengelola sampah di rumah. Ini dia tips praktis dan rekomendasi bank sampah di Indonesia.

Tepat tanggal 21 Februari nanti akan diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional, nih, Mommies. Biasanya momen ini lewat begitu saja, dengan timeline media sosial yang dipenuhi data soal gunungan sampah, foto sungai penuh plastik, atau kampanye zero waste. Kita memang membaca, kita turut prihatin, tetapi setelah itu kita melanjutkan rutinitas seperti biasa.

Padahal kalau dipikir-pikir, perubahan besar soal sampah itu sebenarnya dimulai dari rumah, lho. Mulai dari kebiasaan kecil sehari-hari, dan dari anak-anak kita.

Kenapa Anak Perlu Belajar Mengelola Sampah Sejak Dini?

Menurut data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK, Indonesia menghasilkan puluhan juta ton sampah setiap tahun, dan sebagian besarnya berasal dari rumah tangga. Artinya, sampah dari dapur kita punya dampak besar. Bahkan, masih ada jutaan ton sampah yang belum terkelola optimal setiap tahunnya. Ringkasan komposisinya juga menunjukkan bahwa sampah rumah tangga mendominasi timbulan sampah nasional.

Jadi, kebiasaan kecil di rumah sebenarnya punya peran besar, termasuk saat Mommies dan Daddies mulai mengajarkan anak mengelola sampah dengan lebih sadar.

Mengajarkan anak mengelola sampah bukan sekadar soal kebersihan. Ini soal membentuk karakter diri mereka yang bertanggung jawab, berempati terhadap lingkungan, dan punya kesadaran bahwa setiap tindakan kecil yang mereka lakukan punya dampak jangka panjang terhadap lingkungan.

BACA JUGA: Cara Gratis Buang Sampah Besar di Jakarta, Pakai Layanan Bulky Waste

6 Tips Mengajarkan Anak Mengelola Sampah di Rumah

Foto: Freepik

Nah, ini dia cara yang bisa Mommies terapkan untuk mengajarkan anak mengelola sampah di rumah. Kebiasaan kecil ini nantinya bisa terus hidup dalam diri anak dan terbawa hingga dewasa.

1. Kenalkan Jenis Sampah dengan Cara Menyenangkan

Kalau hanya mengenalkan sampah pada anak mungkin bisa mereka anggap bukan hal yang menarik atau biasa saja. Namun, Mommies bisa mengenalkan mereka pada sampah dengan cara yang menyenangkan.

Kalian bisa mulai dari tiga kategori sederhana, yaitu:

  1. Sampah organik (sisa makanan, daun)
  2. Sampah anorganik (plastik, kaleng, botol)
  3. Sampah B3 (baterai, lampu, obat)

Mommies bisa menggunakan tempat sampah berbeda warna untuk masing-masing jenis sampah, dan mengajarkan anak membuang sesuai dengan jenisnya. Anak usia 3–4 tahun sudah bisa belajar memilah lewat warna dan bentuk, sehingga sudah bisa mulai diajarkan sejak dini.

Supaya lebih menarik, Mommies bisa menjadikannya permainan kecil dengan bertanya pada anak, “Sampah ini masuk yang mana, ya?” Biasanya anak jadi lebih antusias untuk membuang sampah.

2. Libatkan Anak saat Membereskan Rumah

Kalau weekend jadi momen Mommies untuk bersih-bersih, maka sebaiknya mulai sekarang jangan dikerjakan sendiri. Mommies bisa minta anak untuk membantu mengumpulkan botol plastik atau kardus bekas yang ada di rumah. Jelaskan pada anak ke mana sampah itu akan pergi, dan biasanya mereka akan penasaran lalu bertanya, “Habis ini sampahnya jadi apa?”

Dari pertanyaan itu Mommies bisa masuk dan menjelaskan konsep daur ulang. Semakin konkret penjelasannya, semakin mudah mereka memahami. Namun, tetap ingat untuk menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak atau sesuai usia mereka, ya.

3. Ajarkan 3R Lewat Contoh Nyata

Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jadi, penting banget untuk Mommies memberikan contoh nyata kebiasaan mengelola sampah agar anak-anak melihat dan mengikutinya. Kalian bisa mulai dengan mengajarkan 3R, yaitu Reduce, Reuse, dan Recycle.

Contoh sederhana yang bisa Mommies langsung praktikkan adalah:

  • Bawa tumbler saat bepergian
  • Gunakan tas belanja kain
  • Simpan wadah kaca untuk penyimpanan
  • Ubah kardus bekas jadi bahan prakarya atau tempat menyimpan bareng

Kalau orangtuanya konsisten melakukan pengelolaan sampah dengan benar, maka anak akan menganggap itu sebagai kebiasaan normal yang sudah sewajarnya mereka lakukan, bukan “aturan ribet”.

4. Buat Proyek Kompos Mini di Rumah

Kalau memungkinkan, seperti ada waktu dan tenaga untuk melakukannya, Mommies bisa mencoba buat komposter sederhana dari ember bekas. Mommies bisa mengajak anak mengumpulkan sisa sayur dan kulit buah lalu memasukkannya ke dalam satu ember bekas.

Setelah itu Mommies bisa menunjukkan proses perubahannya dari waktu ke waktu. Saat kompos sudah jadi dan dipakai untuk menyuburkan tanaman, maka anak akan melihat langsung bahwa “sampah” mereka bisa berubah jadi sesuatu yang bermanfaat.

5. Kenalkan Anak ke Bank Sampah

Ini dia bagian yang sering terlupakan, yaitu memperkenalkan anak pada bank sampah. Mungkin banyak juga dari Mommies yang belum tahu bahwa bank sampah bukan cuma tempat untuk menyetor sampah kita, melainkan juga sebagai sarana edukasi. Dengan mengajak anak ke bank sampah, Mommies bisa membawa anak melihat langsung bahwa sampah, termasuk yang ada di rumahnya, punya nilai ekonomi, dan bahkan bisa ditabung.

Beberapa bank sampah di daerah Jabodetabek yang bisa jadi referensi:

  • Bank Sampah PKBM Negeri 04 di Jalan Pademangan VI No. 79 015/010, Pademangan Timur, Pademangan, Jakarta Utara
  • Bank Sampah Induk Jakarta Pusat di Komplek Perkantoran Rawa Kerbau Rawasari Selatan 16/02, Cempaka Putih Timur, Cempaka Putih, Jakarta Pusat
  • Bank Sampah Kasih di Jl. H. Mardan RW 03, Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur
  • Bank Sampah Unit Bango Berseri di Jalan Pinang IV RT 10/09, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan
  • Bank Sampah Jeruk Manis di Jl. H. Tohir No. 28 02/03, Kebon Jeruk, Jakarta Barat
  • Bank Sampah Induk BASIBA Bogor di Paledang No. 34, Bogor Tengah, Bogor
  • Bank Sampah Induk Rumah Harum di Merdeka 1 005/01, Abadi Jaya, Sukmajaya, Depok
  • Bank Sampah Alaska Bermis di Bermis RT 4 RW 4, Cisauk, Tangerang
  • Bank Sampah Al Mukhlisin di Kampung Ujung Harapan RW 5, Bahagia, Babelan, Bekasi
  • Bank Sampah Sabira Bersih Gembira di Penangkaran Penyu RW 3, Pulau Harapan, Kepulauan Seribu Utara

Biasanya juga ada bank sampah unit di tingkat RW atau kelurahan. Coba cek ke pengurus lingkungan atau media sosial wilayah tempat Mommies tinggal. Untuk lihat lokasi lebih detail, Mommies bisa mengunjungi website resmi Bank Sampah Jakarta.

Selain itu, ada juga beberapa layanan pengiriman dan pengelolaan sampah di Indonesia yang bergerak untuk menjaga lingkungan. Beberapa rekomendasi ini bisa juga Mommies dan keluarga gunakan.

  • Morego Green Indonesia, melalui kolaborasi dengan Pemprov DKI Jakarta di Collection Center Ciracas dan Pusat Daur Ulang Plastik (PDUP) Bambu Larangan, fasilitas ini mendukung daur ulang sampah
  • Bank Sampah Kumala, Mommies bisa kirim sampah yang sudah dipilah (kertas, plastik, logam, kaca) ke Bank Sampah Induk (BSI) Kumala di Jakarta Utara
  • Waste4Change (Send Your Waste), Mommies dan keluarga bisa mengirim sampah non-organik yang sudah terpilah melalui ekspedisi. Mommies harus membuat transaksi di website w4c.id/SYW, mengemas sampah, dan mengirimkannya ke drop point.
  • Plastic Smart Cities adalah proyek WWF Indonesia yang memanfaatkan mitra bank sampah atau aplikasi daur ulang dan bank sampah yang bekerja sama.
  • PaxelRecycle, ini adalah layanan penjemputan sampah anorganik (botol plastik, kardus, dll.) dari rumah menggunakan aplikasi Paxel. Sampah akan dijemput oleh kurir dan dikelola oleh mitra.
  • DLH DKI Jakarta (Bulky Waste), Layanan gratis dari Dinas Lingkungan Hidup untuk mengangkut sampah besar seperti kasur, sofa, atau lemari. Mommies wajib mendaftar via website, kemudian sampah akan dijemput oleh petugas.
  • Aplikasi Bank Sampah/Daur Ulang, seperti E-Recycle, Duitin, Octopus, dan Rapel, yang menyediakan layanan penjemputan sampah plastik atau barang bekas yang dapat didaur ulang

Aktivitas menyetor sampah bisa dijadikan agenda bulanan keluarga Mommies, nih. Anak akan melihat prosesnya, bukan cuma teori, dan itu akan jadi momen belajar yang powerful.

6. Diskusikan Dampaknya dengan Bahasa Sederhana

Cara mengajarkan anak mengelola sampah yang terakhir adalah dengan mengajak anak berdiskusi. Untuk anak usia sekolah sudah bisa diajak ngobrol ringan mengenai beberapa hal berikut:

  • Kenapa laut penuh plastik?
  • Kenapa banjir bisa terjadi karena sampah?
  • Kenapa hewan bisa sakit karena limbah?

Gunakan bahasa sederhana tanpa menakut-nakuti mereka dan fokus pada solusi serta peran kecil yang bisa anak lakukan.

Tidak Harus Sempurna, yang Penting Konsisten

Foto: Freepik

Mommies tidak harus langsung jadi keluarga yang zero waste, kok. Kadang ada yang masih beli makanan berbungkus plastik. Kadang ada yang lupa bawa tas belanja kain. Itu semua manusiawi, lho.

Yang terpenting, anak bisa melihat bahwa orangtuanya berusaha untuk menjaga lingkungan, peduli akan sampah., dan fakta bahwa memilah sampah itu adalah sebuah kebiasaan. Bahwa peduli lingkungan bukan hanya tren sesaat setiap 21 Februari.

Karena saat anak tumbuh dengan kesadaran ini, mereka bukan cuma jadi anak yang disiplin. Mereka akan jadi generasi yang lebih bertanggung jawab. Dan mungkin, perubahan besar memang dimulai dari tempat sampah di dapur rumah kita sendiri.

Jadi, Mommies sudah siap mengajarkan anak mengelola sampah sejak dini?

BACA JUGA: 8 Ide Mainan DIY Ramah Lingkungan dan Edukatif yang Disukai Anak, Kreatif Kelola Sampah

Cover: Freepik

Share Article

author

Katharina Menge

-


COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan