banner-detik
PARENTING & KIDS

Puasa Saat Hamil, Aman atau Tidak? Ini Kata Dokter dan 10 Syarat Pentingnya

Puasa Saat Hamil, Aman atau Tidak? Ini Kata Dokter dan 10 Syarat Pentingnya

Ibu hamil ingin tetap puasa di bulan Ramadan? Ketahui syarat penting dan penjelasan dokter agar kesehatan ibu dan janin tetap terjaga.

Setiap Ramadan datang, rasanya campur aduk buat ibu hamil. Di satu sisi ingin ikut berpuasa seperti keluarga lain, di sisi lain muncul pertanyaan besar: aman nggak sih?

Dalam Islam sendiri, ada keringanan untuk ibu hamil dan menyusui. Jika khawatir puasa bisa membahayakan diri sendiri atau janin, ibu hamil diperbolehkan tidak berpuasa dan bisa menggantinya di lain waktu atau membayar fidyah.

Artinya, keputusan ini memang bersifat personal dan sangat bergantung pada kondisi masing-masing.
Tapi tetap saja, banyak bumil yang ingin tahu panduan medisnya. Jadi sebenarnya, bolehkah ibu hamil puasa? Apa saja syarat yang harus diperhatikan?

BACA JUGA: 20 Hotel dan Restoran dengan Paket Buka Puasa Ramadan 2026, Harga Mulai Rp60 Ribu

Apakah Berpuasa Selama Masa Kehamilan Aman?

Foto: Freepik

Pertanyaan ini memang belum punya jawaban hitam-putih, Mommies. Penelitian tentang keamanan puasa saat hamil masih terus berkembang, dan hasilnya belum sepenuhnya konsisten.

Dr Daisy Koh, Obstetrician dari American Hospital Dubai, menjelaskan, “Dampak puasa pada ibu hamil sangat bergantung pada usia kehamilan, trimester, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan.”

Dr. Koh juga menambahkan dengan cukup tegas, “Belum bisa dipastikan apakah puasa Ramadan sepenuhnya aman untuk ibu maupun bayi. Bukti ilmiahnya masih saling bertentangan.”

Beberapa penelitian menunjukkan bayi dari ibu yang berpuasa sedikit lebih kecil dibandingkan bayi dari ibu yang tidak berpuasa. Namun penelitian lain tidak menemukan perbedaan signifikan. Karena itu, para ahli sepakat masih dibutuhkan studi yang lebih komprehensif untuk melihat dampak puasa terhadap kesehatan ibu dan janin secara menyeluruh.

Secara pribadi, Dr Koh mengatakan, “Saya tidak menyarankan ibu hamil untuk berpuasa karena kita belum benar-benar mengetahui dampak jangka panjangnya.”

Pernyataan ini tentu bukan untuk menakut-nakuti, tapi lebih pada pendekatan kehati-hatian. Apalagi jika bumil memiliki kondisi medis seperti anemia, gangguan tiroid, atau diabetes gestasional. Dalam kasus seperti ini, risiko dehidrasi dan perubahan gula darah bisa lebih signifikan.

Selama kehamilan, kebutuhan cairan dan nutrisi meningkat. Jika asupan berkurang dalam waktu lama, risiko dehidrasi dan kelelahan bisa lebih tinggi, terutama saat Ramadan jatuh di musim panas dengan durasi puasa yang panjang.

Di sisi lain, ada ibu hamil yang terbiasa berpuasa dan merasa secara fisik cukup kuat. Jika Mommies merasa ingin tetap berpuasa, sangat penting untuk berkonsultasi dulu dengan dokter kandungan agar bisa mendapat panduan yang sesuai kondisi pribadi.

Jika Ibu Hamil Ingin Berpuasa, Penuhi 10 Syarat Ini

Nah, kalau Mommies mempertimbangkan kondisi tubuh dan tetap ingin berpuasa, ada beberapa syarat dan panduan penting yang harus diperhatikan.

1. Konsultasi ke dokter atau bidan terlebih dahulu

Kehamilan adalah fase yang menuntut kebutuhan nutrisi dan cairan lebih tinggi. Sebelum ibu hamil memutuskan puasa, penting untuk berkonsultasi dengan dokter atau bidan. Ini adalah syarat utama yang harus diperhatikan agar kondisi ibu dan janin tetap aman selama berpuasa.

2. Pertimbangkan puasa tidak penuh

Bumil tidak harus memaksakan puasa satu bulan penuh. Jika kondisi tubuh terasa berat, pertimbangkan berpuasa selang-seling atau hanya di hari tertentu agar lebih terkontrol dan sesuai panduan medis.

3. Waspadai tanda-tanda dehidrasi sejak awal

Saat ibu hamil puasa, rasa haus berlebihan atau urine berwarna gelap bisa menjadi tanda awal dehidrasi. Gejala lain yang harus diperhatikan adalah pusing, sakit kepala, mulut kering, lemas, atau frekuensi buang air kecil yang sangat jarang.

Dr. Mary Jane Minkin, MD, Profesor Klinis Obstetri, Ginekologi dan Ilmu Reproduksi di Fakultas Kedokteran Yale, menjelaskan pentingnya memperhatikan kondisi tubuh selama kehamilan, termasuk risiko dehidrasi, “Kehamilan membuat volume darah meningkat dan tubuh bekerja lebih keras. Jika ibu hamil mengalami dehidrasi, hal itu bisa memicu kontraksi atau membuat tubuh terasa sangat lemah. Karena itu, hidrasi yang cukup sangat penting, dan keputusan untuk berpuasa sebaiknya didiskusikan terlebih dahulu dengan dokter.”

Dr Koh juga mengingatkan, “Perhatikan tanda-tanda dehidrasi dan pastikan Anda benar-benar cukup minum saat tidak berpuasa.” Karena pada akhirnya, prioritas utama tetap kesehatan ibu dan si kecil di dalam kandungan.

4. Segera batalkan puasa jika tubuh melemah

Jika bumil merasa pusing, hampir pingsan, sangat lemah, atau kebingungan meski sudah beristirahat, segera batalkan puasa. Minum minuman manis untuk mengganti gula darah, tambahkan camilan asin atau cairan rehidrasi, lalu hubungi dokter.

5. Pilih makanan padat nutrisi saat sahur dan berbuka

Fokus pada makanan tinggi zat besi dan kalsium seperti daging tanpa lemak, telur, kacang-kacangan, serta sayuran hijau. Hindari makanan terlalu manis, gorengan, atau terlalu asin karena bisa memicu lonjakan gula darah dan mempercepat dehidrasi saat puasa. British Nutrition Foundation menyoroti pentingnya kecukupan nutrisi selama Ramadan. Dalam panduannya disebutkan bahwa selama kehamilan, kebutuhan energi dan beberapa zat gizi meningkat. Jika memilih berpuasa, penting untuk memastikan asupan makanan saat sahur dan berbuka tetap seimbang dan bergizi agar kebutuhan ibu dan janin tetap terpenuhi.

Foto: Freepik

6. Atur strategi hidrasi dengan cermat

Untuk mengurangi risiko dehidrasi saat ibu hamil berpuasa, usahakan tetap berada di tempat sejuk dan hindari aktivitas berlebihan. Penuhi kebutuhan cairan secara bertahap saat berbuka dan sahur. Ingat, bumil bisa membutuhkan tambahan satu hingga dua gelas cairan per hari. Konsumsi buah, sayur berkuah, sup, atau bubur juga membantu menjaga hidrasi. Academy of Nutrition and Dietetics menekankan bahwa hidrasi adalah kunci utama selama kehamilan. Kekurangan cairan dapat meningkatkan risiko kontraksi dini dan kelelahan.

7. Pastikan istirahat cukup

Energi ibu hamil cenderung lebih cepat turun saat puasa. Karena itu, perbanyak waktu istirahat dan kurangi aktivitas fisik yang tidak mendesak agar kondisi tetap stabil.

8. Lebih hati-hati di trimester ketiga

Memasuki tiga bulan terakhir, kebutuhan kalori meningkat sekitar 200 kalori tambahan per hari. Jika tetap berpuasa, ibu hamil perlu memastikan asupan saat sahur dan berbuka benar-benar mencukupi kebutuhan energi tersebut.

9. Kenali sinyal tubuh dengan baik

Selain haus dan urine gelap, tanda seperti sakit kepala terus-menerus, lemah ekstrem, atau penurunan gerak janin adalah kondisi yang tidak boleh diabaikan. Ini termasuk syarat penting yang harus diperhatikan selama puasa. Dr. Shazia Saleem, Konsultan Obstetri dan Ginekologi di Inggris, juga menekankan pentingnya kehati-hatian bagi ibu hamil yang ingin berpuasa. “Dalam Islam, ibu hamil diperbolehkan untuk tidak berpuasa jika khawatir terhadap kesehatannya atau kesehatan bayinya. Jika Mommies merasa tidak sehat saat berpuasa, jangan ragu untuk membatalkannya dan segera hubungi bidan atau dokter.”

10. Tetap konsumsi suplemen dan diet seimbang

Meskipun berpuasa, ibu hamil tetap harus mengonsumsi suplemen seperti asam folat dan vitamin D sesuai anjuran dokter. Pilih makanan yang melepaskan energi perlahan seperti roti gandum, oatmeal, kacang-kacangan, dan biji-bijian agar bumil tetap bertenaga lebih lama.

Jadi, bolehkah ibu hamil puasa? Jawabannya: bisa, dengan syarat kondisi kesehatan mendukung dan sudah berkonsultasi dengan dokter.

Islam memberikan keringanan. Dunia medis memberikan panduan kehati-hatian. Di antara keduanya, keputusan tetap ada di tangan Mommies. Yang terpenting, jangan memaksakan diri. Karena menjaga kesehatan ibu hamil dan janin bukan hanya soal fisik, tapi juga bagian dari ibadah itu sendiri.

BACA JUGA: Menu Lengkap Puasa 30 Hari: Sahur, Buka Puasa, hingga Takjil

Cover: Freepik

Share Article

author

Fannya Gita Alamanda

-


COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan