
Mau melatih anak puasa tanpa drama? Simak, yuk, cara pendekatan bertahap ke anak yang realistis dan bisa Mommies dan Daddies praktikkan!
Tidak terasa, sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadan, ya, Mommies dan Daddies. Jadi ingat saat saya mulai melatih anak puasa, sejak umurnya 5 tahun waktu itu. Awalnya, karena masih sulit bangun dini hari, saat dia sarapan sekitar pukul 7.00, kami sekeluarga menyebutnya “sahur”. Dilanjutkan dengan “berbuka” pada jam 11.00, meningkat ke ikut sahur bareng dan puasa setengah hari. Kemudian berbuka untuk makan siang pada jam 13.00. Kadang-kadang dilanjutkan puasa sampai Magrib kalau mood-nya lagi bagus.
Sampai tahun lalu, di usia 8 tahun dia sudah mulai puasa penuh hampir sebulan. Relatif tanpa drama dan cuma “bolong” saat latihan gimnastik yang cukup berat dan kehausan.
Walaupun banyak yang memakai hadiah sebagai iming-iming agar lebih mudah meminta anak puasa, kalau saya lebih memilih pakai proses. Pendekatan bertahap dan apresiasi tulus agar terasa lebih ringan untuk anak dan efeknya juga lebih lama. Saya gak mau dia hanya tertarik pada hadiah yang saat gak tersedia, motivasinya pun ikut hilang.
BACA JUGA: Puasa Tetap Produktif, Ini 13 Tips Mengatur Waktu Tidur untuk Ibu Bekerja
Memang, sih, jadi lebih putar otak, cari aktivitas menyenangkan, berempati sama perasaannya yang kadang ngantuk, haus, atau lapar yang bikin gemas. Tapi sebenarnya sangat manusiawi buat anak-anak seusianya. Saya juga ngerasain hal sama soalnya, bedanya udah lebih bisa kelola emosi aja.
Ekspektasi pun perlu disesuaikan, lebih merelakan kalau prosesnya bisa beda untuk setiap anak. Misalnya, saat anak tetangga sudah puasa penuh, anak kita masih struggle dan perlu latihan lebih.
Berdasarkan pengalaman pribadi, ada beberapa cara yang saya gunakan untuk melatih anak berpuasa tanpa drama.
Cara pertama, rutinlah berdiskusi dan mengobrol dengan anak. Alih-alih hanya menyuruh atau memberi aturan, bantu anak memahami makna puasa, misalnya sebagai wujud rasa syukur kita dan melatih empati pada orang lain yang kesusahan.
Hindari menyebarkan ketakutan dan ancaman, misalnya “Kalau gak puasa, nanti gak masuk surga” atau “Mama gak kasih hadiah kalau adek gak puasa”. Selain efeknya kurang baik untuk mental anak, hasilnya pun cuma instan karena anak gak paham makna yang sesungguhnya.

Ini penting banget untuk melatih anak puasa tanpa drama. Karena, kita saja sebagai orang dewasa butuh latihan perlahan-lahan dan gak langsung bisa kalau melakukan sesuatu yang baru, apalagi anak-anak yang belum terbiasa dan dengan skill regulasi diri yang juga masih terbatas.
Misalnya, saat anak usia TK, melatih anak untuk berpuasa dimulai dari puasa setengah hari dan dilanjutkan dengan puasa penuh sampai waktu berbuka saat anak sudah SD. Beri waktu dan jangan terburu-buru, ya, Mommies dan Daddies . Misalnya mengenalkan satu proses selama beberapa hari atau sampai anak lebih nyaman dan percaya diri, sebelum lanjut ke tahap berikutnya.
Cara lain, mulai kenalkan suasana Ramadan melalui kegiatan seru yang bisa dinikmati anak juga. Misalnya, berburu takjil di pasar kaget,enu berbuka dan me atau menyusun masak makanan sederhana sama-sama.
Pengalaman pribadi saya mulai tahun lalu adalah anak yang semangat mengajak sahur di luar rumah dan salat tarawih di beberapa mesjid berbeda di akhir pekan. Setelah salat bareng, bisa kulineran di tempat-tempat baru yang belum pernah kita coba sebelumnya.
Aktivitas yang menyenangkan gak cuma buat anak, tapi juga buat orang tua! Suasana puasa jadi penuh kehangatan dan anak punya memori positif yang dirindukan dan dinanti.
Berikan pujian tulus dan pelukan hangat saat kita melatih anak puasa. Walaupun terkesan sederhana, tapi belum tentu mudah untuk anak, dan semua usaha anak patut diapresiasi. Saat dia belum berhasil melewati tahapan baru, tetap besarkan hatinya dan ingatkan kalau dia bisa mencoba lagi keesokan hari. Jika ingin memberikan rewards, bisa berbentuk makanan favoritnya untuk dinikmati bersama saat berbuka, daripada berbentuk hadiah mahal minim makna.

Cara melatih anak selanjutnya: hindari memaksa anak. Melatih anak puasa juga butuh kesabaran dan ketenangan dari orang tua, yang akan menularkan ketenangan yang sama ke anak. Tidak perlu menekan anak apalagi jika fisiknya sedang tidak sehat atau sedang menjalankan kegiatan berat, karena malah bisa menimbulkan pandangan negatif terhadap ibadah.
Rasa lapar, haus, ngantuk dan lelah dapat membuat anak lebih rewel. Kalau perlu, sesuaikan kegiatan di bulan Ramadan agar tidak terlalu padat dan masih memungkinkan dijalani anak selama dia berlatih puasa. Ajak anak bermain dan beraktivitas ringan, misalnya baca buku bersama atau main board game, untuk membantu menenangkan dan menjaga suasana hati lebih stabil.
Terima dan dengarkan perasaan atau rengekannya juga ya Mommies, walaupun kadang-kadang bikin kuping panas tapi pendekatan bertahap ini penting untuk anak yang lagi beradaptasi dengan hal baru.
Anak belajar melalui observasi dan peniruan. Jangan lupa tunjukkan sikap positif, welas asih, empati dan kegembiraan saat menjalankan puasa, agar anak punya contoh positif yang bisa diikutinya.
BACA JUGA: Hemat Waktu, Ini 26 Rekomendasi Frozen Food dan Catering Bulan Puasa
Kalau Mommies punya cara apa, nih, dalam melatih anak puasa tanpa drama? Share dan comment, yuk!
Cover: Tima Miroshnichenko/Pexels