
Ternyata perasaan juga punya ‘musim dingin’. Yuk, cari tahu apa itu emotional winter, cara mencegah, dan tips mengembalikan kehangatan pernikahan.
Mommies, pernah nggak suatu hari menyadari bahwa pasangan saya kok sekarang beda ya? Dulu super perhatian, sekarang kalau diajak ngobrol cuma jawab “hmm” sambil tetep asyik scroll TikTok, yang dulu excited nggosipin hal receh, sekarang bahkan udah lupa Mommies cerita apa semalam. Mendadak bersikap dingin. Rasanya kayak bangun tidur dan tiba-tiba orang yang satu ranjang sama Mommies berubah jadi sekadar teman sekamar, bukan teman hidup. Fase ini ada namanya lho.
BACA JUGA: Man Child dalam Pernikahan, Ketika secara Emosional Suami Belum Dewasa
Emotional winter adalah kondisi ketika salah satu pasangan atau keduanya masuk fase dingin secara emosional. Bukan marah, bukan benci, tapi seperti tombol “hangat dan terhubung” mati tiba-tiba. Dia ada secara fisik tapi hatinya entah di mana. Nggak ada lagi pelukan random, nggak ada obrolan seru, bahkan bercanda soal betapa bucinnya dia dulu nggak mempan menghangatkan suasana.
Fase ketika salah satu atau keduanya mulai menunjukkan sikap dingin, tidak adanya kehangatan, atau terasa jauh secara emosional meskipun secara fisik ada di satu ruangan yang sama.
And guess what? Fenomena ini sebenarnya cukup umum terjadi dalam sebuah hubungan jangka panjang. Dr. John Gottman, Peneliti Pernikahan dari the Gottman Institute menyatakan, “Ketika salah satu atau kedua-duanya menarik diri secara emosional, itu adalah salah satu prediktor terbesar berakhirnya sebuah hubungan. Bukan konflik dan pertengkaran yang membahayakan sebuah hubungan, tapi sikap dingin, apatis, dan menjauh.” Ketika pasangan berhenti memperhatikan satu sama lain, maka hubungan bisa selesai.

Ada banyak pemicunya, tapi paling sering adalah karena salah satu atau keduanya kehabisan energi emosional.
Stres kerja, tekanan finansial, ritme hidup yang super cepat, pola komunikasi yang mulai “asal jalan”, sampai rutinitas yang bikin hubungan terasa autopilot semuanya bisa bikin pasangan tanpa sadar mulai dingin. Di titik ini, bukan cinta yang hilang tapi energinya.
Clinical Psychologist dan pendiri Emotionally Focused Therapy, Dr. Sue Johnson, menjelaskan fenomena ini dengan sangat tepat, “Banyak pasangan yang terlihat ‘dingin’ sebenarnya bukan karena berhenti mencintai, tapi menarik diri karena merasa nggak aman membuka diri secara emosional. Dingin bukan selalu nggak cinta. Kadang itu tanda ‘aku capek, aku takut, aku nggak didengar’.”
Beberapa faktor umum bisa bikin hubungan meluncur pelan ke emotional winter.
Pekerjaan yang padat, urusan keuangan, tanggung jawab keluarga, semua bisa bikin stres. Saat beban hidup makin besar, partner bisa saja mundur secara emosional karena merasa kewalahan.
Kalau obrolan harian berubah jadi sekadar “Apa kabar?”, “Udah makan?”, tanpa ada lagi curhat atau sharing perasaan, itu tanda bahaya. Kurang komunikasi membuat kebutuhan emosional tidak terpenuhi, dan ikatan terasa menipis.
Pernikahan yang sudah berjalan lama kadang masuk area nyaman tapi juga bisa bikin kita lupa memperhatikan “nada” dalam hubungan. Ketika hari-hari terasa monoton, pasangan bisa mulai lupa menghidupkan romantisme atau spontanitas.
Terkadang emotional winter bukan cuma soal hubungan sekarang, tetapi bekas luka masa lalu: luka emosional, rasa insecure, ketakutan terhadap komitmen. Jika tidak diselesaikan, hal-hal ini bisa menjauhkan seseorang tanpa sadar.
Bagaimana cara kita tahu kalau pasangan masuk “fase dingin”? Perhatikan beberapa tanda ini:
Kalau Mommies merasakan beberapa dari tanda itu, bisa jadi ini bukan fase biasa, melainkan “warning sign” dari munculnya emotional winter.
Fase dingin dapat menimbulkan beban emosional yang signifikan bagi kedua pasangan. Perasaan sedih, frustrasi, dan kesepian seringkali mendominasi fase ini, yang dapat menyebabkan siklus yang merugikan jika tidak ditangani.
Kurangnya minat terhadap masa depan bersama dan hilangnya semangat merencanakan hal bersama, seperti liburan, proyek rumah, atau hal-hal kecil seperti quality time bersama.
Obrolan sering seputar logistik atau pekerjaan, bukan berbagi perasaan atau rencana bersama.
Jika tidak ditangani, emotional winter dapat menyebabkan kerusakan permanen dalam hubungan. Perasaan kesal dan kecewa yang dipendam membuat salah satu atau keduanya menyerah dan ingin berpisah, sehingga penting untuk mengenali dan mengatasi tanda-tandanya sejak dini.

“Cinta adalah kata kerja. Itu artinya cinta membutuhkan tindakan, niat, dan investasi berkelanjutan bukan sekadar panas dan membara di awal-awal hubungan,” terang Esther Perel seorang terapis pasangan dan pakar hubungan.
Ya, emotional winter harus dan bisa diatasi. Dengan kesadaran dan usaha bersama, kehangatan di masa-masa awal pernikahan bisa dibawa kembali!
Berikut tips yang bisa kalian lakukan:
Mulailah dialog terbuka tentang perasaan masing-masing untuk menjembatani jarak emosional. Lakukan precakapan dengan empati agar kedua pihak merasa didengarkan. Pastikan suasana nyaman, bebas dari gangguan (HP, pekerjaan, anak).
Sentuhan kecil seperti pelukan, ciuman, atau saling genggam tangan bisa sangat bermakna. Riset menunjukkan bahwa sentuhan bisa menyampaikan cinta dan keintiman meskipun tanpa kata. Penelitian Dr. Kory Floyd menunjukkan bahwa affectionate touch menurunkan hormon stres dan meningkatkan rasa aman secara emosional bahkan lebih kuat dari afirmasi verbal. Jadi satu pelukan yang tulus bisa lebih powerful daripada 50 kalimat romantis.
Kalau emotional winter terasa sudah berat, misalnya salah satu pasangan terus menarik diri, atau sudah muncul rasa sakit hati mendalam tak ada salahnya cari bantuan profesional. Pasangan bisa dibantu membangun kembali komunikasi yang sehat, mengurai trauma, dan memperkuat fondasi emosional.
Kalau hubungan sudah terlanjur dingin, ini cara memulai pemulihan:
Rutinitas memang nyaman tapi juga bisa membosankan. Yuk, sesekali kencan berbeda, masak bareng, ajak pasangan jalan santai tanpa gadget, atau temukan hobi bersama. Hal baru bisa menghidupkan kembali rasa excitement.
Kalau pekerjaan atau tekanan luar mulai makan energi emosional, penting untuk saling memahami bahwa “ini bukan salah pasangan”. Buat kesepakatan stres kerja tidak dibawa pulang ke rumah, atau atur waktu istirahat bersama supaya tidak kelelahan.
Tanyakan 3 hal ini:
Bukan aktivitas besar, tapi konsisten: ucapan selamat tidur, pelukan sebelum kerja, belaian di pipi, atau bahkan humor internal yang cuma kalian berdua yang ngerti.
BACA JUGA: Kenali Emotional Affair, Selingkuh Emosional yang Bisa Hancurkan Pernikahan
Cover: Freepik