banner-detik
PARENTING & KIDS

7 Alasan Anak Tidak Dekat dengan Ayah, Bisa Alami Fatherless hingga Daddy Issue

author

Dhevita Wulandari19 Aug 2025

7 Alasan Anak Tidak Dekat dengan Ayah, Bisa Alami Fatherless hingga Daddy Issue

Kedekatan ayah dan anak berperan besar dalam tumbuh kembang emosional. Yuk, pahami penyebab anak tidak dekat dengan ayah serta cara mempereratnya dari psikolog.

Kedekatan orang tua, terutama ayah, berperan penting untuk tumbuh kembang anak secara emosional. Namun, Indonesia yang masih kental budaya patriarki masih sering menganggap peran ayah sebatas pencari nafkah, sementara urusan anak diserahkan ke ibu. Alhasil, banyak anak tumbuh tanpa kehangatan sosok ayah alias fatherless hingga ada yang mengalami daddy issue.

Mengutip laman Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), fatherless bukan hanya ketiadaan ayah secara fisik, melainkan absennya peran ayah dalam kehidupan anak meski sebenarnya hadir di rumah. Padahal, tanggung jawab dalam pengasuhan sejatinya bukan hanya berada di pundak ibu. Ayah pun memiliki peran yang sama pentingnya, dengan gaya dan pendekatan yang khas dalam membimbing serta membentuk karakter anak.

Psikolog Pendidikan dari Rumah Dandelion, Binky Paramitha, M.Psi., Psikolog., menegaskan bahwa keterlibatan ayah sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan kesejahteraan anak, bahkan hingga mereka dewasa.

Bagi seorang anak, kebersamaan dengan ayah, baik melalui bermain, perhatian, kasih sayang, maupun dukungan, merupakan kebutuhan penting yang akan membekas sepanjang hidupnya.

BACA JUGA: Anak Perempuan Tidak Memiliki Sosok Ayah? Ini Dampak Psikologisnya!

Penyebab Anak Tidak Dekat dengan Ayah

Foto: Freepik

Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) yang dikutip dari Katadata, alasan ayah absen dari hidup anak disebabkan oleh beberapa hal, seperti

  • Ayah harus bekerja jauh dari rumah.
  • Orang tua tidak lagi bersama karena bercerai.
  • Ayah sudah tiada.

Berdasarkan data BPS yang diolah Kementerian PPPA pada 2018, hanya 2,51% anak di Indonesia yang hidup bersama ayah kandung, sedangkan 8,34% bersama ibu kandung. Angka ini sering dijadikan rujukan untuk menggambarkan fenomena fatherless di Indonesia, yang disebut-sebut sebagai salah satu negara dengan tingkat ketidakhadiran ayah cukup tinggi di dunia.

Psikolog Binky menambahkan, ada beberapa faktor yang membuat ayah kurang terlibat dalam pengasuhan anak, antara lain:

  • Kurangnya pemahaman orang tua (ayah maupun ibu) tentang pentingnya peran ayah secara fisik dan emosional dalam keseharian anak.
  • Kesibukan ayah yang membuat waktu dan energi untuk anak menjadi terbatas.
  • Anggapan bahwa mengurus anak adalah tugas ibu, sehingga ayah tidak merasa perlu atau tidak diberi ruang untuk terlibat.
  • Pola asuh masa lalu, di mana ayah juga tidak dekat dengan orang tuanya, sehingga tidak tahu bagaimana membangun kedekatan dengan anak.

Dampak Anak Tidak Dekat dengan Ayah

Kurangnya hubungan dekat dengan ayah dapat memengaruhi perkembangan anak, dimulai dari aspek emosional yang kemudian berdampak pada kehidupan sosial dan perilakunya.

  • Dampak emosional: anak merasa diabaikan, kehilangan rasa aman, dan kesulitan mengendalikan emosi.
  • Dampak sosial: anak mengalami hambatan dalam berteman, sulit menjalin hubungan, hingga melakukan tindakan negatif untuk mencari perhatian, khususnya dari ayah.
  • Dampak perilaku: anak lebih sulit diatur, cenderung melanggar aturan, mengalami penurunan prestasi akademik maupun non-akademik.
  • Dampak serius: berisiko terjerumus dalam perilaku berbahaya seperti kekerasan atau penyalahgunaan narkoba.

Bagaimana Hubungan Ayah dan Anak Bisa Memicu Daddy Issues

Ketidakhadiran sosok ayah, baik secara fisik maupun emosional, bisa memicu yang disebut daddy issues. Namun, menurut Verywell Mind, hubungan yang terlalu dekat dengan ayah juga bisa menimbulkan hal yang sama. Jadi, daddy issues bisa muncul baik ketika hubungan ayah dan anak kurang dekat maupun justru terlalu dekat.

Daddy issues bukanlah istilah medis resmi, melainkan istilah populer untuk menggambarkan masalah psikologis atau emosional yang muncul karena hubungan anak dengan ayahnya. Ciri-cirinya tampak pada seseorang yang lebih suka berhubungan romantis dengan pasangan yang lebih tua, terlalu cemburu atau protektif, selalu membutuhkan kepastian, punya ketakutan akan ditinggalkan, dan terperangkap dalam pola hubungan yang toxic.

Tak hanya itu, keinginan meniru atau menyenangkan ayah bisa jadi tanda daddy issues apabila berlebihan. Misalnya hal itu muncul dari rasa takut, kebutuhan validasi, atau hubungan yang tidak sehat. Bisa juga karena anak terlalu dibebani peran dewasa sehingga mereka tumbuh dengan kebutuhan perhatian dan validasi dari figur ayah atau laki-laki dewasa lainnya.

Cara Mempererat Hubungan Ayah dan Anak

Foto: Freepik

Meskipun angka fatherless di Indonesia cukup tinggi, Psikolog Binky menyarankan beberapa cara yang bisa dilakukan ayah untuk membangun kedekatan dengan anak, yaitu:

  • Bermain bersama.
  • Makan bareng.
  • Membacakan dongeng sebelum tidur.
  • Meluangkan waktu khusus hanya berdua dengan anak.

Psikolog Binky juga menekankan pentingnya hadir secara mindful, yaitu benar-benar fokus pada anak tanpa terdistraksi gadget atau pekerjaan lain. Baik jumlah maupun kualitas waktu bersama sama-sama penting untuk anak. Terutama pada usia balita, kesempatan untuk mempererat ikatan ini masih sangat besar, loh, Daddies.

Untuk anak yang lebih besar seperti remaja, ayah bisa mulai dengan memahami minat anak lalu menjadikannya bahan obrolan atau aktivitas bersama. Meski biasanya, remaja dan segala dunianya, proses menjadi dekat ini membutuhkan banyak sabar dan waktu.

Jangan lupa tunjukkan kasih sayang lewat berbagai cara, seperti ungkapan langsung dengan kata-kata, memberi hadiah atau makanan favorit, menemani nonton film, hingga membantu anak saat kesulitan belajar.

Memang, di awal anak bisa merasa canggung dengan perubahan sikap ayah. Namun, jika anak merasakan ketulusan, hubungan ayah dan anak perlahan akan terbangun lebih sehat dan hangat.

Tak ada kata terlambat untuk jadi ayah yang lebih dekat dan hangat. Yang terpenting, ayah mau mencoba dan terus belajar memahami kebutuhan anak.

BACA JUGA: 8 Hal yang Harus Diajarkan Ayah untuk Membentuk Karakter Anak Sejak Dini

Diperbarui: Retno Raminne Nurhaliza Pitoyo

Cover: Freepik

Share Article

author

Dhevita Wulandari

-


COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan