banner-detik
PARENTING & KIDS

10 Cara Jitu agar Anak Mau Mendengarkan dan Melakukan Perkataan Orang Tua

author

Fannya Gita Alamanda26 Oct 2023

10 Cara Jitu agar Anak Mau Mendengarkan dan Melakukan Perkataan Orang Tua

Menghadapi anak yang pura-pura nggak mau mendengarkan perkataan kita memang luar biasa menjengkelkan. Tapi yakin cara kita menyampaikan sudah benar?

Mommies sering mengalami hal ini? Anda bicara dengan manis dan sejelas mungkin agar anak melakukan perintah tapi dia sama sekali tidak bergerak. Tak ada reaksi. Diam. Senyap. Jengkel, kan?

Ketika ini terjadi, Mommies kemudian berpikir, “Oooo, mungkin mereka nggak denger.” Jadi, Anda bertanya lagi dengan intonasi lebih tegas, volume suara sedikit naik, tetapi masih manis. Eh, tetap tidak ada reaksi.

Nah, stok kesabaran mulai menipis tapi Mommies tetap coba lagi. Hasilnya sama dan tanpa Mommies sadari, akibat persediaan kesabaran yang terakhir telah menguap lenyap, teriakan bernada frustrasi dan putus asa pun terdengar menerjang gendang telinga seisi penghuni rumah.

BACA JUGA: 13 Cara Membuat Anak Remaja Mau Bicara Terbuka, Yuk Terapkan!

Anak Tak Mendengarkan, Salah Satu Sumber Frustrasi Para Orang Tua

Mommies nggak sendirian. Mayoritas orang tua akan sepakat bahwa anak-anak yang “tidak mendengarkan” adalah penyebab frustrasi yang paling umum.

Namun marah dan berteriak demi mengatasi sikap anak yang nggak responsif bukan jalan keluarnya. Mommies perlu cari tahu MENGAPA anak TIDAK mendengarkan. Seringkali, kurangnya respon merupakan GEJALA, bukan masalah sebenarnya.

Jika Mommies abaikan, kasus sederhana “tidak mendengarkan” ini bakal berkembang menjadi masalah perilaku yang lebih berat kelak seperti tantrum dan pembangkangan.

Mengapa Anak Tidak Mendengarkan Orang Tua?

Ini pertanyaan bagus! Namun sebelum kita melangkah lebih jauh, pastikan Mommies sudah menyingkirkan potensi kondisi medis apa pun yang dapat memengaruhi pendengaran atau pemahaman anak. Jika Mommies yakin telinga anak berfungsi baik dan normal, mari kita lanjut.

Sejatinya, anak-anak dari segala usia, balita hingga remaja, memiliki kebutuhan akan kekuasaan. Ketika mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mengerahkan kekuatan dengan cara yang positif, seperti memilih pakaian yang akan dikenakan, menentukan apa yang ingin ia makan, memilih permainan, dan lainnya, mereka akan menunjukkan kekuatan dengan cara yang negatif. Salah satu caranya adalah ketika mereka menggunakan tubuh dan bahasa mereka untuk menentang orang dewasa termasuk orang tua mereka.

Dengan memilih untuk TIDAK mendengarkan, anak-anak seolah menegaskan kekuasaan mereka. Perilaku ini hanyalah cara anak-anak untuk mengekspresikan kebutuhan mereka akan lebih banyak kendali dan otoritas untuk mengambil keputusan sendiri.

Pada usia tertentu kelak, anak tentu boleh mengambil keputusan sendiri, tetapi untuk level usia tertentu, keputusan masih bahkan wajib diambil oleh orang tua. Namun, dengan menerapkan beberapa teknik mengasuh anak secara positif berikut ini, Mommies dapat memberi anak kekuasaan hingga taraf tertentu dan dalam batasan Anda. Hasilnya, semua senang.

Cara agar Anak Mau Mendengarkan Orang Tua

Ini cara jitu agar anak mau mendengarkan dan melakukan perkataan orang tua!

1. Sejajarkan posisi tubuh

Jika ingin anak memberikan perhatian, pastikan Anda mendapatkannya. Itu berarti kontak mata. Jangan mulai berbicara sampai Anda mendapatkan perhatian penuh dari anak. Tinggalkan apa pun yang sedang Anda kerjakan, rendahkan posisi badan hingga mata Anda sejajar dengan matanya. Trik ini memverifikasi bahwa dia melihat dan mendengar Anda. Jarak dekat adalah kuncinya. Jika posisi Anda berdua dekat, Anda tidak perlu berteriak.

2. Gunakan bahasa yang positif

Kalimat negatif seperti: jangan pegang adikmu; jangan lari-lari di dalam rumah; makanan jangan dibuat mainan. Perintah negatif, seperti “jangan” dan “tidak” membuat anak harus melakukan proses ganda, yaitu:

  1. Mama tadi ngelarang aku melakukan apa, sih?
  2. Mama tadi nyuruh aku ngapain, ya?

Itu malah membuat anak bingung. Misalnya, jika Anda melarang anak untuk TIDAK menyentuh adiknya yang sedang tidur, anak akan menghentikan tindakannya saat itu dan memilih tindakan alternatif lain yang sesuai menurutnya. Kalau saya nggak boleh megang adik, apakah itu berarti saya tetep boleh meluk adik? Atau kalau saya ajak main tetap boleh kan?

Sebaliknya dari melarang, katakan yang Anda ingin ia lakukan.

  • Alih-alih bilang, “Jangan pegang-pegang adikmu,” coba katakan “Adik sedang tidur, ngajak mainnya nanti saja, ya”.
  • Alih-alih bilang “Mainanmu jangan ditinggal berserakan di lantai, dong”, coba bilang “Tolong masukin mainanmu ke dalam kotak mainan.”
  • Alih-alih bilang “Jangan lari-larian di dalam rumah,” coba bilang “Sayang, kalau di dalam rumah, jalan aja.”

3. Menawarkan pilihan

Anak-anak juga bisa sebal, lho, kalau selalu diberi tahu apa yang harus mereka lakukan. Jadi sesekali beri kesempatan untuk memilih sehingga mereka akan merasa bahwa mereka juga bisa mengendalikan situasi.

4. Dengarkan

Anak yang tumbuh di dalam keluarga yang menjalankan dan menerapkan komunikasi dua arah akan belajar mendengarkan orang lain. Tunjukkan respek kepada anak-anak ketika Anda mendengarkan curhat dan pendapat mereka. Jika anak tahu dirinya dihargai, ia juga akan lebih mudah untuk menghargai orang lain.

5. Gunakan lebih sedikit kata-kata

Orang tua, dan terutama para ibu, cenderung mengubah nasihat berdurasi lima detik menjadi pidato berdurasi lima menit! Coba camkan prinsip sales dan marketing ini, Mommies: never sell with blah-blah-blah what you can sell with blah. Saat Mommies ingin anak paham perkataan Mommies, sampaikan sesingkat dan sejelas mungkin sampai-sampai mereka bahkan nggak sempat untuk mengabaikan Anda! Sampaikan saran, nasihat, perintah, dan teguran dalam kalimat-kalimat pendek dan sederhana.

6. Pentingnya kerja sama

Anak-anak perlu melihat pentingnya mengikuti arahan orang tua. Misalnya: setelah selesai mengerjakan PR, kamu boleh bermain dengan bonekamu.

7. Pastikan anak paham

Bicaralah dengan anak pada tingkat yang dia mengerti. Cara sederhana untuk memastikan anak mendengarkan Anda dan paham benar adalah dengan memintanya mengulangi apa yang Anda katakan.

Setelah melakukan kontak mata, mempersingkat kalimat Anda, dan menjelaskan dengan baik apa yang Anda ingin anak Anda lakukan, dengan sabar minta ia mengulangi apa yang baru saja ia dengar. Jika kedua belah pihak memiliki pemahaman yang sama, maka kecil kemungkinan terjadi salah paham.

8. Lakukan obeservasi

Jika melihat ada tugas atau perintah Anda belum dikerjakan dan diselesaikan, jangan buru-buru ngamuk, Mommies. Mommies bisa tegur dengan bilang, “Nak, Mama lihat jaketmu, kok, di lantai,” atau Anda bisa bertanya, “Kapan rencananya kamu mau buang sampah?

Strategi ini dilakukan untuk menghindari pertengkaran, mengancam, dan adu kuat.

9. Buat rutinitas

Penting bagi orang tua menetapkan serangkaian rutinitas untuk anak-anak. Mereka akan terdorong melakukan tugas-tugas atau kegiatan apa pun itu dengan inisiatif sendiri tanpa harus tunggu Anda omelin.

10. Tunjukkan apresiasi

Mommies bisa, lho, mengungkapkan terima kasih bahkan sebelum anak melakukan perintah dari Anda. Misalnya dengan bilang, “Terima kasih kamu mau cuci piring dan gelas kotor setelah selesai makan nanti” apresiasi ini akan lebih mendorong anak berperilaku positif. Tapi kalau kalimatnya diganti menjadi “Jangan sampai Mama lihat piring dan gelas kotor di bak cuci selesai kamu makan nanti”, Mommies OTW membesarkan calon pemberontak.

Orang-orang, dan bahkan anak-anak, biasanya akan dengan senang hati melakukan apa yang kita minta, jika kzalimatnya positif. Ini cara memberi tahu mereka bahwa kita percaya mereka akan melakukan hal yang benar dan bertanggung jawab.

BACA JUGA: 15 Kalimat dari Orang Tua yang Perlu Didengar Anak Sebelum Tidur, Bisa Memperkuat Bonding!

Cover: Freepik

Share Article

author

Fannya Gita Alamanda

-


COMMENTS