
Ingin anak remaja bahagia dan nyaman bercerita? Kenali 11 hal yang mereka harapkan dari orang tua, mulai dari kepercayaan hingga dukungan.
Sebenarnya, apa sih yang diinginkan anak remaja dari orang tuanya? Kalau selama ini kita sering meminta anak mendengarkan keinginan kita, sekarang saatnya kita juga mendengarkan apa yang mereka butuhkan.
Masa remaja adalah fase ketika anak mulai ingin mandiri, punya pendapat sendiri, dan belajar mengambil keputusan. Menurut UNICEF, komunikasi yang penuh empati dan kesediaan mendengarkan bisa membantu remaja merasa dipahami dan didukung.
Tulisan ini berangkat dari survei sederhana kepada remaja usia 14–17 tahun melalui bantuan anak-anak saya dan media sosial. Pertanyaannya hanya satu: apa yang diinginkan anak remaja dari orang tuanya?

Meminta anak membereskan kamar, tetapi kamar kita sendiri berantakan. Melarang anak bicara kasar, tetapi kita sendiri sering melakukannya. Bagi anak remaja, hal seperti ini bisa membuat mereka kesal dan malas mendengarkan nasihat orang tua.
Kita memang tidak harus sempurna, tetapi perlu menunjukkan bahwa kita juga mau belajar dan memperbaiki kesalahan.
“Paling sebal kalau pendapat saya nggak didengar atau kayak diremehkan, bikin nggak mood,” cerita salah satu remaja.
Kalaupun tidak setuju dengan pilihan anak, coba dengarkan alasannya dulu. Jangan langsung mematahkan pendapatnya atau menganggap mereka tidak mampu mengambil keputusan.
Anak bisa lelah kalau terus-menerus diminta share location, mengirim foto, atau melaporkan setiap aktivitasnya. Wajar kalau Mommies khawatir, tetapi anak juga perlu kesempatan untuk belajar bertanggung jawab.
Buat kesepakatan soal keselamatan dan kabar, lalu beri ruang bagi anak untuk membuktikan bahwa ia bisa menjaga kepercayaan tersebut.
BACA JUGA: 7 Cara Orang Tua Menjadi Safe Place untuk Anak Remaja
“Jangan hanya maunya didengar dan dituruti, tapi nggak mau dengar omongan anak.”
Luangkan waktu untuk ngobrol, bukan hanya saat anak melakukan kesalahan. Kadang, mereka cuma ingin bercerita tanpa langsung diberi nasihat. UNICEF juga menyarankan orang tua untuk menjadi pendengar aktif dan tidak buru-buru menghakimi.
BACA JUGA: Tips Berkomunikasi dengan Anak Remaja
“Ketuk pintu dulu saat mau masuk ke kamar.”
Menghargai privasi bisa dimulai dari hal sederhana, seperti mengetuk pintu dan tidak membuka ponsel anak sembarangan. Pengawasan tetap diperlukan, terutama terkait keamanan digital, tetapi sebaiknya disesuaikan dengan usia dan risiko yang dihadapi anak. APA menekankan pentingnya menyeimbangkan pengawasan dengan kebutuhan privasi remaja.
BACA JUGA: 10 Kesalahan Orang Tua Saat Berkomunikasi dengan Anak Remaja
“Kalau nilai aku bagus, dibilang ‘Begini dong anak Ayah’. Giliran nilai jelek, malah dibilang ‘Anak siapa sih kok kayak gini’.”
Mungkin maksudnya bercanda, tetapi anak bisa merasa hanya diterima saat berhasil. Tegur perilakunya jika salah, tetapi jangan sampai membuat anak merasa dirinya tidak berharga karena gagal memenuhi ekspektasi.
Kalau semua kesalahan berujung pada hukuman yang sama, anak bisa merasa aturan tidak adil. Berikan konsekuensi yang masuk akal dan berkaitan dengan kesalahan yang dilakukan. Jelaskan alasannya, bukan sekadar membuat anak takut.
Anak bisa bingung jika aturan berubah-ubah tergantung mood orang tua. Tetapkan batasan yang jelas dan sepakati bersama. Aturan boleh berubah seiring bertambahnya usia dan tanggung jawab anak, tetapi jelaskan alasannya.

Anak remaja juga ingin perasaannya dianggap penting. Saat mereka kecewa atau marah, hindari respons seperti, “Begitu saja kok sedih.” Coba dengarkan dan akui perasaannya terlebih dahulu, tanpa harus selalu menyetujui tindakannya.
BACA JUGA: Anak Menutup Diri dari Orang Tua: Mana yang Masih Normal dan yang Perlu Diwaspadai?
Tidak semua minat anak harus sama dengan keinginan kita. Selama kegiatannya aman dan tidak mengganggu tanggung jawab utama, beri kesempatan mereka mengeksplorasi hobi dan membangun pertemanan. Tunjukkan ketertarikan dengan bertanya, bukan langsung mengkritik.
Nilai bagus dan prestasi memang membanggakan, tetapi proses anak juga layak diapresiasi. Hargai ketika mereka sudah berusaha, berani mencoba, atau mau bangkit setelah gagal. Dengan begitu, anak tahu bahwa dukungan orang tua tidak hanya datang saat mereka menang.
Mommies, kita tentu tetap perlu membimbing dan menetapkan batasan. Namun, anak juga perlu merasa aman untuk menyampaikan pendapat, melakukan kesalahan, dan belajar memperbaikinya.
Menurut WHO, satu dari tujuh remaja berusia 10–19 tahun di dunia mengalami kondisi kesehatan mental. Hubungan keluarga yang suportif menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung kesejahteraan mereka.
Yuk, Mommies, mulai dengan bertanya kepada anak, “Ada nggak hal yang kamu harap Mama atau Papa bisa lakukan lebih baik buat kamu?” Setelah itu, dengarkan jawabannya sampai selesai. Kadang, hubungan yang lebih dekat dimulai dari kesediaan kita untuk mendengarkan.
Cover: