banner-detik
SEX & RELATIONSHIP

Indra Noveldy: Reprogramming Relationship, Memprogram Ulang Diri dan Hubungan Menuju Pernikahan yang Lebih Baik

author

Sisca Christina15 Jan 2023

Indra Noveldy: Reprogramming Relationship, Memprogram Ulang Diri dan Hubungan Menuju Pernikahan yang Lebih Baik

Reprogramming relationship adalah never ending journey yang wajib dilakukan setiap pasangan, kalau mau pernikahannya semakin bertumbuh.

Beberapa waktu lalu, saya melihat poster webinar dengan judul yang bikin penasaran: Reprogramming Relationship. Pembicaranya Bapak Indra Noveldy, seorang konsultan pernikahan yang banting stir dari profesi akuntan. Nggak tahu kenapa, rasanya topik ini menggilitik dan seru untuk dikulik. Nggak pakai lama, saya langsung kontak beliau untuk membuat janji wawancara.

Terminologi reprogramming relationship mungkin asing terdengar di telinga kita. Kalau mommies browsing mungkin belum banyak menemukan informasi tentang ini. Karena ternyata, istilah ini memang sengaja beliau buat untuk mempermudah kita beranalogi tentang bagaimana konsep hubungan tertanam di benak kita.

Berikut saya bagikan hasil wawancara saya dengan beliau. Baca sampai habis, ya.

Apa sebetulnya makna dari istilah reprogramming relationship?

Secara harafiah, reprogramming itu punya arti memprogram ulang dari program yang sudah ada sebelumnya. Biasanya, konsep hubungan dalam diri seseorang sudah terprogram melalui apa yang dia lihat dari hubungan orang tuanya. Kemungkinan besar, setiap orang memiliki “program” yang berbeda-beda berdasarkan hubungan yang dilihat dari orang tua masing-masing, yang terbentuk secara tidak sengaja.

Dua program yang berbeda, ketika sudah dipersatukan di dalam sebuah hubungan, seringkali programnya jalan masing-masing. Tidak menyadari harus membuat atau menjalankan program relationship yang seperti apa. Inilah kemudian yang sangat mungkin menimbulkan error atau crash. Bahkan, masing-masing bisa saja membawa “virus Trojan” dari program orang tuanya, misalnya perselingkuhan, pengabaian, abuse, dan seterusnya.

Banyak pasangan di usia pernikahan yang sudah lama, nggak menyadari bahwa mereka menjalankan relationship yang terbentuk secara tidak sengaja, bukan dibentuk dengan sadar. Kemudian, pasrah dengan hubungan tersebut. Ini yang berbahaya. Di sinilah pasangan perlu memprogram ulang hubungan (reprogramming relationship) dalam diri mereka, mengupdate dan mengupgrade diri agar masing-masing pasangan bertumbuh.

Jika demikian, berarti orang tua punya peran sangat besar dalam pembentukan program tentang hubungan dalam diri anak?

Betul sekali. Orang tua adalah “programmer” utama dari anak mereka. Oleh karena itu, kita wajib menjalankan program hubungan dengan benar, supaya di dalam diri anak, hubungan itu bisa terprogram dengan benar. Orang tua wajib menjadi role model bagi anak.

Lalu, bagaimana caranya memprogram ulang hubungan? Terutama jika sudah rusak parah?

Sebelum memprogram ulang hubungan, kita terlebih dahulu harus memprogram ulang diri kita sendiri.

Pertama, ambil tanggung jawab penuh bahwa kita memang perlu untuk melakukan reprogramming relationship. Berhenti menyalahkan orang tua atau lingkungan karena nggak memprogram kita dengan baik. Sebab, nggak semua orang beruntung dibesarkan oleh orang tua yang bisa menjadi teladan. Tapi, tentu kita sekarang ingin anak kita juga terprogram dengan baik, kan?

Setelah itu, akui bahwa program kita saat ini error. Sadari apa kekurangan kita, kemudian perbaiki, bukan minta dimengerti.

Caranya, dengan banyak mencari ilmu: membaca buku, mencari informasi dan referensi, konseling, dan seterusnya.

Bagaimana jika seseorang sudah terlanjur programnya rusak, ingin membenahi diri, namun tentu butuh waktu, kemudian ada kemungkinan juga terdapat sisa kerusakan?

Prinsipnya: saya mau berubah, saya mau bertumbuh, saya mau memperbaiki diri. Jika dalam perjalanannya masih ada kekurangan atau kelalaian, harus bersedia ditegur, tapi dengan cara yang enak tentunya. Bila perlu, sepakati cara menegur, bikin SOPnya, supaya kita bisa menerima teguran.

Berarti kuncinya mau berubah?

Betul. Berhati-hatilah dengan belief yang dipilih. Jika memiliki belief: orang nggak bisa berubah, atau masih denial, ya sudah, selesai, diprogram seperti apapun tidak akan jalan. Namun jika memiliki belief: orang bisa berubah, itu bisa di-reprogramming, asalkan mau.

Bagaimana jika kita sadar kalau kita perlu memprogram ulang hubungan, tapi pasangan tidak sadar?

Bertumbuhlah sedemikian rupa sehingga pasangan bisa melihat perubahan kita. Artinya, kita perlu naik kelas cukup banyak agar pasangan mau mendengarkan kita. Jadilah pribadi yang berkualitas, yang omongannya didengar oleh pasangan. Ubah mindset bahwa pasangan yang harus berubah lebih dulu.

Oya, jangan lupa, kita juga harus bersedia bayar harga. Kalau kita mau berjuang, mau mengupgrade diri, toh hasilnya untuk kita juga.

Ketika kita menyadari program kita rusak dan mau melakukan reprogramming relationship, apakah perceraian bisa dihindari?

Sangat bisa diminimalisir.

Bagaimana kita tahu bahwa kita sudah berhasil me-reprogram relationship kita?

Untuk tahu apakah reprogramming relationship yang kita lakukan sudah benar atau belum, kita perlu tahu parameternya. Ilmu-ilmu yang kita pelajari bisa dijadikan parameter. Nggak bisa berdasarkan perasaan aja.

Apa esensi dari reprogramming relationship?

Repetisi. Sesuatu yang dilakukan berulang-ulang, lama-lama akan terinstall programnya di dalam diri. Harus sabar dalam prosesnya. Lalu apakah ketika kita sudah berubah lebih baik, semua sudah selesai? Tentu tidak. It’s a never ending journey.

Gimana, gimana, sudah tertohok belum?

Baca juga: Indra Noveldy: Target Saya Menurunkan Angka Perceraian

Share Article

author

Sisca Christina

Ibu dua anak yang berprofesi sebagai digital nomad, yang juga suka menulis. Punya prinsip: antara mengasuh anak, bekerja dan melakukan hobi, harus seimbang.


COMMENTS