Now Reading
Saskhya Aulia Prima: Jangan Pernah Takut Untuk Memulai dari Nol

Saskhya Aulia Prima: Jangan Pernah Takut Untuk Memulai dari Nol

saskhya aulia prima

Saskhya Aulia Prima percaya bahwa semua hal bisa berhasil, bahkan ketika dimulai dari nol. Kuncinya adalah konsisten dan tak pernah berhenti berusaha.

Meski kondisi pandemi kembali membuat ruang gerak terbatas, hal itu justru dirasakan berbeda oleh Saskhya Aulia Prima, Psikolog Anak dan Co-Founder TigaGenerasi. Diakui wanita 33 tahun itu kalau dirinya tetap memiliki banyak kegiatan dan aktif bekerja sambil tak melupakan tugas utamanya sebagai ibu rumah tangga. Dia pun sudah mulai bisa beradaptasi dengan pekerjaan yang dilakukan secara online.

“Di tahun 2020 aku lebih pusing karena harus transisi ke online, tetapi setelah melalui tahun 2021, sekarang aku merasa sepertinya lebih pusing kalau harus kembali ke offline. Aku sudah menikmati online,” aku Saskhya saat berbincang dengan Mommies Daily. “Itu karena ada beberapa jadwal yang sepertinya nampak lebih fleksibel jika dilakukan online. Sedikit blessing in disguise karena sekarang ada pekerjaan yang harus tetap dilakukan online.”

Kepada Mommies Daily, Saskhya Aulia Prima pun berbagi kisah perjalanan karier serta bisnis yang dirintisnya. Dia juga membagikan beberapa bias yang pernah dialaminya selama berkarier. Intip kisahnya di bawah ini!

BACA JUGA: 25 Kursus untuk Ibu Bekerja, Cocok untuk Menambah Daya Saing

Apa cita-cita menjadi seorang psikolog anak adalah cita-cita kamu?

Sebenarnya minat untuk menjadi seorang psikolog itu muncul sejak aku usia 14 tahun. Sejak kecil aku suka sekali anak kecil karena aku anak tunggal sampai memiliki adik di usia 9 tahun. Ketika memikirkan bagaimana caranya, papa aku yang punya bisnis di bidang pendidikan merekomendasikan satu area, yaitu psikologi.

Setelah S1 sebenarnya aku tidak langsung lanjut S2 untuk jadi psikolog, melainkan kerja jadi HR di sebuah perusahaan multinasional. Sebagai HR di sana aku bertemu banyak SDM dari universitas-universitas ternama yang ternyata secara karakter tidak bisa diterima. Mereka tidak punya tujuan, tidak punya daya saing, sementara di dunia kerja persaingan semakin ketat.

Aku melihat ada pola pikir yang salah dan harus dibenahi, dan caranya harus dari bawah, yaitu ketika di masa anak-anak. Akhirnya karena gemas melihat itu aku putuskan untuk lanjut S2 ambil area klinis anak. Tujuan tentu saja ingin membentuk anak-anak menjadi SDM yang berkualitas di masa depan.

Sebagai psikolog anak yang juga seorang ibu, apa bagian terberat dalam pengasuhan anak?

Mungkin ini jebakan expertise kali, ya. Di awal punya anak aku itu paniknya kayak dua kali lipat dalam memperhatikan apakah semua milestone anakku sudah tercapai. Apa anak aku sudah di jalur yang tepat atau belum, sesuai dengan apa yang sudah aku pelajari selama ini. Itu terjadi terus menerus.

Salah satu contohnya itu, dalam ilmu psikologi anak itu tersenyum di rentang usia 6-10 minggu. Anakku berlum tersenyum memasuki usia itu. Aku jadi overthinking dan panik. Akhirnya anak aku memasuki usia 10 minggu baru tersenyum. Sampai sekarang aku masih terbeban dengan hal-hal seperti ini. Aku jadi belajar kalau hal-hal yang kita tahu secara ilmu itu belum tentu sama dengan kenyataannya.

Sebagai orang tua juga kita harus bisa terima dan mengikhlaskan beberapa hal. Satu contohnya lagi ketika memilih sekolah anak. Cita-cita ingin sekolahin anak di tempat yang fit sama semua kriteria tapi ternyata gak ada yang 100 persen sesuai. Jadi ibu itu seperti pelajaran yang bermakna banget dan aku belajar menyeimbangkan itu.

Untuk menjaga pengasuhan anak dan self care aku berjalan seimbang, aku selalu olahraga 5-6 kali seminggu dan menjaga pola makan. Pokoknya aku atur agar keduanya bisa berjalan tanpa ada yang tertinggal. Ketika sudah burnout aku berusaha mendelegasikan pekerjaan yang bisa diwakilkan dan kemudian melakukan hal-hal sederhana yang membuat aku bahagia, seperti olahraga dan nonton drama Korea.

Selain jadi psikolog, kamu sekarang juga seorang content creator dan entrepreneur. Kenapa memutuskan untuk mengambil langkah itu?

Besar dari seorang ibu yang bekerja tapi tetap bisa memiliki waktu untuk pendidikan anak, aku akhirnya ingin menjadi sosok yang serupa. Bahkan aku ingin bisa membantu anak dalam jumlah banyak, bukan hanya anak aku sendiri. Aku melihat pekerjaan yang bisa punya waktu yang fleksibel untuk melakukan itu adalah yang berhubungan dengan praktik.

Ternyata saat meresmikan klinik TigaGenerasi di tahun 2015 itu aku sadar kalau pekerjaan ini tidak hanya duduk dan menunggu pasien datang. Ada manajemen di sana, operation, sampai perpajakan. Jadi jiwa entrepreneurship ini tumbuh dengan sendirinya.

Karena aku tipe orang yang mudah bosan mengerjakan satu hal dan tidak bisa diam, ditambah aku semakin punya banyak keinginan dan cita-cita, akhirnya mulailah aku dan partner membuka bisnis Blessverage Premium Kefir juga.

BACA JUGA: Kenali Tanda-Tanda Diskriminasi Gender di Dunia Ibu Bekerja

Apa tiga dukungan terpenting yang paling dibutuhkan oleh ibu bekerja?

Buat aku dukungan itu tidak ada urutannya karena semuanya sama-sama utama dan penting. Salah satunya itu dukungan suami. Karena dia sudah kenal aku sejak kuliah dan tahu seberapa aktifnya aku. Dia memberikan kebebasan aku untuk berkarier dengan tetap menjalankan kewajiban aku sebagai istri dan ibu.

Kebetulan dia sekolah bisnis dan bekerja sebagai product manager, jadi dia justru sering memberikan masukan ketika aku membutuhkan itu dan tidak segan untuk ikut turun membantu. Begitu juga dalam pengasuhan anak. Kalau aku sibuk dan dia punya waktu, anak dia yang pegang.

Dukungan dari teman dan partner kerja juga penting. rekan-rekan bisnis aku semuanya baik banget. Kami berbagi pekerjaan sesuai dengan kemampuan dan kelebihan masing-masing. Untungnya, skill kami berbeda-beda sehingga bisa saling melengkapi dan bekerja sesuai porsi.

Satu lagi lebih ke doa atau koneksi spiritual. Berdoa itu ada pengalaman psikologis di aku. Karena aku manusia dan juga butuh bantuan, sekuat tenaga aku berusaha tapi akhirnya aku serahkan saja ke Tuhan bagaimana aku bisa terbantu menjalani situasi tertentu.

Pernah menemukan bias di lingkungan atau tempat kerja, gak?

Pernah. Ketika aku menjalani profesi di area parenting dan edukasi tapi belum memiliki anak. Mungkin untuk beberapa pihak yang kerjasama hal ini dianggap sebagai flaw. Hal itu dianggap mengurangi kapasitas aku as a person dan terlihat seperti kurang pengalaman. Itu pernah diucapkan sendiri, baik secara diam-diam atau secara langsung.

Ada juga bias yang datang dari sesama ibu-ibu. Contohnya ketika aku buat konten edukasi di TikTok, aku dinilai belum kompeten karena dianggap belum punya anak sampai dianggap sosok ibu previllage. Tapi aku sadar kalau apapun yang kita buat pasti ada hal yang memancing ketidaksukaan orang lain.

Aku juga melihat ketika ada orang yang sampai marah karena suatu konten, termasuk konten aku, di sosial media, bisa jadi orang tersebut punya masalah yang terkait dengan isi konten itu sehingga merasa tersinggung. Jadi, aku selalu balas komentar-komentar tersebut dengan baik.

Apa tips untuk ibu lainnya di luar sana yang ingin memulai karier atau usaha? Dan bagaimana tips untuk menyeimbangkan dengan tumbuh kembang anak?

saskhya aulia prima

Saran aku mulai saja. Mungkin ada ketakutan dari para ibu untuk kembali bekerja setelah dirasa sudah terlalu lama mengurus anak. Coba temukan hal yang sedang disukai. Jika takut untuk terjun langsung, coba riset dulu dan banyak baca informasi. Untuk menunjang kredibilitas dan rasa percaya diri, bisa juga ambil sertifikasi yang berhubungan dengan area yang diminati.

Kadang orang berpikir memulai bisnis itu harus ada modal dan harus langsung gede. Mungkin dalam beberapa kasus ada yang seperti itu, tetapi ada juga yang bisa dibangun dari nol. Aku dan rekan-rekan juga membangun Tiga Generasi tanpa punya apa-apa, tapi kami mulai dulu dan berusaha dulu. Kuncinya adalah konsistensi dan terus mencoba.

Kalau untuk tips seimbangkan tumbuh kembang anak, mungkin mulai sekarang jangan terlalu kaku memikirkan work life balance. Susun dulu prioritas utama apa dan sesuaikan waktu kerja tanpa menggangu prioritas utama. Selain itu jangan ragu minta bantuan, baik ART hingga orang tua atau mertua. Mereka itu suporter kita, bukan musuh.

Menurut aku sebaik-baiknya ibu itu adalah ibu yang belajar dan berusaha sebisa mungkin memberikan interaksi positif dengan anak. Untuk bisa melakukan itu tentu harus jadi pribadi yang bahagia dulu. Ketika kita bahagia hanya dengan berinteraksi 24 jam bersama anak dan keluarga tidak masalah. Jika kita mau belajar sesuatu yang baru di luar peran sebagai ibu dan itu membawa kebahagiaan, maka lakukan.

BACA JUGA: 8 Pilihan Usaha Sampingan di Rumah yang Bisa Dicoba

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top