Now Reading
Bipolar pada Anak: Gejala, Pencegahan dan Cara Menanganinya

Bipolar pada Anak: Gejala, Pencegahan dan Cara Menanganinya

Kenali gangguan emosi pada anak-anak sejak dini. Sebab, itu bisa mengarah ke bipolar pada anak atau perubahan ekstrem pada suasana hati.

Dulu, nama istilah bipolar ini tidak begitu akrab di telinga. Ciri-ciri yang kasat mata adalah yang orang yang mengalaminya bisa tiba-tiba marah lalu kembali tenang dalam jangka waktu yang relatif singkat. Agak mengerikan memang, tapi hanya orang terdekat yang dapat berperan sebagai support system-nya yang harus ekstra mengerti, selain kesadaran pasien yang harus rutin berobat ke psikiater tentunya.

Dalam dunia kedokteran bipolar juga dikenal dengan istilah peristiwa manik depresif, ditandai dengan perubahan ekstrem pada suasana hati (mood), pikiran energi dan perilaku. Pergantian mood seseorang dapat terjadi antara “kutub” manik dan depresif yang sering bersifat fatal dan menyebabkan kecelakaan. Tidak ada penyebab tunggal pada gangguan bipolar, sebaliknya banyak faktor yang kemungkinan saling memengaruhi sehingga menghasilkan gangguan ini atau yang meningkatkan risiko.

BACA JUGA: Hubungan Antara Kecanduan Seks dan Gangguan Bipolar

Gejala bipolar pada anak

Gangguan bipolar ini sering berkembang di akhir masa remaja seseorang atau dewasa awal. Setengah dari kasus bipolar ditemukan pada orang-orang di bawah usia 25 tahun. Namun, ada juga yang memiliki gejala pertamanya saat masih anak-anak.

Nah, sebagai orang tua, jika ingin mencari tahu lebih jauh tentang bipolar pada anak-anak, Dr. dr Nurmiati Amir, Sp. KJ(K) dari Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI dan RSUD Dr. Ciptomangunkusumo mengatakan, yang terpenting adalah mengenali gejala-gejala yang sudah bisa terlihat pada anak, bahkan sedari bayi. Apalagi jika ada faktor keturunan.

“Sebenarnya bipolar ini bisa dilihat sejak bayi, artinya bayi itu mood-nya juga berfluktuasi. Nanti dia menangis, nanti dia kembali senang, waktunya tidur juga mungkin dia tidak tidur akibat mood-nya tadi yang berfluktuasi. Nah, itu kemungkinan kita bisa menduga, apalagi kalau ada faktor keturunan yang juga bipolar–ini harus waspada,” jelas dr. Nurmiati.

Mengenai faktor keturunan, dr. Nurmiati mengingatkan, itu akan terlihat lebih dini pada anak perempuan. Biasanya di usia belasan tahun, ia akan mulai terlihat depresi, suasana hati dan gerakan motoriknya berfluktuasi. Ini berbeda dengan ADHD yang biasanya terjadi secara terus menerus.

Penanganan

Sementara itu, untuk penanganan, dr. Nurmiati tidak menyarankan memberikan terapi obat, karena metabolisme tubuh bayi yang belum sempurna. Cara lain yang bisa ditempuh adalah dengan tidak melakukan atau memberikan stimulasi yang bisa menyebabkan suasana hati bayi atau anak berubah dengan signifikan.

“Orangtua bisa melakukan pendekatan-pendekatan, bagaimana misalnya tidak membuat bayi mengajak otaknya untuk tetap berfluktuasi. Misalnya melatih cara ibu berbicara kepada anak, cara ibu mengatasi emosi anak, tidak membiarkan anak terus menerus berada di emosi yang berfluktuatif. Melainkan cepat memberikan pertolongan, jadi tidak menstimulasi,” begitu kata dr. Nurmiati.

Maka dari itu, kita sebagai orangtua juga harus menata emosi terlebih dahulu sebelum menghadapi anak, jadi output yang keluar juga bisa baik. Bayangkan saja kalau anak nangis, lalu orangtua juga ikut crangky, bisa bubar jalan yang ada.

BACA JUGA: Saat Anak Menunjukkan Perilaku Tak Sesuai Gender, Ini yang Wajib Dilakukan Orang Tua

Pencegahan

Senada dengan dr. Nurmiati, Dr. dr. Margarita M. Maramis, Sp.KJ(K), Ketua Seksi Bipolar dan Gangguan Mood Lainnya PDSKJI (Perhimpunanan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) juga menitikberatkan pada gaya pengasuhan orangtua sebagai tindakan meminimalisir atau pencegahan gangguan bipolar ini.

Fluktuasi suasana hati pada bayi memang tidak bisa serta merta dianggap bipolar–baru sebatas dugaan, seperti kata dr. Nurmiati. Meski begitu, dr. Margarita mengungkapkan, apakah perubahan suasana hati yang cukup signifikan itu akan menjadi gangguan atau tidak di kemudian hari, tergantung dari pengasuhan orangtuanya.

“Yang perlu diperhatikan untuk bayi-bayi spesial seperti ini adalah gaya pengasuhan orangtua yang sebaiknya tidak membawa mood anak naik turun. Contohnya, kalau lagi marah, marah sekali, kalau lagi sayang, sayang sekali. Artinya ada pola esktrem yang ditunjukkan oleh orangtuanya,” paparnya lebih lanjut.

Untuk deteksi dini yang bisa Mommies lakukan, dr. Margarita menyarankan terapi General Movement. Menurutnya, ada satu dokter yang menekuni hal ini. Dia bisa mengetahui gejala-gejala tertentu dari gerak motorik anak, bagaimana gerakan-gerakan motoriknya bisa berpotensi menjadi gangguan emosi di kemudian hari – tidak hanya spesifik bipolar.

Semakin dini kita mendeteksi, maka kita bisa melakukan sesuatu seperti mencegah, apakah nanti akan berkembang menjadi gangguan mood atau tidak. Pada anak-anak ini, bagian otak yang mengatur emosi, lebih aktif dibanding yang memiliki fungsi berpikir. Itulah sebabnya mengapa akan berkembang menjadi gangguan jika kita tidak merawatnya secara khusus.

Pada akhirnya jika memang menemukan kejanggalan pada emosi anak, Mommies jangan sungkan konsultasi ke ahlinya, ya. Baik ke psikolog atau psikiater. Makin awal hal ini ditangani oleh ahlinya, maka makin mudah bagi mereka untuk membantu mengendalikan gangguan bipolar pada anak.

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top