5 Fakta Badai Sitokin yang Bisa Menyebabkan Kematian Pada Penderita Covid

News

dewdew・23 Aug 2021

detail-thumb

Pada beberapa kasus Covid, badai sitokin ternyata berperan besar dalam menyebabkan kematian. Berikut ini beberapa fakta  yang harus diwaspadai.

Ramai omongan mengenai badai sitokin yang dialami oleh Deddy Corbuzier yang nyaris membuatnya meninggal. Kondisi yang sama juga dialami oleh almarhum Raditya Oloan beberapa bulan lalu. Terkadang yang suka bikin orang bertanya-tanya adalah, mengapa virus Covid pada sebagian orang hanya menyebabkan sakit ringan, sementara pada sebagian lainnya bisa berakibat fatal, hingga mengakibatkan kematian? 

Dilansir dari situs resmi Webmd dalam banyak kasus berat atau kematian, yang terjadi adalah sistem kekebalan tubuh justru menyebabkan infeksi, bukan karena melawan virus Covid. Itulah kenapa banyak kasus Covid, sudah dinyatakan negatif dari Covid, tapi tak lama kemudian meninggal. Nyatanya pada beberapa penderita Covid, darah mereka penuh dengan protein sistem kekebalan tingkat tinggi yang disebut badai sitokin. Berikut ini fakta tentang badai sitokin yang perlu mommies tahu. 

Sitokin adalah respons kekebalan tubuh

Pada dasarnya sitokin adalah bukti dari respons kekebalan tubuh. Merupakan protein yang mengomunikasikan sinyal tubuh untuk merespons infeksi. Ketika tubuh terluka atau terinfeksi, sitokin diproduksi, yang kemudian memicu peningkatan aliran darah yang membawa protein plasma dan sel darah putih ke tempat cedera untuk menangkis infeksi atau virus yang menyerang tubuh.

Pemicu badai sitokin

Badai sitokin muncul disebabkan oleh kondisi respons imun tubuh berlebihan, umumnya dipicu oleh infeksi. Jika respons berlebihan pada sistem imun, maka akan terjadi hiper inflamasi.

Gejala badai sitokin

Orang yang mengalami kondisi ini biasanya akan merasakan demam hingga menggigil, lelah, serta bisa disertai dengan mual dan muntah. Selain itu, gejala yang muncul bisa nyeri otot dan persendian, sakit kepala, batuk, hingga muncul ruam pada kulit. Napas pun terasa sesak dan cepat. Kejang, gemetar, kesulitan mengkoordinasikan gerakan, bingung dan berhalusinasi, lesu, juga merupakan beberapa gejala yang ditimbulkan oleh cytokin storm ini.

Mengakibatkan penggumpalan darah

Pada studi yang dipublikasikan oleh Mediators of Inflammation disebutkan bahwa badai sitokin bisa jadi menyebabkan penggumpalan darah. Hal ini disebabkan oleh protein yang diproduksi hati. Dampaknya adalah organ-organ tubuh akan kekurangan oksigen dan nutrisi yang berpotensi pada kegagalan multi organ. Progresi penyakit pun berujung pada cedera paru-paru akut, sindrom pernapasan akut, hingga kematian. 

Baca juga: Cuci Hidung Bisa Cegah Covid? Ini Faktanya!

Terjadi juga pada penyakit lain

Bukan hanya pada penderita Covid, badai sitokin diketahui terjadi pada penyakit autoimun tertentu. Kondisi ini juga bisa terjadi pada proses pengobatan beberapa jenis kanker, dan dapat dipicu oleh infeksi, seperti flu. Satu studi terhadap pasien yang meninggal karena influenza H1N1, misalnya, ditemukan bahwa 81% penderita memiliki ciri-ciri badai sitokin. Badai yang juga dikenal dengan nama Cytokin storm ini juga menjadi salah satu penyebab utama kematian selama pandemi Flu Spanyol tahun 1918.

4 organ yang terdampak

Ada 4 organ tubuh yang paling terdampak. Yang pertama adalah jantung. Punya atau tidak punya riwayat penyakit jantung, sangat mungkin jantung mengalami kerusakan akibat cytokin storm selama infeksi virus Corona. Sitokin ini juga memengaruhi perkembangan miokarditis (inflamasi jantung) dan perikarditis (iritasi dan peradangan jantung) pada pasien COVID-19.

Selain jantung, organ yang dipengaruhi oleh badai sitokin adalah paru-paru. Kondisi ini bisa menyebabkan cedera paru progresif. Selain itu, kerusakan paru lainnya juga bisa disebabkan karena apoptosis sel epitel paru yang diinduksi oleh sitokin. Ginjal juga merupakan organ yang cedera hipoperfusi pada tubulus ginjal akibat kondisi ini, ditambah dengan peningkatan permeabilitas vaskular dan kardiomiopati yang bisa menyebabkan berkembangnya sindrom kardio ginjal tipe 1. Dalam beberapa kasus Covid 19, gejala neurologis seperti sakit kepala, ataksia dan kejang menjadi bukti bahwa badai sitokin memengaruhi juga pusat sistem pusat saraf.

Image by Freepik

Baca juga: Covid 10 Kali Lebih Berisiko Pada Down Syndrome