7 Hal yang Wajib Dimiliki Anak, Sudahkah Anak Kita Memilikinya?

Kids

Ficky Yusrini・13 Jul 2021

detail-thumb

Di tengah ketidakmenentuan dunia di masa depan, ada 7 hal yang wajib dimiliki anak yang akan membuat mereka lebih siap. Di antaranya, bahagia dan mencintai diri sendiri.

Di antara teori-teori parenting yang bertebaran, ada banyak sekali yang hal yang perlu diketahui oleh para orangtua masa kini. Mengandalkan pola yang sudah diajarkan orangtua kita saja tidak akan cukup, sebab zaman berubah, teknologinya berbeda, ilmu psikologi juga terus berubah.

Dari sekian banyak hal, 7 ini adalah beberapa yang penting wajib dimiliki anak

Bahagia

Photo by Gabriel Baranski on Unsplash

Bagaimana caranya menumbuhkan anak bahagia? Anak yang dicintai akan tumbuh menjadi anak yang bahagia. Meminjam konsep dari Gary Chapman, anak akan bahagia apabila sedari kecil dipenuhi tangki cintanya. Selama tangki cintanya tidak diisi penuh, mereka tidak akan merasa dicintai.  Gary membagi tangki cinta ini menjadi 5, antara lain:

1. Pelayanan. Bisa juga diartikan dengan perhatian.

2. Waktu yang berkualitas, yang kita curahkan.

3. Hadiah. Berupa pemberian ataupun kejutan.

4. Sentuhan fisik. Biasanya anak-anak dengan tipe kinestetik membutuhkan ekspresi sayang berupa pelukan, sentuhan pundak atau punggung.

5. Kata - kata pendukung. Ada tipe anak yang membutuhkan ekspresi sayang lewat kata-kata dalam proses komunikasi yang sifatnya memotivasi dan mengapresiasi sehingga dia akan merasa aman, dipercaya, dan berharga.

BACA JUGA: 7 TANDA ANAK BAHAGIA YANG PERLU DIMILIKI ORANG TUA

Percaya diri

Rasa percaya diri tidak bisa diberikan sebab munculnya dari dalam. Selama ini banyak orang menganggap, sering-sering memberi pujian bisa mendongkrak rasa percaya diri anak. Padahal tidak demikian. Pujian bisa menjadi iming-iming yang salah, mengajari anak untuk melakukan hal baik hanya demi pujian. Hal yang dibutuhkan oleh anak kemampuan untuk menangani pasang surut kehidupan. Mereka perlu belajar bagaimana ‘memulihkan’ kepercayaan diri saat dikritik, menghadapi bully, membela harga diri, dan kemampuan untuk bangkit saat terpuruk.

BACA JUGA: BANGUN RASA PERCAYA DIRI YANG SEHAT PADA ANAK

Mencintai diri

Photo by Content Pixie on Unsplash

Apa yang akan terjadi ketika seorang anak tumbuh di lingkungan yang sering berkata-kata kasar, tiap hari dimaki-maki dan dicela oleh orang yang mereka cintai? Mereka akan mempercayainya dan kehilangan kemampuan untuk mencintai diri sendiri. Mengajarkan anak untuk mencintai diri juga dengan cara mengedukasi mereka tentang tubuh, bagaimana merawat diri sendiri, dan hukum kesehatan.

BACA JUGA: 10 ALASAN SULITNYA MENCINTAI DIRI SENDIRI

Kemandirian

Dalam proses perkembangan dari anak menjadi remaja, perlahan-lahan anak akan mengurangi ketergantungannya pada orangtua. Di sinilah peran orangtua agar untuk memberikan kesempatan pada anak melayani diri mereka sendiri dan menjadi orang yang bisa mengandalkan diri sendiri. Anak yang memiliki self-reliance inilah yang memungkinkan tumbuh menjadi insan yang punya rasa tanggungjawab sosial dan berkontribusi pada dunia.

Punya Kehendak (Will)

Mengokohkan kehendak adalah salah satu tujuan besar pendidikan. Sayangnya kebanyakan orang menjalani hidup tanpa pernah mengenali kehendak dan membuat tindakan berkehendak. Kebiasaan, konvensi, adat istiadat, itulah yang mengatur hidup kita dari bangun tidur, berpakaian, sarapan, bekerja, hingga urusan bersenang-senang, tanpa pernah memilih berbeda. Merujuk teori tokoh pendidikan Charlotte Mason, anak perlu diajari tentang hukum kehendak dan jalannya kehendak. Esensi dari kehendak, fungsinya adalah untuk memilih dan membuat keputusan. Semakin kita tidak berani memutuskan, semakin lemah kekuatan kehendak kita.

Kebiasaan baik

“We are what we repeatedly do,” kata Aristotle. Sejarawan Amerika Will Durant menambahinya dengan kata, “We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit.” Quote ini mengandung pesan yang sangat kuat, jika kamu ingin berubah, maka ubahlah perilakumu. Dimulai dari menanamkan kebiasaan baik.

Compassion

Diterjemahkan sebagai belas kasih, perasaan simpati yang mendalam untuk orang lain yang sedang kesusahan, dan keinginan untuk meringankan beban tersebut. Mengajarkan belas kasih kepada anak-anak adalah bagian penting untuk bekal sepanjang hidup mereka. Melalui belajar pentingnya kasih sayang, anak-anak akan belajar bagaimana bersikap baik kepada diri mereka sendiri dan orang lain, serta membantu mereka yang membutuhkan. Compassion juga akan menggerakkan mereka membuat keputusan yang menginspirasi perjalanan hidup dan pilihan dalam mengejar purpose hidupnya.

Photo by Ramin Talebi on Unsplash