banner-detik
SELF

5 Jenis Vaksin Covid-19 yang Beredar di Indonesia. Apa Saja Perbedaannya?

author

dewdew25 Jun 2021

5 Jenis Vaksin Covid-19 yang Beredar di Indonesia. Apa Saja Perbedaannya?

Kenali jenis vaksin Covid-19 yang saat ini beredar di Indonesia. Meski kita nggak bisa pilih-pilih jenisnya, nggak ada salahnya mengetahui perbedaannya.

Demi mencapai herd immunity alias kekebalan kelompok terhadap pandemi Covid-19, vaksin jadi salah satu cara terefektif saat ini, tentunya ada syaratnya. Syarat untuk mencapai kekebalan kelompok dalam suatu negara, minimal 70% rakyatnya harus sudah divaksin. That’s why pemerintah lagi ‘galak-galaknya’ mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mau divaksin. Untuk itu, yuk kenali jenis vaksin Covid-19 yang saat ini beredar di Indonesia. Meski kita nggak bisa pilih-pilih jenis vaksin yang tersedia, nggak ada salahnya kita mengetahui perbedaan masing-masing jenis, ya, kan?

Vaksin Sinovac

Teknologi vaksin Sinovac memanfaatkan virus SARS-COV-2 alias virus Corona yang telah dimatikan (inactivated). Hal ini dilakukan dengan tujuan memicu respons imun kita. Metode ini sebenarnya sudah terbukti efektif dan telah digunakan dalam pengembangan vaksin lain, seperti vaksin flu dan vaksin polio. Efikasinya sendiri di Indonesia berdasarkan riset mencapai sekitar 65%. Nilai efikasi bisa berubah, ya, mommies, karena sampai saat ini riset masih terus dilakukan. Sementara WHO menyebut bahwa Sinovac memiliki nilai efikasi 51% mencegah kasus COVID-19 bergejala pada mereka yang berusia 18 tahun ke atas. 

Sinovac baru mendapat validasi dari WHO tanggal 1 Juni 2021, sehingga bisa dipastikan vaksin Sinovac aman, teruji mutunya, dan terbukti khasiatnya. Dengan diterbitkannya Emergency Use Listing (EUL), melalui Kemenkes, pemerintah meyakini bahwa WHO memastikan vaksin Sinovac telah memenuhi standar internasional. Standar tersebut adalah untuk keamanan, efikasi, dan pembuatan. Sinovac sendiri sudah melewati uji klinis tahap ketiga dan digunakan lebih dari 20 negara di dunia.

Photo by Ivan Diaz on Unsplash

Klik halaman selanjutnya untuk informasi vaksin AstraZeneca

Vaksin AstraZeneca

Kalau vaksin Sinovac menggunakan virus tidak aktif (inactivated virus), vaksin AstraZeneca menggunakan vektor adenovirus simpanse. Virus adeno hidup (adenovirus) pada vaksin AstraZeneca ini dimodifikasi sebagai 'pengirim' protein khusus. Protein tersebut akan menginstruksikan sel tubuh untuk memproduksi sebagian kecil dari virus Corona yang kemudian memicu respons imun. Tak usah khawatir mommies, adenovirus dikenal sebagai virus yang tidak berbahaya.

Efikasinya sendiri adalah sekitar 76% mencegah kasus COVID-19 bergejala. Dikutip dari akun Instagram dr. Adam Prabata, saat ini penelitian menemukan bahwa vaksin AstraZeneca terbukti menurunkan risiko penularan Covid-19 meskipun baru satu kali dosis. Waktu pemberian dosis pertama dan kedua berjarak 8 - 12 minggu untuk mendapatkan hasil terbaik. Meski begitu, KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) dari vaksin AstraZeneca ditengarai lebih berat dibanding vaksin lain. Itulah sebabnya masyarakat yang mendapatkan vaksin AstraZeneca ini harus segera melapor ke petugas medis jika mengalami KIPI berikut ini:

  • Sesak nafas
  • Nyeri dada
  • Kaki membengkak
  • Nyeri perut yang dirasakan terus-menerus
  • Gejala neurologis seperti nyeri kepala berat, penglihatan kabur, atau mengalami skin bruising, yang meluas di sekitar tempat penyuntikan beberapa hari setelah divaksin.
  • Baca juga: Kenali KIPI (Kejadian Pasca Ikutan Imunisasi) Setelah Divaksin Covid-19.

    Dari hasil evaluasi European Medicines Agency (EMA), ditemukan adanya hubungan kuat antara kejadian pembekuan darah dengan penggunaan vaksin AstraZeneca. Namun kondisi sangat jarang terjadi. Persentase kejadiannya sangat kecil, sehingga vaksin Astrazeneca tetap diperbolehkan untuk diberikan sebagai langkah pencegahan penularan Covid-19.

    Klik halaman selanjutnya untuk informasi vaksin Pfizer

    Vaksin Pfizer

    Vaksin Pfizer yang dinamakan BNT162b2 ini merupakan vaksin hasil kerjasama perusahaan bioteknologi asal Jerman, BioNTech dengan perusahaan farmasi Amerika, Pfizer. Mulai tahun 2020 dikembangkan berbasis teknologi messenger RNA (mRNA). Teknologi ini akan memicu tubuh membentuk spike protein untuk menciptakan antibodi melawan virus Covid-19.

    Efikasi vaksin Pfizer, seperti yang dikutip dari laman CDC (Center for Disease Control and Prevention), adalah sebesar 95% efektif mencegah penularan Covid-19. Kenyataan ini berdasarkan bukti uji klinis pada orang berusia 16 tahun ke atas. Vaksin ini juga efektif mencegah COVID-19 pada remaja berusia 12-15 tahun. Vaksin Pfizer menjadi vaksin pertama di Amerika Serikat yang mendapat izin penggunaan pada anak. Saya jadi ingat seorang teman (domisili Dubai) bercerita bahwa anak yang berusia 12 tahun hanya boleh divaksin Pfizer di sana.  Efek samping dari vaksin Pfizer adalah sebagai berikut, biasanya berlangsung beberapa hari adalah:

  • nyeri di area suntikan
  • lelah
  • sakit kepala
  • nyeri otot
  • menggigil
  • nyeri sendi
  • demam.
  • Berbeda dengan vaksin AstraZeneca, setelah divaksin Pfizer dosis kedua, lebih banyak orang mengalami efek samping di atas. 

    Baca juga: Hal yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan Setelah Vaksin Covid-19

    Klik halaman selanjutnya untuk informasi vaksin Sinopharm

    Vaksin Sinopharm

    Sama-sama diproduksi oleh perusahaan farmasi China, seperti Sinovac, vaksin Sinopharm juga dikembangkan dengan menggunakan virus yang telah dimatikan (inactive virus).  Vaksin yang diproduksi oleh Beijing Bio-Institute Biological Products Co. sebagai salah satu unit dari Sinopharm, anak perusahaan dari China National Biotech Group (CNBG) ini di Indonesia didaftarkan dan didistribusikan oleh PT Kimia Farma Tbk. dengan nama SARS-COV-2 VACCINE (VERO CELL) INACTIVATED. Vaksin Sinopharm memiliki efikasi sebesar 78,02% berdasarkan uji klinis fase 3 dan dilakukan pada lebih dari 42.000 subjek di Uni Emirat Arab dan beberapa negara. 

    KIPI alias Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi dari Sinopharm tidak terlalu berat. Sebagian besar mereka yang divaksin merasakan KIPI ringan seperti:

  • bengkak dan sakit di area yang disuntik
  • kemerahan
  • Sementara efek samping sistemik yang sering dirasakan (walau jarang) adalah

  • sakit kepala
  • nyeri otot
  • diare
  • dan batuk
  • Interval antara dosis 1 dengan dosis 2 adalah 21-28 hari untuk efektif membentuk antibodi yang memberikan kekebalan melawan virus SARS CoV-2 dan mencegah COVID-19 pada orang dewasa di atas 18 tahun.

    Baca juga: Wajib Tahu: Vaksin Covid-19 Pada Anak

    Klik halaman selanjutnya untuk informasi vaksin Moderna

    Vaksin Moderna

    Jenis vaksin Covid-19 Moderna memiliki kemiripan dengan vaksin Pfizer. Keduanya sama-sama diproduksi di Amerika Serikat. Bedanya Moderna dikembangkan oleh Moderna and Vaccine Research Center at the National Institute of Allergy and Infectious Disease (NIAID). Seperti saudaranya, Pfizer, vaksin Moderna merupakan jenis vaksin mRNA (messenger RNA) yang menggunakan komponen materi genetik. Materi genetik inilah yang membuat sistem kekebalan tubuh memproduksi spike protein, lalu kemudian spike protein tersebut akan memicu sistem imun untuk menghasilkan antibodi yang bisa melindungi tubuh saat terinfeksi virus Corona.

    Efikasi vaksin Moderna adalah sebesar 94% menurut CDC (Center for Disease Control and Prevention). Kemungkinan vaksin Moderna akan mengakibatkan KIPI sebagai berikut:

  • Sakit, kemerahan, atau bengkak di area lengan yang disuntik
  • Kelelahan
  • Nyeri otot
  • Menggigil
  • Demam
  • Mual atau muntah
  • KIPI tersebut di atas dapat terjadi setelah 1 hingga 2 hari pascavaksinasi. Hal ini masih dianggap normal karena tubuh sedang membangun proteksi terhadap virus Covid-19 dan akan sembuh dengan sendirinya.

    PAGES:

    Share Article

    author

    dewdew

    Mother of Two. Blogger. Make-Up Lover. Skin Care Amateur. Beginner Baker. Entrepreneur Wannabe. And Everything in Between. www.therusamsis.wordpress.com

    banner-detik

    POPULAR ARTICLE

    banner-detik
    banner-detik

    COMMENTS