Now Reading
Tua dan Dewasa Itu Berbeda

Tua dan Dewasa Itu Berbeda

Mommies Daily

Ditulis oleh Gusyanita Carvianthy

Setiap mengingat usia, apa yang kita rasa? Semakin tua atau tetap merasa muda? Apa pun itu yang penting sebenarnya adalah, kita mampu bersikap dan berpikir dewasa. 

Seorang teman saya, yang usianya sepantaran dengan saya alias 40 sekian merasa sedih nggak karu-karuan karena patah hati. Patah hati yang dialami tak hanya membuat hatinya terluka, namun juga membuat hidupnya berantakan. Dia jadi sulit konsentrasi di pekerjaan, penampilan juga berantakan banget, pucat, rambut awut-awutan, duh gemas deh pokoknya saya melihatnya. Begitu curhat, dikasih masukan dan saran, malah sewot dan reluctant, menganggap kami teman-temannya tidak paham dan tidak sepemikiran dengan dirinya. Ya susah juga ya. Memang sih tidak sepemikiran, tapi kan minta saran, ya kami berikan dong, hehehe.

Paham kok patah hati itu tidak mengenal usia, namun di usianya yang tidak muda lagi, saya sebenarnya sedikit berharap dia mampu berpikir jernih setelah berbulan-bulan. Bukan kayak abege yang patah hati terus down nggak kelar-kelar hingga berbulan-bulan kemudian. Karena di usianya, dia sudah memiliki tanggung jawab lain kan yang harus diperhatikan, bukan sekadar urusan patah hatinya. Apa yang dia lakukan membuat saya berpikir, memang usia itu nggak bisa menentukan seseorang menjadi dewasa. 

Nggak bisa tuh bahwa oh masuk usia akhir 20-an, 30-an atau 40-an otomatis seseorang menjadi dewasa dan paham tanggung jawabnya. Paham mana yang harus didahulukan dan yang harus ditempatkan di belakang. Paham skala prioritas, dan sebagainya. Nggak, ternyata nggak berkaitan, hehehe.

BACA JUGA: 10 Hal yang Dicemaskan Oleh Usia 30-an dan 40-an

Banyak orang yang beranggapan bahwa dewasa dan menua itu sama. Toh sama-sama ditandai dengan bertambahnya usia. Namun sejatinya, menua dan dewasa adalah dua hal yang berbeda. Keduanya dipisahkan oleh garis tipis yang tak banyak orang sadari sebelumnya.

Menua belum tentu sudah dewasa. Tapi jika kamu sudah dewasa, bukti proses penuaan fisik dan pikiran tengah berjalan. Dewasa itu mau belajar, tidak egois, bisa bertanggung jawab atas semua tindakan, berpikir kedepan, bisa mengerti lingkungan, dan bisa mengerti mana situasi pada saat main-main ataupun serius dan yang jelas, dewasa itu tidak bisa didapat secara instan, tidak semudah Doraemon yang dengan mudah mengabulkan segala permintaan Nobita dengan mengeluarkan segala peralatan canggihnya dari kantong ajaibnya. Dewasa itu pembelajaran yang membutuhkan waktu.

Carroll Bryant, seorang penulis buku, berkata “Growing old is mandatory but growing up is optional.” Menjadi tua adalah pasti, tapi menjadi dewasa itu pilihan.

Semua orang pasti menua, tapi tidak semua orang menjadi dewasa pada saat bertambahnya usia. Kedewasaan tidak dilihat dari segi usia, karena yang menjadikan tolak ukur sebuah kedewasaan adalah kemampuan untuk memiliki pola pikir yang matang.

So… apabila saat ini, diumur yang cukup matang ini, masih tidak bisa mengendalikan diri, tidak berpikir dulu sebelum bertindak, tidak bisa berbesar hati menerima kritik, masih menyalahkan orang lain dan tidak dapat mengatasi diri sendiri untuk mencari solusi…

Selamat!! Anda HANYA menua s…tapi tidak bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa.

Again, it’ss your choice, menjadi tanggung jawab kalian untuk mengubah stigma tersebut. Kunci dari semua itu adalah kemampuan dan keinginan untuk terus berproses memperbaiki diri menjadi lebih baik, open minded serta berkeinginan untuk belajar dalam setiap prosesnya.

Jadi, mana yang akan Anda pilih?

Photo by Tiago Muraro on Unsplash

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top